JurnalPost.com - Pernah membuka media sosial hanya karena ingin mengisi waktu luang selama lima menit?
Satu video selesai, lalu muncul video berikutnya. Kita menonton lagi. Setelah itu, ada video lain yang kelihatannya lebih menarik. Tanpa terasa, lima menit berubah menjadi tiga puluh menit, bahkan satu jam.
Ketika akhirnya melihat jam, biasanya muncul pertanyaan sederhana: “Kok bisa selama ini?”
Situasi seperti ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ponsel hampir selalu berada dalam jangkauan, sementara media sosial menjadi tempat untuk mencari hiburan, informasi, berkomunikasi, atau sekadar mengusir rasa bosan.
DataReportal mencatat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar 50,2 persen populasi Indonesia.
Besarnya penggunaan media sosial tentu tidak serta-merta berarti sesuatu yang buruk. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern dan membawa banyak manfaat.
Persoalan mulai muncul ketika aktivitas yang awalnya hanya ingin dilakukan sebentar berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Selalu Ada Konten Berikutnya
Salah satu alasan scrolling terasa sulit dihentikan adalah karena kita hampir tidak pernah benar-benar kehabisan konten.
Di platform video pendek, pengguna tidak perlu mencari secara aktif apa yang ingin ditonton berikutnya. Cukup menggeser layar, video baru langsung muncul.
Tidak ada jeda panjang.
Tidak ada halaman terakhir.
Selalu ada sesuatu yang menunggu setelah satu video selesai.
Kondisi tersebut membuat rasa penasaran terus bekerja. Kita mulai berpikir bahwa mungkin video berikutnya lebih lucu, lebih informatif, lebih mengejutkan, atau lebih sesuai dengan apa yang kita sukai.
Dari sinilah kalimat sederhana seperti “satu video lagi” bisa terus berulang.
Platform media sosial juga menggunakan sistem rekomendasi yang dirancang untuk menampilkan konten sesuai perilaku dan preferensi penggunanya.
Sistem tersebut dapat mempelajari jenis video yang sering kita tonton, konten yang kita sukai, akun yang kita ikuti, hingga bentuk interaksi yang sering dilakukan.
Semakin sering kita berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin besar kemungkinan platform menampilkan konten serupa.
Hasilnya, pengalaman menggunakan media sosial terasa semakin personal.
Kita seperti masuk ke sebuah ruang yang sebagian besar isinya memang dibuat sesuai dengan apa yang kita sukai.
Tak heran jika berhenti menjadi lebih sulit.
Ketika Scrolling Menjadi Kebiasaan Otomatis
Namun, algoritma bukan satu-satunya alasan.
Ada faktor lain yang tidak kalah penting: kebiasaan.
Awalnya, seseorang mungkin membuka media sosial ketika merasa bosan. Pola tersebut kemudian terus berulang.
Bosan, mengambil ponsel, membuka aplikasi, lalu scrolling.
Lama-kelamaan, tindakan tersebut dapat menjadi respons otomatis.
Kita bahkan bisa membuka media sosial tanpa tujuan yang benar-benar jelas.
Tidak sedang mencari informasi.
Tidak sedang menunggu pesan.
Tidak pula memiliki video tertentu yang ingin ditonton.
Tangan hanya secara spontan membuka aplikasi yang sudah berkali-kali digunakan setiap hari.
Pada titik inilah lima menit dapat berubah menjadi satu jam.
Bukan karena setiap video yang muncul selalu luar biasa menarik, tetapi karena setiap geseran layar memberikan alasan baru untuk terus melihat apa yang muncul berikutnya.
Apakah Scrolling Selalu Buruk?
Membahas kebiasaan scrolling bukan berarti media sosial harus dianggap sebagai musuh.
Media sosial memiliki banyak manfaat yang sulit diabaikan.
Kita dapat menggunakannya untuk berkomunikasi, mengikuti perkembangan berita, mendapatkan materi pembelajaran, menemukan komunitas, mempromosikan bisnis, hingga mendapatkan hiburan.
Karena itu, persoalannya bukan hanya soal apakah seseorang menggunakan media sosial, melainkan juga bagaimana dan seberapa jauh media sosial digunakan.
Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara penggunaan media sosial yang bermasalah dengan berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan psikologis.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan pada 2024, misalnya, menganalisis 182 penelitian dengan jumlah partisipan lebih dari 1,1 juta orang.
Penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan depresi, kecemasan, gangguan tidur, serta tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.
Namun, hubungan tersebut tidak sesederhana mengatakan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan semua masalah tersebut.
Dampaknya dapat berbeda pada setiap orang.
Jenis konten yang dikonsumsi, lama penggunaan, kondisi psikologis pengguna, pola interaksi, hingga karakteristik masing-masing platform dapat ikut memengaruhi pengalaman seseorang.
Dengan kata lain, media sosial bisa menawarkan manfaat sekaligus risiko.
Saat Waktu Tidur Ikut Terganggu
Salah satu kebiasaan yang paling mudah dikenali adalah scrolling menjelang tidur.
Awalnya mungkin hanya ingin membuka media sosial selama beberapa menit.
Satu video.
Kemudian satu video lagi.
Tiba-tiba sudah lewat tengah malam.
Akibatnya, waktu tidur semakin mundur.
Sejumlah penelitian mengenai penggunaan media digital pada remaja dan anak muda menemukan adanya hubungan antara penggunaan media sosial tertentu dengan kualitas tidur yang lebih buruk.
Penggunaan media sosial yang bermasalah juga sering dikaitkan dengan gangguan tidur.
Meski demikian, para peneliti tetap mengingatkan bahwa hubungan tersebut cukup kompleks. Tidak semua orang akan mengalami dampak yang sama dan tidak semua penggunaan media sosial otomatis menyebabkan gangguan tidur.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah seseorang boleh membuka media sosial sebelum tidur.
Pertanyaannya adalah: apakah kita masih bisa memutuskan kapan waktunya berhenti?
Tidak Harus Berhenti, Tapi Perlu Lebih Sadar
Bagi banyak orang, berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya bukan pilihan yang realistis.
Media sosial sudah menjadi bagian dari cara kita bekerja, belajar, mencari informasi, menjalankan bisnis, berkomunikasi, dan menikmati hiburan.
Karena itu, pendekatan yang mungkin lebih masuk akal adalah menggunakan media sosial dengan lebih sadar.
Salah satu langkah paling sederhana adalah bertanya kepada diri sendiri sebelum membuka aplikasi:
“Saya membuka media sosial untuk apa?”
Apakah memang sedang mencari informasi?
Membalas pesan?
Mencari hiburan sebentar?
Atau hanya membuka aplikasi secara otomatis karena sedang bosan?
Kesadaran sederhana seperti ini dapat membantu kita mengenali pola penggunaan media sosial.
Kita juga dapat memanfaatkan fitur screen time atau batas waktu aplikasi untuk mengetahui berapa lama sebenarnya waktu yang dihabiskan.
Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan agar perhatian tidak terus-menerus teralihkan.
Ketika belajar atau bekerja, ponsel juga dapat diletakkan sedikit lebih jauh agar keinginan membuka media sosial tidak muncul setiap beberapa menit.
Bukan berarti kita tidak boleh menikmati video lucu atau mengikuti tren terbaru.
Kita tetap dapat menggunakan media sosial untuk bersantai.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kendali atas waktu perlahan berpindah dari tangan kita kepada layar.
Benarkah Hanya Lima Menit?
Kalimat “cuma lima menit” sebenarnya bukan masalah.
Masalah muncul ketika lima menit tersebut terus diperpanjang, berkali-kali, tanpa benar-benar kita sadari.
Satu video berubah menjadi lima.
Lima video berubah menjadi puluhan.
Beberapa menit berubah menjadi satu jam.
Dan setelah aplikasi ditutup, kita baru menyadari bahwa waktu telah berlalu jauh lebih lama dari rencana awal.
Karena itu, lain kali ketika tangan mulai menggeser layar sambil berkata, “Aku cuma scroll sebentar,” mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan kepada diri sendiri:
Benarkah cuma lima menit?
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda