Penulis: Marwa Nur Afifah, Sari Usih Natari S.TP., M.M., Prof. Dr. Drs. Sam’un Jaja Raharja, M.Si.
JurnalPost.com - Di berbagai belahan dunia, masih terdapat banyak individu yang tetap bekerja aktif meski sudah berusia lanjut, salah satunya di Indonesia. Menurut data statistik pada tahun 2023 yang disusun oleh BPS (Badan Pusat Statistik) tercatat terdapat 53,9 persen warga lansia di Indonesia yang masih bekerja. Selain bekerja, sebanyak 30,1 persen lainnya memiliki kegiatan mengurus rumah tangga dan menjalankan kegiatan lainnya (15,27 persen). Di luar itu, ada sebagian kecil lansia (0,7 persen) yang tidak memiliki kegiatan.
Keberadaan orang tua yang masih bekerja di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern sering kali luput dari perhatian kita. Setelah melalui berbagai fase kehidupan, mereka memilih untuk terus berkontribusi di dunia kerja. Bukan hanya karena kebutuhan finansial, tetapi juga karena semangat yang tidak pernah padam dan keinginan untuk membuat kehidupan mereka bermakna.
Keputusan untuk tetap bekerja di usia senja sering kali dilandasi oleh berbagai alasan, mulai dari menjaga kesehatan mental dan fisik, hingga keinginan untuk senantiasa menebar manfaat kepada sekitar. Selain itu, banyak dari mereka yang tetap bekerja karena memiliki keahlian dan pengalaman berharga yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh generasi muda.
Berkunjung ke Pangandaran, pengunjung akan banyak menjumpai pohon kelapa yang dikenal dengan seribu manfaat dari ragam olahannya. Salah satu olahan dari pohon kelapa yang familiar dan masih banyak digunakan hingga kini adalah sapu lidi. Sebagian di antara para perajin merupakan para lanjut usia yang berusia di atas 70 tahun. Para lansia ini terlihat masih sehat dan lincah meraut pelepah kelapa yang ada.
Ibu Tarwinah (100) misalnya, yang setiap hari duduk di pekarangan rumah tetangganya untuk meraut sapu lidi.
“Kalau sehat pasti akan saya kerjakan, baru berhenti jika merasa sakit,” ucap ibu Tarwinah dalam bahasa Sunda.
Menurut ibu Tarwinah, kegiatan meraut sapu lidi adalah kegiatan harian yang dilakukan untuk mengisi waktu luang. Menurutnya hal itu lebih baik daripada hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun. Bahkan, dalam sehari ia mampu membuat 2 hingga 3 ikat sapu lidi yang nantinya akan dikumpulkan sampai pengepul datang untuk membeli sapu lidi buatannya.
Untuk harga sapu lidi, pengepul mematok harga di kisaran Rp1.000 per-ikat. Harga yang sangat murah untuk seikat sapu lidi yang dibuat dengan penuh jerih payah.
Ibu Tarwinah memulai kegiatan ini sejak tahun 2020 karena keterbatasan fisiknya yang sudah tidak mampu untuk menjadi dukun bayi.
Setiap hari, sang anak akan membawakan setumpuk pelepah kelapa untuk ibu Tarwinah sebagai bahan utama sapu lidi. Jika anaknya tidak dapat membawakan pelepah pisang, maka ibu Tarwinah tidak akan meraut.
Hambatan lain yang dirasakan oleh ibu Tarwinah adalah ketidakpastian pengepul untuk datang mengambil persediaan sapu lidinya. Bahkan, terkadang ibu Tarwinah baru mendapatkan penghasilan dari sapu lidinya setelah 3 bulan.
“Biasanya 1 bulan, atau bahkan 3 bulan baru diambil (oleh pengepul),” ucap Pak Japar, Kepala Dusun Ciawi, Ds. Cimerak, Kec. Cimerak, Kab. Pangandaran.
Meski demikian, Japar selaku Kepala Dusun Ciawi mengatakan akan terus membina dan memantau ibu Tarwinah sebagai bentuk kepeduliannya terhadap warganya yang tetap produktif di usia lanjut.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda