- Meningkatkan Literasi Hukum dan Politik: Mulailah dari hal kecil dengan membiasakan membaca untuk memahami hak-hak kita sebagai warga negara. Sering kali, ketakutan untuk berbicara muncul karena kurangnya pemahaman tentang batasan hukum yang sebenarnya, sehingga literasi hukum menjadi perisai utama.
- Menerapkan "Weapons of the Week" (Senjata Orang Lemah): Ini adalah aksi-aksi kecil namun konsisten yang berdampak besar jika dilakukan secara massal. Contohnya adalah berdiskusi mengenai isu-isu aktual (seperti kenaikan harga BBM atau kriminalisasi) saat sedang berkumpul, atau sekadar melakukan aksi digital seperti berbagi templat, memposting ulang, dan mengunggah informasi di media sosial untuk membangun kesadaran publik.
- Bergerak secara Kolektif (Berkelompok): Menghadapi sistem yang besar akan terasa menakutkan jika dilakukan sendirian, namun ada kekuatan dalam jumlah banyak (power in number). Kita bisa berkolektif sebagai warga sipil, sehingga jika terjadi intimidasi, kita akan merasa lebih aman karena memiliki dukungan dari rekan sejawat maupun pengacara muda yang peduli.
- Memberikan Dukungan Langsung secara Fisik: Selain di media sosial, kita juga harus memberikan aksi nyata dengan cara ikut hadir langsung di pengadilan (seperti mengawal sidang Nadiem Makarim atau tokoh lainnya) serta mendatangi gerakan-gerakan aspirasi seperti "Kamisan" dsb.
- Jangan Putus Asa dan Tetap Mengabdi: Nadiem Makarim menekankan agar generasi muda jangan pernah putus asa terhadap Indonesia dan tidak memilih untuk menjauh dari sistem. Justru kehadiran anak muda yang membawa perspektif baru dan pengetahuan global sangat dibutuhkan untuk membawa pembaruan.
- Menjadi Bagian dari "5% Orang yang Sadar": Di tengah mayoritas yang mungkin apatis, jadilah kelompok kecil yang terus menyuarakan kebenaran dan menjaga optimisme. Sebagaimana sejarah kemerdekaan Indonesia yang digerakkan oleh sedikit tokoh terpelajar, dulu hampir 95% masyarakat Indonesia tidak bisa membaca dan tidak paham dengan arti kemerdekaan, “Apa itu merdeka?” Namun, dengan 5% tokoh terpelajar saat itu berhasil membawa perubahan bagi masa depan bangsa.
Kasus Nadiem Makarim Bukan Alasan Anak Muda Menjadi Pesimis
Penulis: Aura Nurrisa Shafha
JurnalPost.com - Tuntutan 18 tahun penjara atas dugaan pengadaan chromebook kepada Nadiem Makarim menjadi viral di media sosial. Melihat tokoh yang dianggap membawa perubahan justru terseret persoalan hukum dan politik, mematahkan semangat generasi muda untuk mengabdi kepada negara.
Beredar komentar di media sosial dengan caption “we’re doomed” yang artinya kita sudah tamat atau tidak ada harapan lagi. Ini menandakan adanya rasa keputusasaan dan kekecewaan pada generasi muda yang merasa hukum di Indonesia sudah tidak bisa dipercaya sebagai tempat mencari keadilan.
Hal ini membawa efek domino yang cukup besar. Kekhawatiran utamanya adalah mereka yang benar-benar memiliki kapasitas intelektual menjadi takut dan enggan untuk terlibat dalam tata kelola pemerintahan di indonesia. Dalam jangka panjang, kondisi Ini dapat berdampak buruk karena posisi-posisi strategis pemerintahan beresiko diisi oleh pejabat yang tidak kompeten.
Generasi muda, terutama para diaspora yang sedang mengejar pendidikan atau pekerjaannya di luar negeri, tahu bahwa masalah seperti ini merupakan sinyal bahaya bagi mereka. Tak sedikit dari mereka pun angkat bicara dan mempertanyakan, Adakah ruang untuk idealisme di negara ini? Untuk apa merubah jika hal tersebut dianggap sebagai ancaman?
Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem makarim, mengaku tidak menyesal atas apa yang ia lakukan atas dugaan korupsi yang menimpanya. Ia justru mengajak generasi muda untuk tidak kehilangan harapan terhadap bangsa dan negara. Baginya kondisi saat ini bukan menjadi alasan untuk tidak mengabdi kepada negara, Karena pengabdian itu tidak mungkin sia-sia.
Nadiem secara khusus menyapa anak-anak muda Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan atau bekerja di luar negeri. Ia memahami kekecewaan yang kerap muncul ketika melihat berbagai masalah di dalam negeri. Namun ia menegaskan bahwa keputusasaan bukanlah jalan keluar. Lalu apa langkah kita sebagai generasi muda? Haruskah kita menyerah begitu saja? Atau adakah langkah yang bisa kita lakukan untuk saat ini?
Mulai Dengan Langkah Kecil
Sebagai generasi muda tentunya ada beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menghadapi krisis kepercayaan terhadap hukum dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa:
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda