JURNALPOST - Pembelajaran secara daring atau jarak jauh sudah di tetapkan pemerintah sejak tahun ajaran baru 2020/2021 pada tanggal 13 Juli lalu, namun nyatanya masih banyak sebagian siswa dan para orang tua yang mengeluhkan mengenai pembelajaran jarak jauh tersebut.
Walaupun pemerintah sudah memberikan kuota belajar bagi siswa dan guru di SD, SMP hingga SMA, nyatanya masih ada kendala lain yang menyebabkan mereka kesulitan melakukan pembelajaran secara daring. Seperti kurang pahamnya orang tua menggunakan gadget dan tidak bisa terus menerus memantau anaknya selama pembelajaran daring. Seperti yang terjadi di beberapa daerah di kawasan Subang, khususnya Pagaden.
Saya Nila Rasnilawati, Mahasiswa PGSD UPI Kampus Purwakarta yang sedang melaksanakan kegiatan KKN Tematik UPI di daerah Pagaden, mewawancarai salah satu orang tua siswa yang sedang melakukan pembelajaran daring, menurutnya pembelajaran daring ini dirasa kurang efektif, apalagi tidak banyak orang tua siswa yang bisa menggunakan gadget dan mendampingi anaknya dalam melaksanakan pembelajaran daring.
"Terkadang orang tua siswa ada yang tidak punya hp android, sinyal juga disini kadang jelek dan saya juga kurang mengerti mengenai belajar daring" kata Bu Nurlela (39) salah satu orang tua siswa Pada Senin (23/11/2020).
Karena dirasa kurang efektif nya pembelajaran daring bagi beberapa siswa, ada beberapa sekolah yang menerapkan sistem kelompok per wilayah untuk pembelajaran tatap muka sesuai dengan protokol kesehatan yang ada. Jadi guru akan mengunjungi salah satu rumah siswa untuk menyampaikan pembelajaran dan siswa yang mengikuti pun hanya siswa yang berada di wilayah tersebut sekitar 8-10 siswa. Diharapkan cara tersebut mampu mengatasi beberapa kendala siswa maupun guru dalam menangkap dan menyampaikan materi pelajaran ditengah pandemi saat ini.
Penulis : Nila Rasnilawati DPL : Dewi Indriati Hadi Putri, S.Pd., M.T.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda