Penulis: Dhia Naurah, Mahasiswa Universitas Airlangga
JurnalPost.com - Ada satu hal yang mungkin tidak pernah diceritakan ketika kamu sibuk mempersiapkan diri menjadi mahasiswa baru: rasa ingin pulang.
Baru pulang dari PKKMB, kamu masuk ke kamar kos, lalu tiba-tiba semuanya terasa aneh. Tidak ada lagi sambutan hangat dari orang tua. Yang ada hanya kamar baru yang sunyi.
Awalnya memang semua terasa asing. Dari situlah muncul sebuah perasaan yang jujur, tetapi cukup menyiksa: homesick, atau rasa rindu terhadap rumah yang begitu dalam hingga seolah ada sesuatu yang hilang dari dada.
Di saat seperti itu, mungkin kamu mulai bertanya dalam hati, “Kapan, ya, bisa pulang?”
Tapi tenang, kamu tidak sendirian. Merasa homesick bukan berarti kamu lemah, apalagi gagal beradaptasi. Justru, homesick bisa muncul karena kamu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan rumah dan orang-orang di dalamnya.
Kenapa Homesick Bisa Terjadi?
Pindah ke lingkungan baru berarti kamu harus meninggalkan banyak hal yang selama ini terasa familiar. Mulai dari rutinitas sehari-hari, makanan yang biasa kamu makan, orang-orang yang setiap hari kamu temui, hingga suara-suara kecil di rumah yang mungkin sebelumnya tidak pernah kamu sadari.
Pada dasarnya, otak manusia menyukai rutinitas dan rasa aman. Jadi, ketika kamu tiba-tiba pindah ke tempat baru, wajar apabila muncul rasa tidak nyaman.
Otak membutuhkan waktu untuk mengenali lingkungan baru sebagai tempat yang aman. Apalagi, banyak hal yang sebelumnya familiar dan memberikan rasa nyaman kini tidak lagi berada di sekitarmu.
Karena itu, jangan heran jika pada masa-masa awal kuliah kamu merasa asing, cemas, atau bahkan kesepian. Semua perasaan tersebut merupakan bagian dari proses beradaptasi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi perasaan tersebut?
1. Jangan Terburu-buru Menghilangkan Rasa Homesick
Homesick adalah hal yang wajar. Kamu tidak perlu memaksa diri untuk langsung merasa nyaman dengan lingkungan baru.
Berikan dirimu waktu untuk beradaptasi.
Pelan-pelan, hari-harimu akan mulai dipenuhi tugas kuliah, kegiatan kampus, organisasi, hingga pertemanan baru. Tanpa disadari, tempat yang sebelumnya terasa asing perlahan bisa berubah menjadi rumah kedua.
2. Jangan Terus Mengurung Diri di Kos
Percaya atau tidak, semakin lama kamu hanya berdiam diri di kamar kos, semakin besar pula kemungkinan rasa kesepian muncul.
Setelah perkuliahan selesai, cobalah sesekali mengeksplorasi lingkungan kampus. Kamu bisa nongkrong di kantin, berjalan-jalan di sekitar kampus, mengerjakan tugas di perpustakaan, atau sekadar duduk bersama teman.
Semakin sering kamu berinteraksi dengan lingkungan baru, semakin cepat pula kamu mengenali tempat tersebut sebagai lingkungan yang aman dan familiar.
3. Bawa “Potongan Rumah” ke Kos
Tidak ada salahnya membawa beberapa barang yang memiliki kenangan atau nuansa familiar dari rumah.
Misalnya, foto keluarga, parfum yang biasa kamu gunakan, bantal, selimut, boneka favorit, atau barang kecil lainnya yang memiliki cerita tersendiri.
Hal-hal sederhana seperti itu dapat memberikan rasa nyaman atau sense of familiarity di tengah lingkungan yang masih terasa serba baru.
Kadang, melihat satu foto keluarga atau mencium aroma parfum yang familiar saja sudah cukup untuk membuat kamar kos terasa sedikit lebih dekat dengan rumah.
4. Cari Teman “Senasib”
Ingat, kamu tidak sendirian.
Hampir semua mahasiswa baru sedang menghadapi proses adaptasinya masing-masing. Bisa jadi, teman yang terlihat santai di kelas sebenarnya juga sedang menahan rindu terhadap rumah.
Karena itu, tidak ada salahnya mulai membuka obrolan, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Ini juga menjadi kesempatan untuk menemukan teman-teman baru yang bisa diajak menjalani perjalanan kuliah bersama.
Siapa tahu, seseorang yang awalnya hanya kamu kenal karena duduk satu kelas justru menjadi salah satu orang yang membuat kehidupan perkuliahan terasa lebih seperti “pulang”.
Pada Akhirnya, Kamu Akan Menemukan “Pulang” yang Baru
Memasuki fase baru sebagai mahasiswa bukan berarti kamu tidak boleh merindukan rumah.
Kamu boleh merindukan momen bersama keluarga di meja makan. Kamu boleh merasa sedih ketika harus kembali ke kos setelah liburan. Kamu juga boleh menelepon orang tua hanya karena ingin mendengar suara mereka.
Namun, percayalah, seiring berjalannya waktu semuanya akan terasa lebih ringan.
Akan ada saat ketika kamu mulai hafal jalan menuju kampus. Akan ada tempat makan favorit yang selalu kamu datangi. Akan ada teman yang bisa kamu cari ketika sedang menghadapi masalah. Akan ada sudut-sudut kampus yang perlahan menjadi tempat nyaman untuk disinggahi.
Bahkan, kamar kos yang dahulu terasa begitu asing bisa berubah menjadi tempat yang justru kamu rindukan ketika sedang berada jauh darinya.
Mungkin, tanpa kita sadari, seperti inilah salah satu proses menuju kedewasaan.
Kita mulai memahami bahwa “pulang” tidak selalu berarti kembali ke rumah tempat kita dibesarkan. Terkadang, pulang berarti menemukan rasa aman dan nyaman di tempat yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal.
Jadi, kalau sampai hari ini kamu masih sering merindukan rumah, tidak apa-apa. Berikan dirimu waktu.
Kamu sedang belajar menciptakan rasa “rumah” di tempat yang baru, sembari tetap menyimpan rumah lamamu di dalam hati.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda