Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. Ketika Radio Menjadi Ruang Sosial di Indonesia Pada Era 1970-1990an

Ketika Radio Menjadi Ruang Sosial di Indonesia Pada Era 1970-1990an

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
19 Desember 2025, 15.54 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Radio Jaman dulu
Ilustrasi Masyarakat Indonesia sedang mendengarkan radio pada era 1970-1990an. Sumber: Gambar AI Generatif oleh Wiji Astuti, melalui Google Gemini (Powered by Imagen)

Ilustrasi Masyarakat Indonesia sedang mendengarkan radio pada era 1970-1990an.
Sumber: Gambar AI Generatif oleh Wiji Astuti, melalui Google Gemini (Powered by Imagen)

Oleh: Fuad Bahariawan Dwi Putra

IKLAN

JurnalPost.com - Seusai salat maghrib, Wati yang kala itu masih duduk di bangku kelas 1 SMA, bergegas menuju kamarnya. Sebuah radio portabel merek Panasonic menunggu, setia seperti teman lama. Dengan antusias, ia memutar tombol pencari frekuensi hingga terdengar derit halus, sebelum akhirnya berhenti tepat pada gelombang favoritnya, Poliyama AM, radio yang sedang naik daun di kalangan anak muda Gorontalo pada tahun 1990-an. Malam bagi Wati selalu dimulai dengan ritual kecil ini.

Radio Swargaloka sebagai Media Informasi dan Hiburan di Tengah Era New Media
Baca Juga

Radio Swargaloka sebagai Media Informasi dan Hiburan di Tengah Era New Media

Suasana seketika berubah riang ketika penyiar yang ia nantikan, kakak kelasnya sendiri di sekolah muncul mengisi udara. Ada rasa bangga dan gugup setiap kali mendengar sapaan ramah yang seolah ditujukan langsung kepadanya. Selama beberapa waktu, berbagai pesan dan salam dari pendengar dibacakan satu per satu ucapan selamat, candaan ringan antar teman, hingga kode-kode kecil dari pengagum rahasia. Lagu-lagu pilihan berganti mengalun, dari pop Indonesia hingga musik-musik barat, menemani suasana malam di rumah Wati. Pemandangan seperti ini adalah hal yang lumrah terjadi ketika televisi belum banyak dimiliki dan internet belum terbayang seperti saat ini. Radio menjadi sahabat banyak orang saat itu. Dari pagi sampai malam, suara penyiar dan alunan musik mengisi rumah-rumah di Indonesia. Berita pagi membantu orang mengikuti perkembangan negara, sementara siaran musik dan obrolan santai jadi hiburan murah yang bisa dinikmati siapa saja.

Banyak orang kerap mengira bahwa ruang sosial hanya merujuk pada tempat-tempat interaksi langsung seperti pasar, alun-alun kota, warung kopi, lapangan sekolah, atau ruang pertemuan warga. Padahal, menurut sosiolog Pierre Bourdieu, ruang sosial tidak selalu berupa lokasi fisik, melainkan “sebuah ruang multidimensional posisi-posisi sosial tempat para agen saling terhubung melalui relasi dan praktik” (Distinction, 1984). Cara pandang ini membuka pemahaman bahwa ruang sosial juga dapat hadir dalam bentuk media dan jaringan komunikasi. Dalam konteks Indonesia tahun 1970–1990-an, radio menjadi salah satu ruang sosial penting karena menyediakan arena tempat pendengar saling berinteraksi melalui sapaan, pesan, permintaan lagu, serta gaya komunikasi yang membentuk komunitas simbolik. Meskipun tidak terjadi tatap muka, hubungan antarpengguna dan penyiar terjalin dalam lanskap sosial yang hidup, menjadikan radio ruang sosial alternatif yang khas pada era tersebut.

Kemunculan radio swasta lokal pada awal 1970-an membuka babak baru dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Jika sebelumnya radio didominasi oleh siaran pemerintah melalui RRI, hadirnya radio swasta lokal memberikan ruang yang jauh lebih akrab dan dekat dengan keseharian pendengarnya. Melalui program-program seperti “request lagu dan kirim salam”, sandiwara radio, dan hiburan lainnya mampu membuat warga dapat saling terhubung tanpa terkendala batasan jarak. Suara penyiar yang ceria dan hangat, musik yang diputar sesuai dengan keinginan pendengar, serta sapaan yang ditujukan kepada keluarga, teman maupun pasangan menjadikan radio bukan sekadar media informasi, melainkan sebuah ruang sosial dan medium emosional yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

IKLAN

Kedekatan yang tercipta melalui radio ini kemudian melahirkan suatu komunitas pendengar, yakni kelompok sosial baru yang terbentuk melalui interaksi simbolik di udara. Klub pendengar radio pun tumbuh di berbagai daerah, seringkali berawal dari pendengar yang saling menyapa melalui gelombang radio lalu bertemu dalam acara temu pendengar dan menciptakan pertemanan jarak jauh. Tidak jarang pula masyarakat mendengar radio beramai-ramai sembari bermain atau bercengkerama, sehingga tercipta suasana keakraban dan kebersamaan yang begitu kuat. Menurut penuturan Eva (sekarang berusia 50 tahun) saat dulu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Ia dan teman-temannya seringkali mendengarkan sandiwara radio berjudul “Tutur Tinular” yang bercerita mengenai perjalanan hidup seorang pendekar bernama Arya Kamandanu dengan latar belakang sejarah runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Mendengarkan radio bersama akhirnya menumbuhkan rasa kebersamaan dan menciptakan memori kolektif yang selalu diingat.

Ahmad Naufal Fauzan
Baca Juga

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

dengar_radio Ilustasi Masyarakat Indonesia dan radio. Sumber: Gambar AI Generatif oleh Frisda Silviana, melalui Google Gemini (Powered by Imagen)

Saat maraknya kemunculan radio swasta, pemerintah Indonesia masa orde baru memang tetap menerapkan kontrol terhadap media melalui Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah. Walaupun regulasi tersebut membatasi isi siaran, radio swasta tetap menjadi ruang publik alternatif, masyarakat tetap dapat menemukan cara untuk mengekpresikan diri secara halus melalui cerita, salam, lagu, humor hingga sandiwara radio yang memuat beragam cerita dan bahkan permasalahan sosial sehari-hari. Di tengah pemberedelan media cetak dan sensor terhadap wacana politik, radio justru menjadi tempat di mana masyarakat dapat membangun solidaritas, menguatkan jejaring sosial, dan menegaskan identitas lokal mereka. Dengan demikian, radio pada masa Orde Baru bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga wahana sosial yang mempertahankan ruang kebersamaan di tengah kondisi politik yang membatasi ekspresi publik.

Perubahan kemudian mulai terjadi pada tahun 1997, ketika radio mulai ditinggalkan pendengarnya karena masyarakat beralih ke televisi untuk mencari hiburan dan informasi. Koran Berita Yudha tanggal 19 Oktober 1997 melaporkan bahwa radio sudah tidak lagi menjadi media favorit masyarakat Indonesia. Televisi yang semakin banyak ditonton telah membuat radio menjadi pilihan kedua. Survei SRI tahun 1997 juga menunjukkan hal yang sama, masyarakat Indonesia rata-rata hanya mendengarkan radio 1,5 jam per hari. Jauh lebih sedikit dibandingkan waktu mereka menonton televisi. Padahal sebelumnya, radio kerap menjadi bagian dari ruang terbuka seperti warung kopi, pos ronda, bengkel, angkutan umum, hingga ruang keluarga, yang memungkinkan orang berkumpul, berbincang, dan berinteraksi sambil mendengarkan siaran bersama-sama.

Meskipun pendengarnya berkurang, radio tidak benar-benar hilang dari kehidupan media Indonesia. Perkembangan teknologi justru membawa kebiasaan berinteraksi lewat radio ke dunia digital. Jika dalu radio menemani interaksi sosial di tempat-tempat seperti warung, atau kios sekarang kebiasaan itu berlanjut dalam bentuk baru, seperti live streaming yang bisa request lagu atau bahkan podcast yang memungkinkan pendengar bisa berkomunikasi langsung dengan pembawa acara. Selain itu, kolom komentar di media sosial juga bisa menjadi tempat orang-orang untuk berekspresi.

Mahasiswa melakukan transaksi mandiri menggunakan QRIS dan kotak pembayaran tunai di Kantin Kejujuran kampus.
Baca Juga

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Peristiwa ini menunjukkan bahwa teknologi baru tidak serta-merta menghapus budaya yang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari. Alih-alih menghapusnya, teknologi justru memungkinkan kebiasaan lama untuk tetap ada dan berkembang sesuai dengan situasi baru. Pola interaksi yang dahulu dibangun melalui radio, dengan pesan, sapaan, dan simbolismenya, pada dasarnya tetap ada di platform digital yang digunakan masyarakat saat ini, meskipun dalam berbagai bentuk dan cara. Dengan demikian, pergeseran dari teknologi analog ke digital tidak memutus budaya komunikasi massa. Sebaliknya, ia mengubahnya untuk lebih sesuai dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan sosial masyarakat masa kini.

REFERENSI Wati. 2025. Wawancara mengenai kegiatan mendengarkan radio pada tahun 1990an. Wawancara pribadi, Desember 2025. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste. Harvard University Press. Surat Kabar Berita Yudha, diterbitkan pada 19 Oktober 1997 (https://mpn.komdigi.go.id/arsip/detail/117212/sheet?q=radio) Kitley, P. (2000). Television, nation, and culture in Indonesia. Ohio University Press. Diakses dari https://share.google/OFTnlaRDMM8rMPdiH Prasasti, T. (2023). Studi literatur: Eksistensi radio pada era konvergensi media. Commsphere: Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(2), 1–9. https://doi.org/10.37631/commsphere.v1iII.995 Rahmi, Eva. 2025. Wawancara mengenai kegiatan mendengarkan radio pada tahun 1970an. Wawancara pribadi, 22 November 2025.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ketika-radio-menjadi-ruang-sosial-di-indonesia-pada-era-1970-1990an/89303/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 21.19 WITA

  • #Penyiar Radio
  • #Radio Swargaloka
  • #Ruang Sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Jika Bisa Mengulang Hidup, Akankah Kita Memilih Jalan yang Sama?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Pilihan Editor

  1. 1 Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026
  2. 2

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

  5. 5

    Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.