Berawal dari Facebook, 2 Perusahaan Besar di Kaltim Biayai Pelatihan Pembelajaran Aktif MIKIR
Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jurnalpost - Pelatihan pembelajaran aktif Tanoto Foundation yang menggunakan skenario MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi) selama ini banyak diadopsi oleh Dinas Pendidikan dan Kemenag daerah mitra seperti Kukar dan Balikpapan. Sebagai Mitra Tanoto Foundation, mereka melatihkan ke pendidik yang bukan target sasaran langsung program. Jumlah pesertanya pada tahun 2019 bahkan mencapai 695 orang terdiri dari kepsek, guru dan pengawas.
Namun ternyata bukan entitas pemerintah saja yang tertarik untuk menyebarluaskan. Dua perusahaan besar pertambangan batu bara yaitu Indominco Mandiri dan sub contractornya Pama Persada, baru-baru ini ikut berperan membiayai pelatihan pembelajaran aktif tersebut. Pelatihan kali diikuti 81 guru yang berasal dari desa Santan Tengah dan Santan Ilir di Marrangkayu, Kutai Kartenegara, Kaltim.
Menariknya, diseminasi ini terjadi karena ada seorang guru yang melihat postingan-postingan pembelajaran oleh guru-guru yang pernah dilatih oleh Tanoto Foundation di Facebook. Nama ibu itu adalah Kartini, ketua Kelompok Kerja Guru di Marrangkayu. “Jadi saya bergabung dengan grup Forum Peningkatan Kualitas Pendidikan di Facebook, dan saya sangat tertarik dengan model pembelajaran-pembelajaran yang membuat siswa aktif, kreatif dan inovatif yang diposting disitu yang selama ini belum banyak kami lakukan,” ujarnya (10 April 2019).
Dia kemudian menghubungi salah satu fasilitator daerah Tanoto Foundation di Marrangkayu, Nanang Nuryanto, melihat kemungkinan pelatihan untuk guru-guru di Marrangkayu. Setelah mendapatkan kepastian pelatihan bisa dilakukan, ia mengajukan proposal pembiayaan ke Indominco. Proposal tersebut dengan cepat disetujui. Indominco menalangi bagian konsumsi pelatihan, dan perusahaan sub contractornya yaitu PAMA Persada membiayai bagian honor fasilitator.
“Biasanya persebaran pelatihan pembelajaran aktif PINTAR diusulkan oleh Kemenag, Dinas Pendidikan atau UPT, nah kali ini benar-benar digagas oleh guru, terutama olehi bu Kartini. Mereka ingin mengubah metodologi mengajar mereka yang selama ini lebih banyak klasikal atau ceramah, ke yang membuat siswa memiliki skill yang dibutuhkan untuk menghadapi era industry 4.0, “ ujar Nanang Nuryanto.
Artikel Terkait
REKOMENDASI JURNALPOST
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda