Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ospek Jurusan: Sarana Pengenalan Lingkungan Prodi atau Sekadar Balas Dendam Kating?

Ospek Jurusan: Sarana Pengenalan Lingkungan Prodi atau Sekadar Balas Dendam Kating?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
04 September 2026, 02.44 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
Ospek Jurusan

Penulis: Jeriko Ivent Okytio

JurnalPost.com - Masa transisi dari Sekolah Menengah Atas (SMA) menuju perguruan tinggi merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan pendidikan seseorang. Di tengah antusiasme menyandang status sebagai mahasiswa baru, ada satu tradisi yang hampir selalu menjadi bagian dari proses penyambutan di lingkungan kampus, yakni orientasi mahasiswa baru atau yang secara resmi dikenal sebagai Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

IKLAN

Di banyak perguruan tinggi, rangkaian pengenalan kampus biasanya berlangsung secara bertahap. Dimulai dari tingkat universitas, berlanjut ke fakultas, kemudian bermuara pada tingkat jurusan atau program studi. Tahap terakhir inilah yang di kalangan mahasiswa kerap disebut sebagai ospek jurusan atau osjur.

Jauh dari Rumah
Baca Juga

Jauh dari Rumah, Dekat dengan Mimpi: Mengubah Homesick Menjadi Asik sebagai Mahasiswa Baru

Berbeda dengan PKKMB tingkat universitas maupun fakultas yang umumnya berada di bawah koordinasi resmi pihak kampus, osjur memiliki dinamika tersendiri. Kegiatan ini biasanya lebih banyak dirancang dan dijalankan oleh organisasi kemahasiswaan, khususnya Himpunan Mahasiswa di tingkat jurusan atau program studi.

Pada titik inilah perdebatan kerap muncul.

Tidak sedikit kampus yang melaksanakan osjur ketika kegiatan perkuliahan semester pertama sudah berjalan. Artinya, mahasiswa baru harus membagi perhatian antara beradaptasi dengan dunia perkuliahan dan mengikuti berbagai agenda osjur yang terkadang membutuhkan waktu, tenaga, bahkan konsentrasi yang tidak sedikit.

Situasi tersebut kemudian melahirkan dua pandangan yang bertolak belakang. Sebagian mahasiswa menilai osjur sebagai sarana penting untuk memahami lingkungan program studi, sementara sebagian lainnya menganggap kegiatan tersebut justru menambah beban dan berpotensi menjadi ruang tumbuhnya praktik senioritas.

Homesick
Baca Juga

Ketika Kamar Kos Terasa Asing: Cara Maba Menghadapi Homesick

Beban Tambahan di Tengah Adaptasi Akademik

Bagi mahasiswa baru yang kurang sepakat dengan pelaksanaan osjur, persoalan utama biasanya terletak pada waktu dan beban kegiatan.

Peralihan dari sistem belajar di SMA menuju perguruan tinggi bukan perkara sederhana. Mahasiswa baru harus mulai memahami sistem kredit semester (SKS), membiasakan diri dengan metode pembelajaran yang lebih mandiri, menghadapi tugas perkuliahan, hingga menyesuaikan diri dengan cara mengajar dosen yang berbeda-beda.

Pada kondisi seperti itu, kehadiran osjur dengan jadwal yang berlangsung di sela-sela perkuliahan ataupun pada akhir pekan dapat mengurangi waktu istirahat mahasiswa.

Energi mereka akhirnya terbagi antara menyelesaikan kewajiban akademik dan memenuhi berbagai tuntutan kegiatan osjur.

Putri Dwi Aprilia Nur Khasanah
Baca Juga

Kampus Ramah, Mahasiswa Aman: Dosen UPN Veteran Jatim Edukasi 200 Mahasiswa Baru tentang Pencegahan Kekerasan

Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah banyaknya tugas dengan tenggat waktu yang relatif singkat. Beberapa penugasan bahkan dianggap kurang memiliki hubungan langsung dengan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Misalnya, pembuatan atribut dengan ukuran tertentu, pengumpulan biodata mahasiswa satu program studi, hingga kewajiban mengenal atau menghafal identitas sejumlah panitia dan senior.

Jika tidak disertai penjelasan mengenai tujuan dan manfaatnya, tugas semacam itu mudah dipersepsikan sebagai kegiatan yang sekadar mempertahankan tradisi dari tahun ke tahun.

Hal serupa berlaku pada pola komunikasi antara senior dan mahasiswa baru.

Nada bicara yang terlalu keras, tekanan berlebihan, ataupun pendekatan yang cenderung intimidatif dapat memunculkan kesan bahwa osjur bukan lagi kegiatan pembinaan, melainkan bentuk pelampiasan senioritas.

Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa baru bisa saja mempertanyakan satu hal sederhana: apakah tugas dan tekanan tersebut benar-benar diperlukan untuk mengenal jurusan, atau hanya mengulang pengalaman yang pernah dialami senior ketika masih menjadi mahasiswa baru?

Pertanyaan inilah yang kemudian memunculkan istilah “balas dendam kating” dalam berbagai perbincangan mahasiswa.

Di Balik Kritik, Osjur Tetap Punya Manfaat

Meski demikian, tidak semua mahasiswa memandang osjur secara negatif.

Sebagian justru menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat besar, terutama dalam membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan program studi secara lebih spesifik.

Jika PKKMB tingkat universitas lebih banyak memberikan gambaran umum mengenai kehidupan kampus, osjur dapat menjadi ruang untuk mengenal berbagai hal yang lebih dekat dengan kehidupan akademik sehari-hari.

Mahasiswa baru dapat memperoleh informasi mengenai kultur belajar di program studi, fasilitas laboratorium, organisasi mahasiswa, karakteristik mata kuliah, hingga berbagai pengalaman akademik dari mahasiswa tingkat atas.

Informasi semacam ini memang tidak selalu diperoleh secara lengkap melalui kegiatan orientasi formal.

Pengalaman para senior juga dapat menjadi sumber pengetahuan praktis bagi mahasiswa baru. Mulai dari cara mempersiapkan mata kuliah tertentu, memahami pola pembelajaran dosen, mencari referensi perkuliahan, hingga memperoleh gambaran mengenai kegiatan akademik dan organisasi yang dapat diikuti selama kuliah.

Dalam konteks tersebut, osjur bisa menjadi jembatan antara mahasiswa baru dengan lingkungan akademiknya.

Membangun Solidaritas dan Relasi

Manfaat lain yang sering dirasakan adalah terbentuknya kedekatan antarmahasiswa dalam satu angkatan.

Pada awal masa kuliah, tidak semua mahasiswa saling mengenal. Sebagian bahkan berasal dari kota, daerah, maupun latar belakang pendidikan yang berbeda.

Melalui berbagai aktivitas bersama, mahasiswa baru memiliki kesempatan untuk berinteraksi lebih intensif. Kerja kelompok, diskusi, ataupun penyelesaian tugas secara kolektif dapat membantu membangun komunikasi dan rasa kebersamaan.

IKLAN

Solidaritas yang terbentuk pada masa awal perkuliahan ini kerap bertahan hingga semester-semester berikutnya.

Selain hubungan antarmahasiswa satu angkatan, osjur juga membuka ruang komunikasi dengan para senior.

Relasi tersebut dapat menjadi salah satu modal sosial selama menjalani kehidupan kampus. Mahasiswa baru memiliki tempat untuk bertanya mengenai pengalaman perkuliahan, organisasi, kegiatan akademik, bahkan persiapan menghadapi tugas akhir pada jenjang berikutnya.

Senior yang menjalankan perannya sebagai mentor dapat membantu mahasiswa baru beradaptasi lebih cepat dengan kehidupan di program studi.

Tugas kelompok dan tenggat waktu tertentu juga sering dianggap sebagai latihan awal untuk membangun kemampuan bekerja sama, mengatur waktu, dan menghadapi tekanan.

Namun, manfaat tersebut tentu hanya dapat tercapai apabila seluruh kegiatan dirancang secara proporsional.

Ketika Pembinaan Berubah Menjadi Tekanan

Dua pandangan mengenai osjur sebenarnya menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata terletak pada keberadaan kegiatan tersebut.

Yang lebih menentukan adalah bagaimana kegiatan itu dirancang dan dilaksanakan.

Osjur pada dasarnya dapat menjadi instrumen positif untuk membantu mahasiswa baru mengenal program studi, membangun relasi, serta memahami budaya akademik sejak awal.

Masalah muncul ketika metode yang digunakan justru terlalu menekankan tekanan, hukuman, tugas yang tidak relevan, ataupun pola komunikasi yang berlebihan.

Kegiatan orientasi seharusnya tidak membuat mahasiswa baru merasa takut terhadap senior atau organisasi mahasiswa.

Sebaliknya, kegiatan tersebut semestinya menjadi ruang pertama bagi mahasiswa baru untuk merasakan bahwa mereka diterima sebagai bagian dari komunitas akademik.

Apalagi mahasiswa baru telah menghadapi tantangan tersendiri dalam menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan.

Jika beban osjur justru membuat mereka kelelahan hingga mengganggu proses akademik, tujuan awal dari kegiatan tersebut perlu kembali dipertanyakan.

Osjur Perlu Bertransformasi

Perdebatan mengenai osjur seharusnya menjadi momentum bagi Himpunan Mahasiswa maupun pihak program studi untuk melakukan evaluasi.

Tradisi tidak selalu harus dihapus, tetapi tradisi perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan perkembangan lingkungan pendidikan.

Penugasan, misalnya, sebaiknya dirancang secara rasional serta memiliki hubungan jelas dengan pengembangan mahasiswa.

Alih-alih sekadar mengumpulkan biodata dalam jumlah besar atau membuat atribut yang rumit, panitia dapat menghadirkan kegiatan yang lebih relevan.

Diskusi mengenai prospek karier, pengenalan laboratorium, tur fasilitas program studi, simulasi kegiatan akademik, mentoring bersama senior, hingga pengenalan organisasi dapat menjadi alternatif yang lebih edukatif.

Demikian pula dalam hal komunikasi.

Ketegasan tetap diperlukan untuk menjaga disiplin, tetapi ketegasan tidak harus diwujudkan melalui intimidasi.

Senior perlu mampu menjelaskan alasan di balik setiap kegiatan agar mahasiswa baru memahami nilai yang ingin dibangun.

Transparansi inilah yang dapat mengurangi kesalahpahaman sekaligus menghilangkan persepsi bahwa osjur hanyalah ruang bagi senior untuk mengulang perlakuan yang dahulu pernah mereka terima.

Pada akhirnya, osjur tidak seharusnya menjadi arena pembuktian siapa yang lebih senior maupun siapa yang paling kuat menghadapi tekanan.

Esensi kegiatan tersebut adalah membantu mahasiswa baru mengenal lingkungan tempat mereka akan belajar selama beberapa tahun ke depan.

Dengan konsep yang lebih edukatif, inklusif, dan relevan, osjur dapat menjadi pengalaman awal yang berkesan bagi mahasiswa baru.

Bukan karena tekanan yang mereka alami, tetapi karena melalui kegiatan tersebut mereka merasa diterima, mengenal lingkungan akademiknya, menemukan teman seperjuangan, serta memperoleh senior yang dapat menjadi tempat belajar.

Jika semangat itu yang dibangun, pertanyaan tentang apakah osjur merupakan sarana pengenalan lingkungan program studi atau sekadar “balas dendam kating” seharusnya tidak lagi perlu muncul.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/ospek-jurusan-sarana-pengenalan-lingkungan-prodi-atau-sekadar-balas-dendam-kating/97572/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 18.56 WITA

  • #Himpunan Mahasiswa
  • #kehidupan kampus
  • #mahasiswa baru
  • #ospek jurusan
  • #pkkmb
  • #senioritas

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.