Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Hakikat Kemuliaan Manusia Dan Perlakuan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Islam

Hakikat Kemuliaan Manusia Dan Perlakuan Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Islam

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
02 Februari 2026, 10.43 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Hakikat
Ilustrasi : Anak Berkebutuhan Khusus

Penulis : Marshall Ilmie El Azyzie

JurnalPost.com - Anak berkebutuhan khusus kerap diposisikan seolah berada di luar lingkaran “kenormalan” yang ditetapkan masyarakat. Mereka hadir di tengah keluarga, sekolah, dan ruang publik, tetapi sering tidak sepenuhnya diterima sebagai manusia yang utuh. Perbedaan kemampuan dianggap kekurangan, keterbatasan dipersepsikan sebagai kegagalan, dan keberadaan mereka kerap diperlakukan sebagai beban sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan terletak pada anak berkebutuhan khusus, melainkan pada cara manusia memaknai nilai kemanusiaan itu sendiri.

IKLAN

Dalam kehidupan modern, manusia cenderung dinilai dari fungsi dan produktivitas. Anak dipandang berhasil bila mampu memenuhi standar akademik, sosial, dan ekonomi yang seragam. Ketika standar ini dijadikan ukuran tunggal, maka anak berkebutuhan khusus otomatis tersisih. Mereka tidak dianggap setara, bukan karena kehilangan martabat, tetapi karena sistem kehilangan kebijaksanaan. Kesetaraan disalahartikan sebagai keseragaman, padahal keduanya tidak identik.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Islam sejak awal hadir dengan cara pandang yang berbeda dan mendasar. Islam tidak menilai manusia dari kesempurnaan fisik, kecerdasan intelektual, atau kemampuan berkompetisi. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan manusia bersifat prinsipil dan melekat pada penciptaannya. Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”

(QS. Al-Isra’: 70)

Salat Duha
Baca Juga

Salat Duha Jadi Pembiasaan Keagamaan untuk Mendukung Perkembangan Anak ASD di SLB Citra Mulia Mandiri

Ayat ini tidak memberikan syarat apa pun. Tidak disebutkan bahwa kemuliaan hanya bagi yang sehat, cerdas, atau kuat. Artinya, anak berkebutuhan khusus termasuk sepenuhnya dalam kemuliaan tersebut. Mengabaikan atau merendahkan mereka berarti menyalahi prinsip dasar Islam tentang manusia.

Lebih jauh, Islam memandang perbedaan sebagai sunnatullah, bukan penyimpangan. Allah dengan sengaja menciptakan manusia dalam kondisi yang beragam untuk menguji cara berpikir dan sikap satu sama lain. Anak berkebutuhan khusus bukan ujian bagi anak itu sendiri, melainkan ujian bagi lingkungan di sekitarnya: orang tua, masyarakat, dan negara. Ujian itu bukan tentang kesabaran semata, tetapi tentang keadilan dan tanggung jawab.

Islam juga sangat tegas dalam prinsip pembebanan sesuai kemampuan. Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

IKLAN

Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam tidak memaksakan standar seragam pada manusia. Setiap individu dinilai sesuai kapasitasnya. Dengan demikian, memaksa anak berkebutuhan khusus untuk memenuhi standar anak lain bukanlah keadilan, melainkan kezaliman yang dibungkus tuntutan sosial. Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sangat kuat terkait hal ini. Ketika Rasulullah saw. pernah berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat tunanetra, Allah langsung menegurnya melalui wahyu:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang kepadanya seorang buta.”

(QS. ‘Abasa: 1–2)

Teguran ini bukan sekadar peristiwa personal, tetapi koreksi peradaban. Allah ingin menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan seseorang, bahkan ketika ada urusan yang dianggap lebih penting secara sosial. Jika seorang nabi saja ditegur karena berpaling dari seorang penyandang disabilitas, maka bagaimana dengan masyarakat yang secara sistemik mengesampingkan anak berkebutuhan khusus?

Dalam konteks keluarga, Islam menempatkan orang tua sebagai penjaga amanah, bukan sekadar pengasuh. Anak berkebutuhan khusus bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan titipan yang harus dimuliakan. Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjaga martabatnya. Orang tua dituntut untuk berdamai dengan takdir tanpa kehilangan ikhtiar, menerima dengan iman tanpa mematikan akal, serta memperjuangkan hak anak tanpa rasa malu.

Strategi menghadapi anak berkebutuhan khusus dalam Islam tidak berangkat dari penyangkalan, tetapi dari penerimaan yang sadar. Menerima bukan berarti menyerah, melainkan memahami batas dan potensi secara jujur. Islam mendorong usaha maksimal sesuai kemampuan, bukan ambisi yang melampaui realitas. Dalam proses ini, orang tua juga dituntut menjaga kesehatan mentalnya sendiri, karena Islam tidak memerintahkan manusia untuk memikul beban di luar batasnya.

Pada tingkat masyarakat, Islam tidak mengajarkan belas kasihan yang merendahkan, melainkan keadilan yang memuliakan. Anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan simpati berlebihan, tetapi sistem yang adil. Keadilan dalam Islam bukan berarti perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang tepat. Memberi yang berbeda sesuai kebutuhannya justru itulah keadilan sejati.

Pada akhirnya, keberadaan anak berkebutuhan khusus memaksa manusia bercermin. Siapa yang sebenarnya “kurang”? Anak yang memiliki keterbatasan tertentu, atau masyarakat yang kehilangan empati dan hikmah? Islam telah memberikan kerangka berpikir yang jelas: kemuliaan manusia tidak diukur dari standar mayoritas, melainkan dari nilai yang Allah tetapkan.

Cara kita memperlakukan anak berkebutuhan khusus bukan hanya persoalan sosial, tetapi indikator kualitas iman dan peradaban. Di situlah Islam menempatkan manusia pada posisi yang seharusnya: memuliakan, bukan menyingkirkan; memahami, bukan menghakimi; dan bertanggung jawab, bukan sekadar merasa iba.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/hakikat-kemuliaan-manusia-dan-perlakuan-terhadap-anak-berkebutuhan-khusus-dalam-islam/90407/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 02.44 WITA

  • #Anak Berkebutuhan Khusus
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah
  2. 2

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

  3. 3

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  4. 4

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  5. 5

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.