Oleh: Novrisa Fitriana Mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
JurnalPost.com - Taraf kehidupan sosial generasi saat ini adalah standar yang beredar di media sosial, tidak jarang sekali, terutama gen-Z yang ikut terbawa dengan arus media sosial seperti TikTok dan Instagram. Salah satu yang saat ini hangat dilakukan adalah dengan melakukan aksi peduli lingkungan melalui aksi membawa Tumbler saat keluar entah itu bekerja, nongkrong di cafe, bahkan saat melaksanakan pembelajaran di kelas. Tumbler adalah wadah minuman portabel yang dirancang untuk digunakan berulang kali sebagai alternatif ramah lingkungan yang umumnya terbuat dari stainless steel, kaca, atau plastik tebal, serta dilengkapi penutup rapat untuk menjaga suhu minuman dan mencegah tumpah.
Sejak akhir tahun 2025 ini Indonesia digemparkan dengan viralnya kasus drama sosial akibat unggahan seorang penumpang KRL bernama Anita yang kehilangan sebuah tumbler bermerek lokal Tuku. Berita ini kemudian menjadi titik awal munculnya trend membawa tumbler, banyak influencer yang turut meramaikan trend media sosial ini dan bermunculan merk dari yang lokal sampai merk global.
Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang positif untuk berkontribusi dalam upaya menjaga lingkungan. Tapi makin kesini, fungsi dari sebuah tumbler sendiri rasanya sudah melenceng dari tujuan awal untuk menjaga lingkungan. Entah kapan mulainya, tetapi sekarang tumbler sudah berubah fungsi ia bukan lagi sekadar tempat air minum biasa tapi sudah menjadi aksesori gaya, yang diam-diam menunjukkan branding sosial bahwa “aku peduli lingkungan”, sekaligus jadi penanda status sosial yang halus tapi terasa. Pertanyaannya sederhana, bagaimana bisa sebuah benda yang fungsinya sederhana untuk menampung air kini memikul makna dan simbol yang jauh lebih besar?
Awalnya, botol minum hanya kita lihat sebagai benda praktis yang fungsinya sederhana yaitu untuk menjaga kita tetap terhidrasi sambil mengurangi sampah plastik. Namun, ketika kesadaran lingkungan yang menguat ini, ditambah dengan diperkuat oleh konten konten di media sosial, ia berubah dari sekadar barang pakai menjadi simbol identitas status sosial, menuntut sebuah esensi keindahan dan trendy di dalamnya.
Hal ini menjadi lebih kuat saat sebuah benda mulai dikaitkan dengan nilai-nilai tertentu, seperti labeling peduli lingkungan, hidup sehat, atau kesadaran sosial yang tinggi, benda itu otomatis berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar benda biasa tapi alat untuk menyampaikan kepedulian yang nyata tapi sudah menjadi identitas sosial, dan mulailah muncul sebuah pergerakan yang memunculkan stigma dan hierarki sosial yang mengkategorikan status orang orang dengan tumbler yang harganya dan warnanya aesthetic dengan orang orang yang menggunakan botol minum reusable atau tumbler yang biasa biasa saja.
Di kalangan generasi muda saat ini tumbler sudah dianggap sebagai item fashion yang keren, sehingga tidak jarang sekali banyak yang membeli dan mengoleksi banyak tumbler bukan karena tupoksinya lagi, melainkan agar bisa matching dengan outfit kesehariannya. Hal ini tentu menjadi masalah tersendiri yang awalnya dibuat untuk menjaga lingkungan malah jadi bahan yang bisa ikut mengancam lingkungan. Pengalihan inilah yang patut kita refleksikan sebagai generasi muda yang bertanggung jawab.
Permasalahan ini tentu bukanlah hal yang sederhana, dari kacamata psikologi lingkungan dan psikologi sosial hal ini dipahami sebagai sebuah identitas sosial yang menjelaskan bahwa manusia secara alamiah mendefinisikan diri mereka melalui kelompok-kelompok sosial yang mereka masuki. Kita bukan hanya individu tapi kita adalah anggota komunitas, dan keanggotaan itu perlu dirayakan, ditandai, dan dikomunikasikan.
Tumbler sejatinya adalah solusi lingkungan yang genuine untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang juga merupakan tindakan yang penuh makna dari sisi ekologis dan menjadi tindakan positif dalam kontribusinya untuk menjaga lingkungan saat ini. Dalam psikologi lingkungan, pro-environmental behavior yang mengakui bahwa nilai-nilai intrinsik lingkungan memang mendorong perubahan perilaku yang nyata.
Namun sebuah masalah muncul ketika motivasi ekstrinsik seperti pencitraan sosial mulai mendominasi motivasi intrinsik. Ketika para influencer mengoleksi banyak tumbler hanya karena ada edisi warna terbaru yang sedang viral, atau ketika seseorang merasa perlu mengganti botol yang masih berfungsi sempurna demi tumbler yang lebih "Instagramable", maka tujuan awal untuk menjaga lingkungan yang murni itu secara ironis justru berubah menjadi sebuah fenomena konsumsi yang berlebihan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda