Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Kehangatan Pasangan Lansia di Film Pendek Wan An Karya Yandi Laurens

Kehangatan Pasangan Lansia di Film Pendek Wan An Karya Yandi Laurens

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
08 Januari 2026, 00.33 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
8 menit baca
Pendek Wan An

JurnalPost.com - Pernikahan menyatukan dua orang asing, yang sebelumnya saling menjaga jarak, lalu perlahan belajar saling mendekat. Dari dua kehidupan yang terpisah, kemudian tumbuh menjadi satu irama, saling bergantung tanpa merasa terbebani, saling menerima tanpa perlu banyak penjelasan. Mengubah canggung menjadi akrab. Pernikahan bukan tentang serasi, bukan tentang tampaknya, bahwa yang laki-laki tampan dan yang perempuan cantik. Namun, lebih ke harmonis, bahwa ada canda, senyum, memaafkan, keikhlasan, dimana semua rasa itu menghangatkan masing-masing tanpa canggung.

Menikah inginnya hanya sekali seumur hidup. Bahagia sampai kakek nenek. Setelah anak-anak mandiri dan hidup terpisah, mereka akan kembali hanya berdua. Mereka memilih tetap dirumah berdua, meskipun seringkali anak-anaknya mengajak untuk tinggal bersama.

IKLAN

Orangtua sadar, jika versi mereka terbaik dahulu, belum tentu menjadi versi terbaik di zaman anaknya.

Film Bukan Akhir
Baca Juga

Film Bukan Akhir! Mengukur Kembali Ruang Aman di Balik “Kita Yang Menulis Cerita”

Film pendek Wan An karya Yandi Laurens menggambarkan kehidupan sehari-hari pasangan lansia, keturunan Tionghoa. Tji dan Ing. Film ini sarat dengan makna, menjadi pengingat bagi semua bahwa inilah kehidupan kelak bagi pasangan lansia. Hidup berdua, seringkali irit kata, namun rasa terikat erat. Tanpa berucap, masing-masing tahu kebiasaan, ingin, meski hanya saling menatap.

Rumah tak lagi tentang luas dan megah

Pada film ini digambarkan kehidupan lansia dengan seting di ruang yang cukup untuk bergerak terbatas dengan tidak banyak mengeluarkan tenaga. Mereka tidak butuh rumah megah nan luas, karena terbatas tenaga untuk bergerak. Di film ini tampak sebuah tangga menuju lantai 2, ruang atas berguna, itu dulu ketika anak-anak masih berkumpul dan memerlukan banyak kamar. Namun, ketika sudah lansia dan anak-anak meninggalkan rumah, cukup sehari-hari di ruang yang tidak begitu luas, dengan jarak yang pendek antara dapur, meja makan, kamar mandi, bahkan ruang menerima tamu. Menjemur baju pun tak harus mencari sinar matahari, lebih baik ditempat terjangkau meskipun keringnya bisa dua sampai tiga hari. Demi keamanan, takut terpeleset. Bisa jadi, lantai 2 sudah tidak pernah lagi dikunjungi. Tetap dipertahankan untuk memberi nyaman jika anak-anaknya berkunjung. Solusinya, umum terjadi di masyarakat. Supaya tetap terang, tidak “suwung”, dibelikan lampu otomatis yang akan menyala di kala gelap.

Film ini sangat apik dalam penggambaran suasana. Benar-benar sangat natural. Alurnya lembut namun dalam, penonton diminta untuk menelisik satu per satu setiap detil tidak hanya pada tokoh film, namun pada perkakas dan gerak yang bermakna. Saya menonton film ini bukan hanya melihat sebuah tontonan, tapi memaknai hidup, sehingga saya tidak hanya sekali menonton, namun beberapa kali. Ketika ingat, “Eh, sepertinya ada kaleng Khong Guan ya di meja makannya”, “Eh, apa sih makna gantungan rumah yang berbunyi ketika tertiup angin”, dan penasaran lainnya, dimana film ini mengajak saya tidak hanya melihat, namun juga mencari sumber rujukan untuk saya menelusur dari setiap kiasan yang ditampilkan untuk menjawab setiap penasaran saya.

Irfani Zhang
Baca Juga

Irfani Zhang: Ketika Seni Menjadi Jalan untuk Berkarya dan Menginspirasi

Iya benar, ada kaleng Khong Guan di meja makan. Biskuit legend di zamannya, bahkan sampai sekarang. Muncul candaan, “Bukan lagi isi biskuit, ternyata rengginan”, “Aku siapa, seperti remahan rempeyek di kaleng Khong Guan”. Film ini menghidupkan nostalgia zaman dulu, dengan tetap memperhatikan selera pasar saat ini. Penonton diajak tersenyum hanya dengan hadirnya kaleng Khong Guan. Gilasan cucian, satu lagi properti yang nampak di film ini. Bukan tak mampu membeli mesin cuci, namun sebagai lansia, dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja, mencuci baju dengan tangan, bisa jadi merupakan kegiatan yang dinantikan. Di film ini tergambar, ada kebersamaan ketika  mencuci. Tanpa kata minta tolong, Tji sebagai suami sangat paham jika istrinya yang sudah tidak lagi muda, tidak mampu jika harus memeras cucian basah seorang diri. Bersama, mereka memeras baju sebelum di jemur, bersama pula mereka menjemur baju, karena Tji yang harus naik kursi dengan dipegangi istrinya, untuk menjangkau jemuran kayu yang tinggi.

Kaleng Khong Guan, gilasan cucian, dua dari properti dari sekian atribut yang digambarkan dalam suasana rumah pada film Wan An. Memang, bukan tentang luas dan megah. Tapi, isi rumah, bukan hanya penghuninya, beserta juga dengan atribut lain yang memberikan energi positif bagi rumah. Di Film Wan An ada gantungan rumah yang berbunyi, sering disebut lonceng angin (wind chime). Lonceng angin memiliki makna dalam di tradisi Tionghoa, berkaitan dengan feng shui dan filosofi keseharian. Bunyi lonceng dipercaya “membangunkan” energi di setiap sudut rumah yang dianggap sepi dan kurang harmonis. Penanda rumah yang “hidup”, rumah yang bernapas, ada angin, ada waktu yang bergerak, ada kehidupan. Kemudian ada televisi analog, radio yang selalu harus diperbaiki ketika ingin mendengarkan. Aktifitas mereka, untuk menggenapi seluruh ruang rumah, untuk menghidupkan denyut rumah.

Permasalahan yang terselesaikan dengan hal manusiawi, “kentut”

IKLAN

Kehidupan sehari-hari yang tergambar monoton. Mungkin ini penilaian oleh penonton usia belasan sampai lima puluhan. Namun, penonton di atas usia itu, bisa jadi kehidupan seperti itu yang menurut mereka ideal, diharapkan. Di ruang tamu, bahkan hampir diseluruh ruang dengan lampu temaram, waktu berjalan pelan seperti usia mereka. Teh hangat mengepul, menemani setiap perbincangan, suara jam dinding yang menjadi akrab, bukan membicarakan hal serius, hanya untuk memancing tawa satu dengan lainnya. Seperti pada karakter Tji, seringkali kata dan kalimat diulang-ulang demi melihat ekspresi tawa sang istri. Entah istri tertawa hanya untuk menyenangkan suami atau untuk menghidupkan suasana.  Tampak oleh penonton, hati dan rasa mereka tertaut dan bahagia. Itulah bersama, bukan tentang memenangkan ego, menang adalah ketika memberikan hangat untuk pasangannya.

Kenneth Trevi
Baca Juga

Kisah Haru Kenneth Trevi, Dari Dyslexia Menuju Panggung Inspirasi

Ego juga dimunculkan dalam alur cerita film Wan An. Kegelisahan utama bagi pasangan lansia adalah habisnya atau berakhirnya usia. Harapan masing-masing, menjadi lebih dahulu habis usianya, sehingga tidak menanggung sepi dan sedih. Itulah yang digambarkan dalam film ini. Ketika salah satu bercanda, berpura-pura meninggal, kemudian yang ditinggalkan bersedih, menangis, meratap, akhirnya menjadi bahan candaan, dan berujung pertengkaran. Tidak saling sapa, tidak saling tegur. Namun ada hati yang saling bertaut, tanpa kata “tolong”, semua aktifitas masih dikerjakan bersama meski dengan ekspresi bermusuhan. Pada bagian ini, saya sebagai penonton tersenyum, dalam hati,”meski aku masih menuju lansia, aku dan suamiku seperti itu”.

Bagaimana pertengkaran menjadi reda? Jawaban yang diberikan oleh film Wan An sangat mengena di hati saya. Tji tak dapat menahan kentut, yang telah menjadi kebiasaannya setiap bangun pagi. Pertengkaran yang berhari-hari akhirnya terurai dengan kentut Tji yang tanpa permisi, tanpa drama, hadir dengan pendek, jujur dan sepenuhnya manusiawi. Menjadikan mereka berdua terkekeh kembali, tawa yang lahir dari rasa aman, bukan malu.

Di usia mereka, kentut bukan lagi hal yang harus disembunyikan. Kentut menjadi tanda bahwa tak ada jarak yang perlu dijaga, tak ada topeng yang mesti dipakai. Tubuh boleh lelah, punggung boleh tidak lagi tegap, tapi kejujuran kecil seperti hadirnya kentut, justru menghangatkan dan menarik untuk menjadi topik perbincangan.

Kejujuran yang lahir dari hal manusiawi, hangat layaknya selimut tipis di malam hujan yang lebat.

Kedekatan Tji dan Ing bukan lagi soal pegangan tangan yang menggebu, melainkan kenyamanan untuk menjadi apa adanya. Kentut dalam kesederhanaannya, menjadi penanda, mereka, adalah dua tubuh yang menua bersama, tak ada yang asing, tak ada yang sungkan. Kedekatan yang tercipta bukan lagi tentang menjaga kesan, melainkan tentang penerimaan, tentang kehadiran. Setelah sekian lama hidup bersama, akhirnya belajar bahwa cinta tak selalu rapi.

Film Wan An, menampilkan cerita keseharian yang sering luput dari amatan. Pasangan lansia yang telah menghabiskan waktu bersama, dan kebersamaan menciptakan kejujuran yang tenang. Banyak sikap dan bahasa tubuh terungkap tanpa perlu dibungkus sopan santun dan etika yang kaku. Gerak seadanya, helaan napas, bahkan hanya diam, semuanya tersaji apa adanya.

Tak perlu lagi permisi untuk hal-hal yang manusiawi, kentut yang lepas begitu saja, sendawa yang muncul di sela obrolan, atau membuang ingus tanpa canggung. Semua hadir natural, bahkan kadang bersahut-sahutan, seperti percakapan tubuh yang sudah saling paham. Tidak ada rasa terganggu, justru ada senyum maklum dan tawa kecil yang menyusul.

Pernikahan terkadang jenuh dan bosan, menjelang tidur dan saat bangun tidur, bertemu dengan wajah yang sama. Ketika tubuh direbahkan apa adanya, napas tak lagi diatur agar terdengar rapi, dengkuran kecil, suara tubuh yang jujur menjalankan fungsinya, itulah yang disampaikan film Wan An. Bersama pasangan hidup, keindahan tak lagi harus tampil selalu sempurna. Melainkan tentang rasa aman untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya, untuk melakukan hal-hal sederhana dan manusiawi.

Oleh: Farika Nikmah Dosen Politeknik Negeri Malang

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kehangatan-pasangan-lansia-di-film-pendek-wan-an-karya-yandi-laurens/89790/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.09 WITA

  • #Film Pendek
  • #Lansia

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru
  2. 2

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

  3. 3

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  4. 4

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  5. 5

    Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.