Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Citizen Reporter
  3. Kekuasaan, Pengetahuan dan Kontrol Sosial Menurut Foucault

Kekuasaan, Pengetahuan dan Kontrol Sosial Menurut Foucault

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
18 September 2023, 18.13 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
10 menit baca
Kekuasaan, Pengetahuan dan Kontrol Sosial Menurut Foucault
Oleh Muhammad Thaufan Arifuddin (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas) JurnalPost.com - Foucault lahir pada tahun 1926 dan meninggal pada tahun 1984. Kejadian yang menentukan adalah kebetulan bahwa Paul-Michel Foucault berbagi tanggal lahir yang sama dengan Friedrich Nietzsche (1844–1900) yaitu 15 Oktober karena Foucault menghidupkan kembali banyak gagasan Nietzsche dalam gaya Prancis abad ke-20. Pada usia dua puluh tahun, Foucault masuk ke École Normale Supérieure di Paris. Prestise seperti itu membawa tekanan untuk berkilau dan menjadi brilian, dan Foucault bekerja dengan tekun di lingkungan akademis elit ini, kadang-kadang mengalami episode depresi yang serius. Ada desas-desus tentang percobaan bunuh diri (Wicks, 2003). Foucault bergabung dengan Partai Komunis Prancis pada usia dua puluh empat tahun, dan meskipun keanggotaan ini singkat, semangat Marxis tetap ada dalam tulisan-tulisan Foucault kemudian. Sama seperti Karl Marx dengan gigih memperjuangkan kekuasaan institusi yang mengeksploitasi populasi yang kurang ekonomis beruntung. Foucault pun tidak pernah kehilangan simpatinya terhadap orang-orang yang kurang beruntung dan terpinggirkan dalam masyarakat, mengarahkan banyak bukunya dan artikelnya untuk mengungkapkan mekanisme yang bertanggung jawab atas penindasan sosial. Selama separuh pertama tahun 1960-an, Foucault menjadi Profesor Filsafat di Universitas Clermont-Ferrand. Kemudian selama dua tahun (1966–68), ia tinggal di luar negeri di Tunisia sebagai profesor tamu di Universitas Tunis. Posisi ini membuatnya menjauh dari Paris selama gejolak revolusioner pada bulan Mei tahun 1968. Setelah kembali ke Prancis pada akhir 1968, Foucault memimpin Departemen Filsafat di Universitas Vincennes yang baru, dan pada tahun 1969, ia memasuki lingkaran elit kehidupan akademik Prancis dengan terpilih sebagai anggota Collège de France. Sebagai anggota College de France, Foucault bergabung dalam lingkaran elit akademisi Collège bersama dengan Henri Bergson, Claude Lévi-Strauss, Maurice Merleau-Ponty, dan Roland Barthes. Tahun 1960-an adalah tahun-tahun produktif bagi Foucault, dan menghasilkan beberapa tulisan terkenal dan paling berpengaruh. Segera setelah Madness and Civilization, yang melacak lahirnya rumah sakit jiwa, Foucault menerbitkan "Naissance de la clinique, Une archéologie du regard médical" (Lahirnya Klinik, Arkeologi Persepsi Medis pada tahun 1963). Pendekatan matematis dan kuantitatif terhadap masalah medis dan fungsi tubuh manusia secara umum merupakan ciri khas dari karya Foucault. Tahun 1966 mungkin adalah salah satu tahun terbaik Foucault dalam publikasi, karena Les mots et les choses, Une archéologie des sciences humaines (The Order of Things, An Archaeology of the Human Sciences), sebuah buku yang mengkaji dasar pengetahuan selama periode Renaisans, Pencerahan, dan Modern menjadi buku terlaris. Untuk mengakhiri dekade tersebut, Foucault menerbitkan L'archéologie du savoir (The Archaeology of Knowledge) pada tahun 1969 membawa metode penyelidikan yang telah ia terapkan hingga saat itu menjadi tema yang eksplisit. Foucault mengabdikan 14 tahun terakhir hidupnya untuk mengajar dan menulis, seringkali memenuhi kegiatan sehari-harinya dengan aktivisme politik kiri, kuliah umum, dan penampilan di media massa. Salah satu di antaranya adalah debatnya pada November 1971 dengan ahli bahasa dan filsuf Amerika, Noam Chomsky yang ditayangkan di televisi Belanda. Pada tahun 1975, Foucault menulis Surveiller et punir, Naissance de la prison (Discipline and Punish, the Birth of the Prison), sebuah karya tentang perkembangan sistem pidana Eropa. Karya ini tidak hanya mengulas sejarah penjara, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pembaca tentang perlakuan dalam penjara sebaagi institusi penindasan. Memperluas tema ini, Foucault fokus pada tahun-tahun terakhirnya pada konstruksi sejarah identitas seksual manusia dengan harapan memahami beberapa kekuatan institusi mendasar yang membentuk aspek-aspek seksualisme dalam psikologi manusia. Saat akhir hayatnya semakin mendekat, Foucault sering memberikan kuliah di Amerika Serikat, mengunjungi institusi-institusi seperti Stanford University (1979), The University of Southern California (1981), The University of Vermont (1982), dan University of California di Berkeley (1979–83).

Genealogi, Kekuasaan/Pengetahuan, dan Surveilans

Foucault mengungkapkan serangkaian fenomena sejarah yang rumit, yang saling memengaruhi dan tumpang tindih, dan dapat menjelaskan munculnya subjek dalam suatu konteks budaya tertentu. Studi sejarah seperti ini untuk menunjukkan bahwa keberadaan individu berasal dari ratusan, jika tidak ribuan, sejarah pribadi yang sering tidak terkait satu sama lain dan sering kali sangat berbeda. Pada tahun 1970-an, Foucault menggambarkan gaya dan metode penyelidikan sejarahnya sebagai genealogi. Inspirasi terminologisnya berasal dari karya Friedrich Nietzsche, On the Genealogy of Morals (1887). Istilah genealogi Nietzsche pun dipengaruhi oleh istilah deduksi hukum yang makin dikuatkan oleh Kant pada tahun 1780. Selama berabad-abad sebelum masa hidup Kant, deduksi hukum adalah penyelidikan resmi tentang sejarah sungai atau tanah yang diperdebatkan dengan tujuan melacak objek kembali ke pemilik masa lalu dan menetapkan hak legal. Karya Foucault paling terkenal dalm periode ini adalah Discipline and Punish, the Birth of the Prison (Surveiller et punir, Naissance de la prison) pada tahun 1975. Ini adalah eksposé sejarah dan kritik sosial terhadap sistem pidana Prancis. Foucault mencatat bahwa penjara tidak mengurangi tingkat kejahatan dan bahwa sikap umum mereka yang mendirikan penjara tetap relatif tidak berubah, tidak banyak berubah sejak awal 1800-an (Gutting, 2005). Dalam Discipline and Punish, Foucault menekankan gagasan tentang kekuasaan yang banyak dipengaruhi oleh Nietzsche. Foucault melihat kehadiran kekuasaan dalam masyarakat dengan pandangan yang agak negatif sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan dan manipulatif. Kekuasaan manipulatif ini melekat dalam kerangka kerja institusional yang dibentuk oleh seperangkat praktik sosial yang sudah mapan dan bertanggung jawab atas berbagai jenis fungsi yang dapat diprediksi dan produktif dalam masyarakat. Contoh kekuasaan yang manipulatif dan produktif bisa dilihat beroperasi dalam dunia militer dan penjara. Secara umum, banyak institusi sosial termasuk yang paling berniat baik seperti sistem pendidikan dapat dipahami menggunakan teknik-teknik penindasan dan manipulatif dari penjara. Sejalan dengan pemikiran bahwa banyak institusi sosial memiliki sifat seperti penjara, Foucault mengamati bahwa salah satu fungsi penting penjara adalah menjaga para narapidana di bawah pengawasan. Dalam konteks ini, Foucault memberikan diskusi yang mendalam tentang desain arsitektur penjara menurut filsuf Inggris, Jeremy Bentham (1748–1832). Ini adalah bangunan berbentuk donat di tengahnya terdapat menara pengawas yang memungkinkan penghuninya untuk mengawasi semua sel di asrama sekitarnya secara bersamaan. Berbeda dengan sel-sel gelap dan pribadi dari zaman dahulu, sel-sel para narapidana akan sepenuhnya disinari untuk tujuan pemantauan berkelanjutan seperti sangkar dan teater kecil di mana setiap aktor berdiri sendiri, sangat individual dan selalu terlihat. Tujuannya adalah untuk menginduksi narapidana dalam keadaan terlihat secara sadar dan memastikan fungsi otomatis kekuasaan. Di sini, kekuatan sudut pandang pengawas bermaksud untuk mengawasi, mencatat, mengontrol, dan menilai gerakan semua orang sekaligus. Karena narapidana sepenuhnya terlihat, sementara mereka tidak dapat melihat pengawas, dan karena pengawas selalu dapat melihat segalanya tanpa pernah terlihat, narapidana selalu merasakan tekanan kekuatan pengawas, terlepas dari apakah ia benar-benar sedang diawasi atau tidak. Wawasan Foucault tentang cara institusi memperpanjang kekuasaan mereka dapat dengan mudah diperluas di luar pengaturan penjara. Contoh sederhana untuk ini adalah penggunaan CCTV di ruang-ruang publik. Jepang bisa menjadi contoh bagaimana kekuasaan panopticon CCTV mengontrol orang-orang yang hidup di sana. Pola pikir panopticon dapat digunakan secara etis misalnya dalam pengaturan rumah sakit di mana alat elektronik memantau kondisi pasien sehingga mempersingkat waktu untuk tanggap darurat. Namun, panopticon dapat menjadi tidak diinginkan ketika gaya pengawasan digunakan untuk mengendalikan sektor aktivitas sosial di mana orang-orang merasa keberatan untuk mengorbankan sebagian besar otonomi mereka. Gagasan lain Foucault yang paling berpengaruh terbentuk pada tahun 1970-an di mana Foucault menyatakan bahwa kekuasaan dan pengetahuan selalu muncul dalam saling ketergantungan, saling keterkaitan, dan perpaduan pengalaman satu sama lain sama seperti warna selalu menyertai 'bentuk dalam pengalaman visual. Sebagian dari motivasi Foucault untuk menghubungkan antara kekuasaan dan pengetahuan berasal dari kekhawatirannya terhadap status politik pengetahuan ilmiah. Ia mengamati bahwa pengetahuan ilmiah tidak hanya memberikan kekuasaan atas alam, tetapi juga memberikan kekuasaan institusional kepada mereka yang mengembangkan, mengelola, dan mengendalikan pengetahuan ilmiah tersebut. Atmosfer intelektual dari pendekatan Foucault sangat berlandaskan pada realitas sehari-hari, dan ia tetap mempertahankan semangat eksistensialisnya. Analisisnya terhadap konsep-konsep filosofis kunci seperti kebenaran, kekuasaan, bahasa, dan pengetahuan, semuanya berakar dalam detail-detail konteks sejarah yang konkret. Mencoba untuk melepaskan beberapa struktur konseptual yang tidak historis, abadi, sepenuhnya literal, universal, dan tidak dapat diubah dari jaringan yang tak terbatas dari peristiwa kehidupan nyata adalah sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman Foucault, dan dalam hal ini, ia menolak berpikir tentang kebenaran mutlak atau tentang pengetahuan yang diasumsikan sepenuhnya terlepas dari keadaan konkret. Karena keadaan sehari-hari secara tak terhindarkan melibatkan dimensi sosial, politik, dan budaya, ia bersikeras bahwa pemahaman konkret tentang pengetahuan dan kebenaran harus mengakui bagaimana gagasan-gagasan ini terjalin dengan meresap dan dimodifikasi oleh perubahan yang terus-menerus. Foucault bahkan mengakui bahwa konsep kekuasaan, tema sentral dalam teorinya selama tahun 1970-an menjadi hampa jika dipikirkan tanpa mengartikulasikan jenis-jenis dan keadaan-keadaan kekuasaan yang sedang dipertimbangkan. Pada tahun 1977, dalam sebuah wawancara tentang Sejarah Seksualitas, Foucault mengemukakan sebuah pernyataan yang sering dikutip dan sering disalahartikan. Dia menyatakan bahwa dia tidak pernah menulis apa pun kecuali fiksi. Dalam konteksnya, ini menunjukkan bahwa Foucault tidak percaya pada kebenaran, dan pandangan filosofisnya bersifat nihilistik. Namun, dia melanjutkan dengan menjelaskan makna yang sangat berbeda dengan mengatakan bahwa dia tidak bermaksud mengatakan bahwa kebenaran itu tidak ada. Ini mengindikasikan bahwa kebenaran dapat diungkapkan melalui wacana fiksi. Dengan kata lain, seni, figuratif, mitos, metafora, dan sastra dapat mengungkapkan kebenaran dengan setara, atau bahkan mungkin lebih baik, daripada bahasa yang murni literal. Ini juga adalah pandangan Nietzsche dan dapat juga dikaitkan dengan Derrida. Jika memang keadaan yang sebenarnya adalah multi-dimensi, bersifat allusif, berfluktuasi, dan tidak dapat sepenuhnya diungkapkan dalam kerangka bahasa yang terbatas, maka kita dapat membaca Foucault sebagai seseorang yang menerima dengan baik pernyataan Daois bahwa jalan yang dapat diucapkan bukanlah jalan yang tetap. Kita dapat membaca Foucault sebagai seseorang yang percaya seperti Nietzsche dan Derrida, bahwa kebenaran tidak dapat dicapai sepenuhnya melalui pendekatan langsung yang literal, tetapi juga harus dinyatakan dengan daya tarik yang tenang, menggunakan bahasa tidak langsung, artistik, dan bahkan mitos. Pada tahun 1970 dan 1978, Foucault mengunjungi Jepang yang dipicu sebagian oleh minatnya terhadap Zen Buddhism. Minat Foucault dalam Zen memiliki setidaknya tiga aspek, pertama, seperti Zen, beberapa bentuk Kekristenan menganjurkan teknik-teknik disiplin keras untuk tujuan kemajuan spiritual. Dari sudut pandang praktik budaya perbandingan, Foucault menemukan bahwa rezim biara Buddha Zen sejajar dengan disiplin biara Kristen. Di Zen juga, kita dapat melihat ungkapan Latin, laborare est orare, bekerja adalah berdoa. Kedua, posisi Buddhisme bahwa semua keberadaan bersyarat atau kontingent, bersama dengan penolakan Buddhisme akan diri yang substansial, posisi yang bertentangan dengan definisi konseptual yang tetap, sesuai dengan sudut pandang anti-Kartesian, lebih nominalistik Foucault. Ketiga, bahwa Zen adalah cara hidup dan memiliki hubungan dengan pemahaman Foucault tentang filsafat sebagai latihan spiritual atau 'praktek kebebasan, suatu praktik yang berlandaskan pada prinsip penyisipan diri, atau pemisahan diri, adalah faktor lain dalam minat Foucault terhadap Zen. Pemikiran Zen yang menekankan keberadaan di waktu sekarang menjadi poin menarik lainnya bagi Foucault, terutama dalam kaitannya dengan minatnya terhadap mekanisme kontrol kekuasaan (panopticism). Dalam Zen, seseorang bertujuan untuk menjadi pengawas untuk memahami kehadiran dunia yang hidup dan fluktuatif secara eksistensial. Dalam panopticism, seseorang bertujuan untuk menjadi pengawas dengan tujuan untuk memaksimalkan kendali atas apa yang diamati. Dalam mentalitas Zen, seseorang membiarkan dunia berjalan dengan bebas seperti yang dianjurkan oleh Heidegger. Dalam mentalitas panoptik yang berlawanan, seseorang mengandalkan dunia dengan keras. Karena Foucault sangat pragmatis dan karena dia tahu bahwa Zen Buddhisme adalah agama samurai maka dia tertarik pada jenis kekuasaan yang praktis yang berasal dari mentalitas yang sangat spiritual. Alhasil, Foucault memperlihatkan watak dan wajah intelektual yang bergolak dan hadir dalam sejarah manusia yang tak bisa dilepaskan dari kekuasaan yang cair, menyebar dan mengawasi di mana-mana. Kekuasaan ada di penjara, rumah sakit dan sekolah-sekolah. Pengetahuan bahkan adalah kekuasaan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kekuasaan-pengetahuan-dan-kontrol-sosial-menurut-foucault/59039/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 04.45 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Kolaborasi Lintas Jurusan, Mahasiswa UNDIP Kembangkan Dentavera sebagai Inovasi Perawatan Mulut

KKN Universitas Merdeka Malang Bangun Greenhouse Bambu, Dorong Ketahanan Pangan Warga Pandanrejo

KKN 179 UMM Pasang Papan Jadwal Pembagian Air di Bangelan, Cegah Perebutan Antarwarga

Warga Desa Tlekung Diajak Manfaatkan Urine Sapi Jadi Pupuk Organik Cair untuk Percepat Pertumbuhan Pakan Ternak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Pilihan Editor

  1. 1 Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama
  2. 2

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

  3. 3

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

  4. 4

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  5. 5

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.