Oleh: Pradjna Kirana Putriagindra
Generasi yang Sibuk Mencari Arah Hidup Salah satu pertanyaan yang paling sering menghantui anak muda hari ini adalah, Hidup kamu mau dibawa kemana? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi bagi banyak orang, kalimat tersebut justru terasa menekan. Media sosial, seminar motivasi, hingga lingkungan pertemanan membuat generasi muda percaya bahwa setiap orang harus segera menemukan passion sejak usia muda. Akibatnya, banyak orang mulai merasa panik ketika hidupnya belum memiliki arah yang jelas.
Hari ini, anak muda berlomba mencari passion seperti sedang mengejar sesuatu yang wajib ditemukan secepat mungkin. Ada yang mencoba berbagai organisasi, ikut banyak pelatihan, membangun bisnis kecil-kecilan, mengambil magang di banyak tempat, bahkan terus memaksa dirinya terlihat produktif setiap saat. Semua dilakukan demi satu tujuan agar tidak terlihat tertinggal dibanding orang lain. Padahal, bisa jadi yang sebenarnya mereka cari bukanlah tujuan, melainkan rasa aman bahwa hidup mereka tidak kalah cepat dari orang lain.
Media Sosial Membuat Semua Orang Terlihat Sudah Sukses Tekanan terbesar generasi sekarang datang dari media sosial. Setiap hari, anak muda melihat orang lain terlihat begitu yakin dengan jalan hidupnya. Ada yang sudah menjadi content creator sukses di usia 20 tahun, diterima magang di perusahaan besar, memiliki bisnis sendiri, atau berhasil mendapatkan banyak pencapaian sebelum lulus kuliah.
Tanpa disadari, semua itu membentuk standar baru tentang kesuksesan anak muda. Akhirnya, banyak orang merasa hidupnya berjalan terlalu lambat. Ketika melihat teman sebaya sudah memiliki pencapaian besar, mereka mulai mempertanyakan dirinya sendiri. “Kenapa aku belum menemukan tujuan hidup untuk didepan nanti?” “Kenapa aku masih bingung?” “Kenapa hidupku terasa biasa saja?”
Nyatanya, media sosial sering kali hanya memperlihatkan hasil akhir tanpa menunjukkan kebingungan, kegagalan, atau tekanan yang dialami seseorang di balik layar. Ironisnya, semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain, semakin sulit ia mendengar apa yang sebenarnya ia inginkan untuk dirinya sendiri.
Tidak Semua Kesibukan Adalah Panggilan Hati Fenomena ini membuat banyak anak muda menjalani hidup dalam mode “coba semuanya”. Mereka mengikuti banyak kegiatan, berpindah minat dengan cepat, dan terus mencari sesuatu yang dianggap bisa menjadi passion hidupnya. Namun, tidak sedikit yang sebenarnya melakukan semua itu karena takut tertinggal. Takut dianggap tidak berkembang. Takut kalah pencapaian. Takut terlihat gagal di usia muda.
Akibatnya, banyak aktivitas dilakukan bukan karena benar-benar disukai, tetapi karena terlihat keren dan bernilai di mata sosial. Ada yang masuk organisasi hanya agar dianggap aktif. Mengikuti lomba demi mempercantik CV. Mengambil pekerjaan tertentu karena sedang tren. Bahkan ada yang memaksakan mimpi orang lain menjadi tujuan hidupnya sendiri.
Hari ini, passion sering berubah menjadi tuntutan sosial. Padahal, sesuatu yang benar-benar disukai biasanya tumbuh secara perlahan, bukan muncul karena tekanan untuk segera sukses. Generasi yang Takut Menjadi “Biasa Saja”
Yang lebih menyedihkan, banyak anak muda sekarang merasa hidup biasa adalah bentuk kegagalan. Media sosial membuat semua orang ingin menjadi luar biasa secepat mungkin. Akibatnya, proses hidup yang lambat sering dianggap memalukan. Padahal, tidak semua orang harus sukses di usia muda. Tidak semua orang langsung tau apa yang ingin mereka lakukan dalam hidupnya. Ada orang yang baru menemukan minat nya setelah bertahun-tahun mencoba banyak hal. Ada juga yang tumbuh melalui proses sederhana yang tidak terlihat keren di internet.
Namun, dunia digital membuat hidup terasa seperti perlombaan tanpa jeda. Anak muda akhirnya hidup dalam kecemasan yang terus-menerus. Mereka merasa harus selalu bergerak, selalu produktif, dan selalu punya pencapaian baru agar tidak kalah dari orang lain. Bahkan saat lelah pun, banyak yang tetap memaksa diri karena takut tertinggal terlalu jauh. Lingkungan seperti ini membuat banyak orang kehilangan kesempatan untuk benar-benar mengenal dirinya sendiri.
Passion Tidak Selalu Datang dengan Cepat Salah satu kesalahan terbesar generasi sekarang adalah menganggap aspirasi harus ditemukan seperti jawaban pasti. Padahal, dalam kenyataannya, passion sering kali dibangun melalui proses panjang.
Seseorang bisa menyukai sesuatu karena terbiasa menjalaninya, bukan karena langsung merasa “ini dia tujuan-ku” sejak awal. Banyak orang sukses justru menemukan arah hidupnya setelah berkali-kali merasa bingung.
Lagi-lagi, media sosial jarang menunjukkan proses tersebut. Yang terlihat hanyalah hasil akhirnya, pencapaian, kesuksesan, dan kehidupan yang tampak terarah. Akibatnya, banyak anak muda merasa dirinya gagal hanya karena belum menemukan sesuatu yang benar-benar mereka cintai. Bingung di usia muda adalah hal yang sangat manusiawi.Tidak memiliki semua jawaban sekarang bukan berarti hidup sedang tertinggal.
Mungkin Kita Hanya Perlu Berhenti Membandingkan Diri Mungkin sudah saatnya generasi muda berhenti terlalu keras mengejar definisi sukses versi internet. Tidak semua orang harus bergerak dengan kecepatan yang sama. Tidak semua orang harus memiliki pencapaian besar sebelum usia tertentu.
Terkadang, hidup memang membutuhkan waktu untuk dipahami. Tidak apa-apa jika masih bingung. Tidak apa-apa jika jalan hidup terasa lambat. Dan tidak apa-apa jika belum menemukan passion sebesar yang dimiliki orang lain.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat menemukan arah, melainkan siapa yang mampu menjalani prosesnya tanpa terus-menerus merasa kalah dari kehidupan orang lain. (PK)
Oleh: Pradjna Kirana Putriagindra Teknik Grafika dan Penerbitan, Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda