Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kasus Nadiem Makarim Bukan Alasan Anak Muda Menjadi Pesimis

Kasus Nadiem Makarim Bukan Alasan Anak Muda Menjadi Pesimis

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
19 Mei 2026, 14.00 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Nadiem Makarim
SIDANG CHROMEBOOK - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan laptop Chromebook yang melibatkan Nadiem Makarim, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).
Penulis: Aura Nurrisa Shafha JurnalPost.com - Tuntutan 18 tahun penjara atas dugaan pengadaan chromebook kepada Nadiem Makarim menjadi viral di media sosial. Melihat tokoh yang dianggap membawa perubahan justru terseret persoalan hukum dan politik, mematahkan semangat generasi muda untuk mengabdi kepada negara. Beredar komentar di media sosial dengan caption “we’re doomed” yang artinya kita sudah tamat atau tidak ada harapan lagi. Ini menandakan adanya rasa keputusasaan dan kekecewaan pada generasi muda yang merasa hukum di Indonesia sudah tidak bisa dipercaya sebagai tempat mencari keadilan. Hal ini membawa efek domino yang cukup besar. Kekhawatiran utamanya adalah mereka yang benar-benar memiliki kapasitas intelektual menjadi takut dan enggan untuk terlibat dalam tata kelola pemerintahan di indonesia. Dalam jangka panjang, kondisi Ini dapat berdampak buruk karena posisi-posisi strategis pemerintahan beresiko diisi oleh pejabat yang tidak kompeten. Generasi muda, terutama para diaspora yang sedang mengejar pendidikan atau pekerjaannya di luar negeri, tahu bahwa masalah seperti ini merupakan sinyal bahaya bagi mereka. Tak sedikit dari mereka pun angkat bicara dan mempertanyakan, Adakah ruang untuk idealisme di negara ini? Untuk apa merubah jika hal tersebut dianggap sebagai ancaman? Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem makarim, mengaku tidak menyesal atas apa yang ia lakukan atas dugaan korupsi yang menimpanya. Ia justru mengajak generasi muda untuk tidak kehilangan harapan terhadap bangsa dan negara. Baginya  kondisi saat ini bukan menjadi alasan untuk tidak mengabdi kepada negara, Karena pengabdian itu tidak mungkin sia-sia. Nadiem secara khusus menyapa anak-anak muda Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan atau bekerja di luar negeri. Ia memahami kekecewaan yang kerap muncul ketika melihat berbagai masalah di dalam negeri. Namun ia menegaskan bahwa keputusasaan bukanlah jalan keluar. Lalu apa langkah kita sebagai generasi muda? Haruskah kita menyerah begitu saja? Atau adakah langkah yang bisa kita lakukan untuk saat ini? Mulai Dengan Langkah Kecil Sebagai generasi muda tentunya ada beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menghadapi krisis kepercayaan terhadap hukum dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa:
  • Meningkatkan Literasi Hukum dan Politik: Mulailah dari hal kecil dengan membiasakan membaca untuk memahami hak-hak kita sebagai warga negara. Sering kali, ketakutan untuk berbicara muncul karena kurangnya pemahaman tentang batasan hukum yang sebenarnya, sehingga literasi hukum menjadi perisai utama.
  • Menerapkan "Weapons of the Week" (Senjata Orang Lemah): Ini adalah aksi-aksi kecil namun konsisten yang berdampak besar jika dilakukan secara massal. Contohnya adalah berdiskusi mengenai isu-isu aktual (seperti kenaikan harga BBM atau kriminalisasi) saat sedang berkumpul, atau sekadar melakukan aksi digital seperti berbagi templat, memposting ulang, dan mengunggah informasi di media sosial untuk membangun kesadaran publik.
  • Bergerak secara Kolektif (Berkelompok): Menghadapi sistem yang besar akan terasa menakutkan jika dilakukan sendirian, namun ada kekuatan dalam jumlah banyak (power in number). Kita bisa berkolektif sebagai warga sipil, sehingga jika terjadi intimidasi, kita akan merasa lebih aman karena memiliki dukungan dari rekan sejawat maupun pengacara muda yang peduli.
  • Memberikan Dukungan Langsung secara Fisik: Selain di media sosial, kita juga harus memberikan aksi nyata dengan cara ikut hadir langsung di pengadilan (seperti mengawal sidang Nadiem Makarim atau tokoh lainnya) serta mendatangi gerakan-gerakan aspirasi seperti "Kamisan" dsb.
  • Jangan Putus Asa dan Tetap Mengabdi: Nadiem Makarim menekankan agar generasi muda jangan pernah putus asa terhadap Indonesia dan tidak memilih untuk menjauh dari sistem. Justru kehadiran anak muda yang membawa perspektif baru dan pengetahuan global sangat dibutuhkan untuk membawa pembaruan.
  • Menjadi Bagian dari "5% Orang yang Sadar": Di tengah mayoritas yang mungkin apatis, jadilah kelompok kecil yang terus menyuarakan kebenaran dan menjaga optimisme. Sebagaimana sejarah kemerdekaan Indonesia yang digerakkan oleh sedikit tokoh terpelajar, dulu hampir 95% masyarakat Indonesia tidak bisa membaca dan tidak paham dengan arti kemerdekaan, “Apa itu merdeka?” Namun, dengan 5% tokoh terpelajar saat itu berhasil membawa perubahan bagi masa depan bangsa.
Pada akhirnya, krisis kepercayaan ini adalah ujian besar bagi masa depan bangsa. Meskipun sistem penegakan hukum saat ini sering kali dinilai "bobrok dan rusak" akibat adanya oknum yang memaksakan kasus demi kepentingan tertentu, menyerah pada sikap apatis bukanlah jalan keluar. Sebagaimana pesan Nadiem Makarim, pengabdian kepada negara memang penuh risiko, namun masa depan Indonesia jauh lebih berharga daripada risiko-risiko tersebut. “Indonesia masih membutuhkan kalian. Pulanglah, berkontribusi lah, dan percayalah bahwa harapan itu nyata,” tutup Nadiem. Pernyataan tersebut menjadi refleksi mendalam bagi kalangan anak muda untuk tidak larut dalam sikap apatis. Kita harus bangkit bersama dalam membangun negeri ini. Ingatlah bahwa langkah sekecil apapun tetaplah langkah. Oleh karena itu, mulailah dari hal sederhana seperti membaca atau sekedar membagikan ulang postingan yang mengandung isu penting. Jangan takut dibilang “fomo politik” karena dari sekedar fomo bisa menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan yang lebih kuat. Dari rasa ingin tahu inilah kesadaran kritis akan tumbuh, justru ini adalah bukti bahwa kita aware dan masih peduli terhadap apa yang terjadi di negeri ini.  

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/kasus-nadiem-makarim-bukan-alasan-anak-muda-menjadi-pesimis/93357/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.14 WITA

  • #Nadiem Makarim
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Pilihan Editor

  1. 1 PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online
  2. 2

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  3. 3

    Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

  4. 4

    Inovasi Teh Kulit Jeruk: Pemanfaatan Limbah Pangan Fungsional untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

  5. 5

    Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.