Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Anak Guru dalam Perspektif Islam: Antara Amanah Ilmu dan Kehidupan Keluarga

Anak Guru dalam Perspektif Islam: Antara Amanah Ilmu dan Kehidupan Keluarga

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
02 Februari 2026, 10.27 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Kehidupan Keluarga
Ilustrasi: naratif emosional anak guru.

Oleh: Marshall Ilmie El Azyzie

JurnalPost.com - Tidak sedikit anak guru tumbuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan secara sederhana. Orang tua mereka hadir secara fisik, tetapi kerap terasa jauh secara emosional. Pagi dimulai dengan persiapan mengajar, siang dihabiskan bersama murid, sementara malam masih dilalui dengan pekerjaan administratif sekolah. Dalam ritme keseharian seperti ini, anak sering kali belajar memahami dunia dengan caranya sendiri.

IKLAN

Bagi seorang anak, pengalaman tersebut tidak selalu diterjemahkan sebagai kebencian atau pemberontakan. Lebih sering, ia hadir sebagai rasa sepi yang sunyi: keinginan bercerita yang tertunda, perhatian yang terasa terbagi, atau kebersamaan yang kalah oleh kesibukan. Pengalaman semacam ini bersifat manusiawi, nyata, dan tidak dapat diabaikan begitu saja.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Namun, realitas hidup tidak berhenti pada pengalaman perasaan semata. Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam jalinan makna, tujuan, dan tanggung jawab. Profesi guru, dalam tradisi Islam, bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah keilmuan. Ilmu bukan milik pribadi, melainkan titipan yang harus disampaikan. Oleh karena itu, banyak waktu seorang guru tersita bukan karena kelalaian, melainkan karena memikul tanggung jawab yang lebih luas.

Di sinilah anak guru berada dalam posisi yang khas. Ia hidup di antara keterbatasan dan keistimewaan. Keterbatasan waktu bersama orang tua adalah fakta yang dirasakan secara nyata. Namun, pada saat yang sama, ia tumbuh dalam atmosfer ilmu, adab, dan keteladanan. Nilai-nilai tersebut tidak selalu diajarkan secara verbal, tetapi dihayati melalui contoh hidup dalam keseharian.

Dalam banyak kasus, anak guru menunjukkan kematangan berpikir yang muncul lebih awal. Ia terbiasa menyaksikan orang tua menunda kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain. Ia melihat secara langsung bahwa hidup tidak hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi. Pengalaman ini perlahan membentuk kesadaran moral yang dalam, meskipun prosesnya tidak selalu terasa nyaman.

Islam memandang ilmu sebagai cahaya yang membawa keberkahan. Keberkahan ini tidak selalu hadir dalam bentuk materi atau waktu luang, tetapi dalam bentuk kemudahan hidup, kejernihan berpikir, serta arah moral yang lebih terjaga. Anak guru kerap menjadi bagian dari aliran keberkahan ini, meskipun ia sendiri tidak selalu menyadarinya pada masa kanak-kanak.

kebakaran hutan di Kalimantan
Baca Juga

Hutan Kalimantan Terbakar: Bencana Alam atau Ada Campur Tangan Manusia?

IKLAN

Meski demikian, Islam juga tidak menutup mata terhadap hak anak. Keluarga adalah ruang tarbiyah pertama, dan kehadiran orang tua memiliki nilai yang tidak tergantikan. Pengabdian sosial yang mengabaikan kehadiran emosional dalam keluarga bukanlah bentuk ideal yang dikehendaki Islam. Amanah ilmu dan amanah keluarga harus berjalan beriringan.

Oleh karena itu, persoalan anak guru tidak dapat dipahami secara hitam-putih. Ia bukan semata kisah kurangnya perhatian, dan juga bukan sekadar cerita tentang keberkahan yang harus diterima tanpa ruang refleksi. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan yang sadar dan adil.

Pada tingkat personal, orang tua yang berprofesi sebagai guru perlu menghadirkan dirinya secara utuh, meskipun dalam waktu yang terbatas. Kehadiran yang penuh perhatian, dialog yang jujur, serta pengakuan terhadap perasaan anak memiliki nilai yang sangat besar. Dalam Islam, kualitas relasi sering kali lebih menentukan daripada kuantitas waktu.

Pada tingkat keluarga, anak perlu diajak memahami makna pengabdian orang tua bukan sebagai pembenaran sepihak, melainkan melalui proses dialog yang empatik. Pemahaman semacam ini membantu anak memaknai pengalamannya bukan sebagai penelantaran, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup yang bermakna.

Berani Berkata tidak
Baca Juga

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Pada tingkat sosial, lembaga pendidikan dan masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan hidup guru. Beban kerja yang berlebihan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keluarga yang menjadi fondasi pendidikan itu sendiri.

Menjadi anak guru berarti hidup dalam ketegangan antara rasa kehilangan dan proses pembentukan diri. Namun, justru di sanalah nilai kehidupan bekerja. Islam mengajarkan bahwa tidak semua kebaikan hadir dalam bentuk yang menyenangkan, dan tidak semua kterbatasan bermakna kerugian.

Ketika pengalaman hidup dibaca dengan kesadaran nilai, anak guru tidak hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga memahami apa yang sedang dibentuk. Di sanalah ilmu tidak hanya diajarkan, tetapi diwariskan secara perlahan, dalam kesunyian, dan penuh keberkahan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/anak-guru-dalam-perspektif-islam-antara-amanah-ilmu-dan-kehidupan-keluarga/90404/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 03.45 WITA

  • #Anak Guru
  • #Kehidupan Keluarga
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Pilihan Editor

  1. 1 Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang
  2. 2

    UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  3. 3

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  4. 4

    Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

  5. 5

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.