Oleh: Khashya Vernenadya Zweita, Mahasiswa S1 Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga
JurnalPost.com – Menjadi mahasiswa di universitas yang jauh dari rumah mungkin menjadi impian bagi sebagian orang. Ada keinginan untuk mengenal lingkungan baru, hidup lebih mandiri, bertemu banyak orang, sekaligus mengejar cita-cita melalui pendidikan tinggi. Namun, ketika waktunya benar-benar tiba untuk meninggalkan rumah, perasaan yang muncul sering kali jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Kegiatan Pengukuhan Mahasiswa Baru Universitas Airlangga 2026. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Berpamitan dengan keluarga, meninggalkan kamar yang selama ini menjadi tempat beristirahat, hingga harus beradaptasi dengan makanan dan lingkungan yang berbeda dapat menjadi pengalaman emosional bagi mahasiswa baru.
Di tengah semangat memulai perkuliahan, ada satu perasaan yang cukup sering dialami mahasiswa perantauan, yaitu homesick atau rasa rindu terhadap rumah dan kampung halaman.
Perasaan tersebut dapat datang kapan saja. Pada pagi hingga sore hari, kesibukan mengikuti perkuliahan dan aktivitas kampus mungkin membuat mahasiswa tidak terlalu memikirkannya. Namun, suasana dapat berubah ketika malam tiba.
Saat kembali ke kamar kos dan aktivitas mulai berkurang, ingatan tentang keluarga, suasana rumah, makanan buatan orang tua, hingga kebiasaan sederhana bersama orang-orang terdekat dapat kembali muncul.
Bagi mahasiswa baru, homesick sebenarnya menjadi pengalaman yang cukup wajar. Apalagi bagi mereka yang untuk pertama kalinya harus tinggal jauh dari keluarga.
Mereka bukan hanya sedang beradaptasi dengan sistem perkuliahan, tetapi juga belajar menjalani kehidupan yang sebelumnya mungkin belum pernah dilakukan secara mandiri.
Mulai dari menentukan makanan setiap hari, mengatur jadwal kuliah, mengelola waktu istirahat, menjaga kebersihan kamar, hingga mengambil keputusan sendiri menjadi bagian dari proses penyesuaian tersebut.
Homesick karena itu tidak selalu harus dianggap sebagai hambatan. Rasa rindu juga dapat menjadi pengingat bahwa di rumah terdapat orang-orang yang selalu memberikan dukungan dan menunggu kepulangan kita.
Lantas, bagaimana cara membuat kehidupan di perantauan tetap menyenangkan meskipun rasa rindu terhadap rumah sesekali muncul?
Ciptakan Suasana Rumah di Tempat Baru
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menciptakan suasana nyaman di tempat tinggal baru.
Mahasiswa baru biasanya memiliki jadwal yang cukup padat, mulai dari kegiatan pengenalan kampus, perkuliahan, hingga berbagai aktivitas mahasiswa. Kondisi tersebut membuat kesempatan pulang ke kampung halaman menjadi terbatas.
Karena itu, kamar kos dapat dibuat senyaman mungkin agar terasa lebih familiar. Menata kamar sesuai selera, memasang foto keluarga atau teman, hingga membawa barang kesayangan dari rumah bisa menjadi pilihan.
Barang sederhana seperti boneka, bantal favorit, foto keluarga, maupun makanan kesukaan terkadang mampu memberikan rasa nyaman ketika sedang merindukan rumah.
Jaga Komunikasi dengan Keluarga
Jarak tidak selalu berarti hubungan harus menjadi jauh. Teknologi memungkinkan mahasiswa yang tinggal di perantauan untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga setiap hari.
Video call, panggilan telepon, maupun sekadar bertukar pesan melalui aplikasi percakapan dapat menjadi cara untuk mengetahui kabar keluarga sekaligus menceritakan aktivitas selama berada di kampus.
Memang, bagi sebagian orang, berbicara dengan keluarga justru dapat membuat rasa rindu semakin terasa. Tidak jarang percakapan melalui video call berakhir dengan air mata.
Namun, mengetahui keadaan keluarga serta berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari dapat membuat jarak terasa lebih dekat. Komunikasi juga dapat memberikan dukungan emosional ketika mahasiswa sedang menghadapi kesulitan selama menjalani kehidupan di perantauan.
Bangun Pertemanan dan Koneksi Baru
Lingkungan baru juga membuka kesempatan untuk membangun hubungan dengan banyak orang.
Mahasiswa dapat mulai berkenalan dengan tetangga kos, teman sekelas, maupun mahasiswa dari program studi lain. Mengikuti organisasi, komunitas, kepanitiaan, atau kegiatan kampus juga dapat membantu memperluas pergaulan.
Kesibukan yang positif dan interaksi bersama teman-teman baru perlahan dapat mengurangi rasa kesepian.
Jangan takut untuk memulai percakapan. Teman yang awalnya hanya dikenal saat mengikuti kegiatan kampus bisa saja menjadi orang terdekat selama menjalani kehidupan di perantauan.
Mereka dapat menjadi teman belajar, makan bersama, bertukar cerita, hingga menjadi tempat berbagi ketika sedang menghadapi kesulitan.
Beri Ruang untuk Merasakan Homesick
Mengatasi homesick bukan berarti seseorang harus memaksakan dirinya untuk selalu terlihat baik-baik saja.
Ada kalanya rasa rindu memang perlu dirasakan. Menangis karena merindukan rumah bukanlah sesuatu yang salah.
Namun, jangan membiarkan perasaan tersebut berlangsung terlalu lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Homesick dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi diri. Rasa rindu terhadap keluarga bisa diubah menjadi motivasi untuk menjalani perkuliahan dengan lebih serius dan menyelesaikan tujuan yang sejak awal ingin diraih.
Hidup jauh dari rumah juga merupakan bagian dari proses belajar menjadi lebih dewasa dan mandiri.
Homesick Bukan Sesuatu yang Harus Dihilangkan
Berbagai cara tersebut bukan berarti homesick harus benar-benar disembuhkan atau dihilangkan.
Rasa rindu mungkin akan tetap muncul sesekali, terutama ketika menghadapi hari yang melelahkan, sedang sakit, atau ketika melihat teman lain bisa berkumpul bersama keluarganya.
Namun, homesick dapat berjalan berdampingan dengan berbagai pengalaman baru.
Di satu sisi ada rasa rindu, tetapi di sisi lain terdapat rasa penasaran, keberanian, persahabatan baru, pengalaman baru, dan kebahagiaan ketika perlahan mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Menjadi mahasiswa perantauan pada akhirnya bukan hanya tentang berpindah dari satu kota ke kota lainnya. Perjalanan tersebut juga membawa seseorang menuju fase kehidupan yang berbeda.
Setiap pengalaman, mulai dari belajar mengelola kehidupan sendiri hingga menghadapi rasa rindu terhadap rumah, akan menjadi bagian dari proses pendewasaan.
Kelak, rasa rindu terhadap rumah mungkin justru menjadi salah satu bagian yang paling dikenang dari perjalanan tersebut.
Sebab, ketika mimpi yang diperjuangkan akhirnya menjadi kenyataan, kita mungkin akan memahami bahwa setiap rasa rindu yang pernah hadir merupakan bagian dari perjalanan panjang untuk mencapainya.
Sumber
Alodokter.com. Homesick, Perasaan Gelisah karena Kangen Rumah. 2025.
Asdhar, H. J. Strategies for Facing Homesickness Among Non-Local Students in Starting College at Airlangga University. Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 19(2), 118–126, 2024.
IPB University. Peduli Mahasiswa Baru, Konselor IPB University Bagikan Tips Atasi Homesick: Jadikan Rindu sebagai Energi. 2026.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda