Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Film Bukan Akhir! Mengukur Kembali Ruang Aman di Balik “Kita Yang Menulis Cerita”

Film Bukan Akhir! Mengukur Kembali Ruang Aman di Balik “Kita Yang Menulis Cerita”

Penulis:
  • Nila Arifatul Ulya/Nim : 1152400134

Afiliasi: Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Editor: Gilang Pamungkas
23 September 2026, 01.12 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Film Bukan Akhir

JurnalPost.com - Kampus kerap dipandang sebagai ruang untuk belajar, bertumbuh, berdiskusi, dan mencari jati diri. Namun, di balik lingkungan akademik yang seharusnya menjadi tempat aman, terdapat persoalan yang tidak selalu mudah dibicarakan secara terbuka. Salah satunya adalah kekerasan seksual.

Isu kekerasan seksual hingga kini masih membutuhkan keberanian untuk diungkap, didiskusikan, dan ditangani secara serius. Ketika persoalan tersebut terjadi di lingkungan kampus, pertanyaan yang muncul tidak hanya mengenai siapa pelaku dan siapa korban, tetapi juga sejauh mana kampus mampu menciptakan ruang yang aman bagi seluruh sivitas akademika.

IKLAN

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya melalui film pendek berjudul “Kita Yang Menulis Cerita”. Film tersebut dirilis pada 14 Agustus 2026 di Auditorium Graha Wiyata UNTAG Surabaya.

Film ini mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, termasuk kekerasan seksual, sekaligus membawa nilai kejujuran, keberanian, empati, dan tanggung jawab sosial. Kehadiran film tersebut menjadi salah satu cara untuk membuka percakapan mengenai persoalan sensitif di lingkungan kampus sekaligus mendorong kesadaran mengenai pentingnya ruang yang aman.

Cerita berfokus pada mahasiswa yang menghadapi berbagai dilema dan persoalan kehidupan. Mereka dituntut menentukan sikap ketika berhadapan dengan masalah yang tidak mudah, termasuk persoalan sensitif yang terjadi di sekitar lingkungan kampus.

Pendekatan melalui film menjadi menarik karena pesan mengenai kekerasan seksual dapat disampaikan melalui cerita yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa. Terlebih, Generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital yang menjadikan visual, cerita, dan kreativitas sebagai bagian penting dari cara mereka menerima serta memahami informasi.

Ketika isu seperti kekerasan seksual hanya disampaikan melalui bahasa yang terlalu formal dan berjarak, terdapat kemungkinan pesan tersebut berhenti sebatas informasi tanpa berkembang menjadi kesadaran. Di sinilah film dapat berperan sebagai medium komunikasi yang menjembatani persoalan tersebut.

Melalui cerita dan karakter, sebuah isu tidak hanya dijelaskan, tetapi juga dapat dirasakan oleh penonton.

“Kita Yang Menulis Cerita” memperlihatkan bagaimana persoalan kekerasan seksual dapat ditempatkan dalam dinamika kehidupan mahasiswa. Dilema yang dialami karakter juga memiliki keterkaitan dengan kondisi kehidupan nyata.

Ketika mengetahui adanya dugaan kekerasan seksual, seseorang bisa dihadapkan pada berbagai pilihan: berbicara atau diam, mendukung atau menjauh, mendengarkan atau justru mempertanyakan pengalaman pihak yang mengalaminya.

Dengan membawa persoalan tersebut ke dalam cerita, film memberikan ruang kepada penonton untuk tidak hanya melihat korban dan pelaku sebagai dua posisi yang berdiri sendiri. Penonton juga diajak memahami bagaimana lingkungan di sekitar keduanya dapat memiliki peran dalam menghadapi persoalan tersebut.

Kreativitas sebagai Bahasa Komunikasi

Di sinilah kreativitas memiliki peran penting dalam menyuarakan isu sosial. Kreativitas bukan sekadar membuat sebuah kampanye menjadi viral atau membuat film mendapatkan perhatian banyak orang.

Kreativitas seharusnya mampu menerjemahkan persoalan yang kompleks ke dalam bahasa yang dapat dipahami khalayak tanpa menghilangkan substansi persoalan itu sendiri.

Kehadiran “Kita Yang Menulis Cerita” dapat dipandang sebagai upaya mencari bentuk komunikasi yang lebih dekat dengan mahasiswa. Isu yang sensitif dan berat disampaikan melalui medium yang lebih familiar sehingga dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas.

IKLAN

Namun, keberanian dalam mengangkat persoalan kekerasan seksual melalui sebuah film semestinya tidak berhenti pada produksi karya.

Film memang dapat membuka pintu percakapan, tetapi edukasi, mekanisme perlindungan, ruang pengaduan yang jelas, serta keberanian untuk bertindak menjadi bagian penting dalam menentukan apakah percakapan tersebut benar-benar menghasilkan perubahan.

Film pendek ini juga dapat dilihat sebagai langkah komunikasi yang relevan karena persoalan sensitif, termasuk kekerasan seksual dan perundungan, perlu dibicarakan dengan pendekatan yang dapat diterima mahasiswa.

Namun, dari sini muncul sebuah pertanyaan penting: apakah sebuah film sudah cukup untuk menciptakan perubahan?

Menurut saya, di sinilah batas antara komunikasi dan perubahan perlu dibedakan.

Sebuah pesan dapat dikatakan berhasil dikomunikasikan ketika khalayak memahami apa yang ingin disampaikan. Namun, keberhasilan komunikasi sosial seharusnya tidak berhenti pada tingkat pemahaman.

Ketika isu yang dibicarakan adalah kekerasan seksual, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting: apakah pesan tersebut mampu mendorong terciptanya lingkungan kampus yang lebih aman? Apakah mahasiswa mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi atau mengetahui kejadian serupa? Apakah terdapat mekanisme respons dan perlindungan yang dapat dipercaya?

Persoalan kekerasan seksual di lingkungan kampus tidak hanya berkaitan dengan kurangnya pengetahuan mahasiswa. Permasalahan tersebut juga dapat berhubungan dengan ketakutan untuk berbicara, ketidakpedulian lingkungan, relasi kuasa, budaya diam, hingga keraguan mengenai apa yang akan terjadi setelah seseorang berani menyampaikan pengalaman atau laporan.

Karena itu, film seharusnya tidak ditempatkan sebagai titik akhir keberanian kampus dalam mengangkat isu kekerasan seksual.

Film justru dapat menjadi titik awal menuju percakapan yang lebih luas mengenai edukasi berkelanjutan, mekanisme pelaporan yang mudah dipahami, respons yang tepat, hingga perlindungan terhadap pihak yang membutuhkan.

Karya seperti “Kita Yang Menulis Cerita” memiliki peluang untuk membuat mahasiswa berhenti sejenak, melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda, kemudian mempertanyakan kembali bagaimana lingkungan kampus seharusnya memperlakukan isu kekerasan seksual.

Pada akhirnya, ruang aman tidak terbentuk hanya melalui slogan ataupun satu karya film. Ruang aman membutuhkan sistem, keberanian untuk mendengar, keberpihakan pada proses penanganan yang bertanggung jawab, serta kesediaan seluruh lingkungan kampus untuk tidak menormalisasi kekerasan.

Film dapat membuka percakapan dan menumbuhkan kesadaran. Namun, film bukanlah akhir.

Justru setelah layar selesai diputar dan cerita berakhir, pertanyaan yang sebenarnya dimulai: apa yang akan dilakukan setelah kita mengetahui bahwa persoalan tersebut ada di sekitar kita?

“Kita Yang Menulis Cerita” dapat menjadi pembuka. Sementara perubahan yang sesungguhnya membutuhkan kesinambungan, tindakan nyata, dan komitmen untuk memastikan kampus benar-benar menjadi ruang yang aman bagi semua.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/film-bukan-akhir-mengukur-kembali-ruang-aman-di-balik-kita-yang-menulis-cerita/97819/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.17 WITA

  • #Film Pendek
  • #Kekerasan Seksual
  • #Mahasiswa
  • #Untag Surabaya
  • #komunikasi sosial
  • #pendidikan
  • #ruang aman kampus

Artikel Terkait

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.