Oleh : Syaira Salsabila
JurnalPost.com - Pertanyaan yang mungkin sering muncul di benak seseorang yang jarang atau bahkan tidak pernah diungkapkan. Ada penelitian tahun 2025 terhadap 276 orang dari 28 provinsi di Indonesia yang menemukan bahwa meskipun responden menggunakan media sosial sekitar 5-6 jam sehari, mereka tetap dapat mengalami perasaan terisolasi. Peneliti juga membahas paradoks antara semakin terlihat secara online tetapi semakin kurang autentik dalam menampilkan diri.
Bagaimana mungkin kitab isa merasa sendirian ketika hampir setiap hari dikelilingi oleh begitu banyak orang, baik secara langsung maupun melalui layar ?
Hari ini, berkomunikasi dengan orang lain menjadi jauh lebih mudah. Kita bisa hanya mengirim pesan dalam hitungan detik, mengetahui kegiatan teman kita sedang apa dalam unggahan sosial media, bahkan mengikuti kehidupan orang yang belum pernah kita temui secara langsung atau yang bias akita kenal “Teman Online”. Namun kemudahan tersebut tidak selalu membuat kita merasa lebih dekat.
Hal ini membawa kita pada sebuah pertanyaan sederhana, tetapi cukup dalam :
Kalau manusi sekarang bisa berkomunikasi dengan siapa aja, sebenarnya apa arti “terhubung” dengan manusia lain?
Banyak Interaksi, Belum Tentu Banyak Kedekatan
Media sosial pada dasarnya tidak lah sesuatu yang selalu buruk. Justru sebaliknya, teknologi memungkinkan kita untuk mempertahankan hubungan dengan keluarga, teman yang tinggal jauh, maupun orang-orang yang memiliki minat yang sama. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan kesepian tidak sesederhana “semakin banyak media sosial, semakin kesepian”. Pengaruhnya dapat berbeda tergantung pada bagaimana seseorang menggunakan media sosial dan seperti apa interaksi didalamnya.
Masalahnya mungkin bukan pada seberapa banyak orang yang ada di sekitar kita, melainkan pada seberapa bermakna hubungan yang kita miliki dengan mereka.
Bayangkan seseorang yang menghabiskan waktu berjam-jam melihat unggahan orang lain. Ia memberi likes, menonton stories, membaca komentar, bahkan sesekali ikut berkomentar atau membalas pesan. Secara teknis, ia sedang “bersosialisasi”. Namun setelah ponselnya diletakkan, ia masih bisa merasakan kekosongan yang sama.
Dari sini menunjukkan bahwa hubungan sosial tidak hanya membutuhkan kehadiran orang lain. Kita juga membutuhkan perasaan bahwa kita dilihat, dipahami, dan diterima sebagai diri kita sendiri.
Dalam psikologi, kesepian tidak selalu berarti seseorang benar-benar tidak memiliki orang lai. Kesepian lebih berkaitan dengan adanya kesenjangan antara hubungan sosial yang seseorang miliki dan hubungan sosial yang sebenarnya ia butuhkan. Karena itu, seseorang bisa saja memiliki ratusan bahkan ribuan teman atau pengikut secara daring, tetapi tetap merasa kesepian.
Ketika Kita Terlalu Sibuk Menampilkan Diri
Ada hal lain yang membuat hubungan di media sosial menjadi menarik : kita tidak hanya berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga terus-menerus menampilkan diri kita kepada orang lain.
Sebelum mengunggah sesuatu, kita mungkin memilih foto yang paling bagus, menghapus foto yang kurang sesuai, memikirkan caption, atau mempertimbangkan bagaimana orang lain akan memberikan respons. Tanpa disadari, media sosial dapat menjadi tempat untuk membentuk versi diri yang ingin kita tunjukkan kepada public.
Disinilah muncul pertanyaan tentang keaslian diri.
Apakah diri yang kita tampilkan secara daring benar-benar menggambarkan diri kita, atau hanya bagian tertentu yang kita rasa layak untuk dilihat orang lain?
Penelitian mengenai pengguna media sosial di Indonesia menyebut fenomena ini sebagai “authenticity visibility paradox” : seseorang dapat menjadi semakin terlihat secara daring, tetapi pada saat yang sama menampilkan dirinya secara semakin kurang autentik.
Kita mungkin memiliki banyak orang yang mengetahui bagaimana kehidupan kita terlihat, tetapi jauh lebih sedikit orang yang benar-benar mengetahui bagaimana kehidupan kita terasa.
Dan mungkin dari situlah salah satu bentuk kesepian modern muncul.
Perlu diketahui bahwa ternyata fenomena ini bukanlah hanya persoalan psikologi. Ia juga membawa kita pada pertanyaan filosofis yang sudah jauh lebih tua usianya daripada media sosial : Apa artinya menjadi diri sendiri?
Dalam filsafat, konsep autentisitas berkaitan dengan pertanyaan mengenai bagaimana manusia dapat hidup sebagai dirinya sendiri, bukan sekadar mengikuti bentuk kehidupan yang ditentukan oleh lingkungan sosial. Konsep ini banyak dibahas dalam tradisi eksistensialisme, termasuk dalam pemikiran soren Kierkegaard, Martin Heidegger, dan Jean-Paul Sartre.
Martin Heidegger, misalnya, membahas bagaimana manusia hidup dalam dunia yang sudah dipenuhi oleh norma, kebiasaan, dan cara hidup yang dianggap “biasa”. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan sesuatu karena “memang begitulah orang melakukannya”.
Jika dibawa ke kehidupan digital, gagasan ini terasa cukup dekat.
Kita mungkin mengunggah foto karena semua orang melakukannya. Mengikuti tren karena takut tertinggal. Menggunakan istilah tertentu karena sedang popular. Mengejar pencapaian tertentu karena melihat orang lain melakukannya.
Tanpa sadar, kita dapat mulai bertanya :
Apakah ini benar-benar sesuatu yang saya inginkan, atau saya hanya belajar menginginkannya karena melihat orang lain menginginkannya?
Heidegger menggambarkan kehidupan yang terlalu larut dalam pola-pola sosial tersebut sebagai kondisi Ketika seseorang kehilangan kepemilikan terhadap pilihan hidupnya sendiri. Autentisitas, dalam pemikirannya, bukan berarti menemukan “versi diri yang paling asli” lalu mempertahankannya selamanya. Autentisitas lebih dekat dengan kemampuan untuk mengambil kepemilikan atas pilihan dan cara kita menjalani hidup.
Jika demikian, mungkin persoalan media sosial bukan hanya tentang terlalu banyak melihat kehidupan orang lain.
Mungkin persoalannya adalah ketika kita mulai menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menentukan bagaimana kehidupan kita sendiri seharusnya terlihat.
Jadi, Apakah Media Sosial Membuat Kita Kesepian?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Media sosial dapat membantu manusia memperthankan hubungan. Namun, media sosial juga dapat menjadi ruang yang membuat kita terus membandingkan diri, mencari validasi, atau sekedar mengonsumsi kehidupan orang lain tanpa benar-benar membangun hubungan yang bermakna. Penelitian terbaru pun menggambarkan hubungan antara media sosial dan kesepian sebagai hubungan yang dinamis, bukan hubungan sebab-akibat yang sederhana .
Karena itu, mungkin masalah utamanya bukan teknologi, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.
Kita perlu membedakan antara merasa “dilihat” dan merasa “dipahami”.
Likes dapat membuat kita merasa diperhatikan, tetapi belum tentu membuat kita merasa dimengerti. Pesan singkat dapat membuat kita merasa terhubung, tetapi belum tentu menggantikan percakapan yang memungkinkan kita benar-benar membuka diri.
Pada akhirnya, manusia mungkin tidak hanya membutuhkan koneksi. Manusia membutuhkan kedekatan yang memiliki makna.
Mungkin Kita Tidak Kekurangan Orang, Kita Hanya Kekurangan Koneksi yang Bermakna
Di Tengah dunia yang memungkinkan kita terhubung denga hampir siapa saja, kesepian menjadi sebuah ironi.
Kita dapat mengetahui seseorang sedang makan apa, pergi kemana, sedang Bersama siapa, atau sedang merayakan pencapaian apa. Namun, mengetahui banyak hal tentang seseorang tidak selalu berarti mengenalnya.
Begitupun sebaliknya. Seseorang dapat melihat banyak sisi kehidupan kita tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang kita rasakan.
Mungkin karena itu, pertanyaan “Kenapa aku masih merasa sendirian padahal punya banyak teman?” tidak selalu harus dengan jawaban “kamu kurang bersosialisasi”.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah :
“Apakah hubungan yang sedang aku jalani benar-benar membuatku merasa menjadi diriku sendiri?”
Sebab pada akhirnya, terhubung bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang dapat kita jangkau. Terhubung Adalah tentang apakah di antara begitu banyak manusia yang dapat kita temui, kita masih memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri, didengar tanpa harus tampil sempurna, dan merasa bahwa keberadaan kita benar-benar berarti bagi seseorang.
Di zaman ketika kita dapat terhubung dengan semua orang, mungkin tantangan terbesar manusia bukan lagi bagaimana menemukan koneksi
Melainkan bagaimana menemukan koneksi yang benar-benar bermakna.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda