Dubai, JurnalPost.com - Harga minyak diperkirakan masih membutuhkan waktu empat hingga delapan pekan untuk kembali stabil, meskipun Selat Hormuz dibuka kembali pada pekan ini. Sejumlah faktor, mulai dari antrean kapal tanker, biaya asuransi yang tinggi, rendahnya persediaan, hingga risiko geopolitik, dinilai masih menjaga premi risiko di pasar energi.
Hal itu dilaporkan Gulf News yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA), Rabu (17/6/2026), mengutip sejumlah analis.
Dalam laporan tersebut, harga minyak mentah Brent disebut telah turun dari level tertinggi selama masa perang yang mendekati 120 dolar AS per barel menjadi sekitar 80 dolar AS per barel. Penurunan itu terjadi seiring pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang kesepakatan Amerika Serikat-Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Meski begitu, para analis menilai pasar minyak fisik tidak akan langsung pulih. Berbeda dengan pasar berjangka yang dapat bereaksi cepat terhadap sentimen dan ekspektasi, distribusi fisik minyak membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Berdasarkan laporan tersebut, selat itu menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) global.
Para analis menyebut pasar masih membutuhkan bukti bahwa kapal-kapal tanker dapat berlayar secara aman dan konsisten sebelum sisa premi geopolitik benar-benar hilang dari harga minyak.
Krisis tersebut juga kembali menyoroti ketergantungan dunia terhadap arus energi melalui Selat Hormuz. Kondisi ini diperkirakan dapat mempercepat langkah negara-negara Teluk dalam mengembangkan jaringan pipa dan rute ekspor alternatif.
Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat keamanan energi sekaligus mengurangi kerentanan terhadap gangguan serupa di masa mendatang.
Sebelumnya, Amerika Serikat, Pakistan, dan Iran pada Senin (15/6/2026) dini hari waktu setempat mengumumkan finalisasi nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) perdamaian untuk mengakhiri perang setelah negosiasi selama beberapa pekan.
MoU tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026).
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (16/6/2026) mengatakan pihaknya akan memastikan Selat Hormuz dibuka sepenuhnya per Jumat. (Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda