Oleh : Asmansyah, S.A.P., M.A.P (Dosen Kebijakan Publik, Universitas Negeri Makassar)
JurnalPost.com - Ketika Kecemasan Dibaca Terlalu Personal - Ada kecenderungan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan dalam ruang publik kita. Anxiety semakin sering diperbincangkan, tetapi tidak selalu dipahami secara tepat. Sebagian orang menganggapnya sekadar istilah populer, bahkan tidak sedikit yang menilainya sebagai gaya bahasa generasi muda untuk menggambarkan keresahan sehari-hari. Padahal, ketika kecemasan muncul secara luas dan berulang, persoalannya tidak lagi semata psikologis. Ia dapat menjadi tanda adanya persoalan sosial yang belum selesai dikelola.
Data terbaru menunjukkan gambaran yang patut dicermati. Tinjauan sistematis yang dilakukan Tjipto dkk. (2024) mengenai kesehatan mental di Asia Tenggara menemukan bahwa gejala anxiety dan depresi memiliki hubungan kuat dengan tekanan sosial-ekonomi, ketidakpastian hidup, serta terbatasnya akses terhadap layanan psikologis. Penelitian ini menghimpun berbagai studi regional dan menunjukkan bahwa gangguan mental tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan lingkungan sosial tempat seseorang hidup.
Temuan tersebut penting karena sering kali publik diajak memahami kesehatan mental secara sangat individual. Orang yang cemas dianggap kurang bersyukur, kurang tangguh, atau gagal mengelola dirinya sendiri. Padahal, data yang digunakan dalam kajian itu menunjukkan bahwa faktor structural seperti tekanan ekonomi, ketidakstabilan pekerjaan, dan minimnya dukungan layanan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap meningkatnya kecemasan.
Kajian mengenai hambatan pencarian bantuan psikologis di negara-negara ASEAN oleh Ibrahim dkk. (2025) menunjukkan bahwa masyarakat yang mengalami gejala anxiety dan depresi sering menghadapi kendala biaya, stigma, keterbatasan layanan, serta kurangnya informasi untuk memperoleh bantuan profesional. Artinya, persoalan bukan hanya banyaknya orang yang cemas, tetapi juga lemahnya ekosistem kebijakan yang menopang pemulihan.
Tekanan biaya hidup meningkat, ruang kerja semakin kompetitif, dan masa depan terasa lebih sulit diprediksi. Bersamaan dengan itu, masyarakat hidup dalam budaya yang menuntut produktivitas tanpa jeda. Media sosial mempercepat perbandingan sosial, sementara keberhasilan sering didefinisikan secara sempit melalui capaian ekonomi dan citra personal. Dalam situasi demikian, kecemasan tumbuh bukan sebagai penyimpangan, melainkan respons terhadap ketidakpastian yang dianggap normal.
Di sinilah teori social determinants of health dari Marmot (2005) menjadi relevan. Marmot menjelaskan bahwa kondisi kesehatan seseorang, termasuk kesehatan mental, dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pendapatan, pekerjaan, lingkungan, pendidikan, dan akses pelayanan. Teori ini membantu kita memahami bahwa kesehatan bukan semata urusan biologis atau pilihan pribadi, tetapi juga hasil dari bagaimana masyarakat dan kebijakan disusun.
Meningkatnya anxiety seharusnya tidak dibaca sebagai tren budaya yang kebetulan sedang populer. Narasi semacam itu terlalu dangkal dan berisiko menutup akar persoalan. Ketika kecemasan hadir dalam skala yang luas, yang sedang kita lihat mungkin bukan generasi yang terlalu rapuh, melainkan sistem yang belum cukup aman untuk ditinggali.
Jika layanan kesehatan mental masih sulit dijangkau sebagian masyarakat, mengapa anxiety lebih sering diperlakukan sebagai persoalan pribadi ketimbang persoalan kebijakan? Dan ketika tekanan sosial-ekonomi terus meningkat, sampai kapan kecemasan akan dianggap sekadar masalah individu, bukan alarm bahwa ada bagian dari tata kelola publik yang sedang bermasalah?
Ketika Kecemasan Dikelola sebagai Masalah Pribadi - Ada kebiasaan yang cukup mengakar dalam cara kita membaca anxiety. Ketika seseorang mengalami kecemasan berlebih, respons yang muncul sering kali bersifat personal: lebih sabar, lebih bersyukur, atau lebih kuat menghadapi hidup. Nasihat semacam itu mungkin lahir dari niat baik. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika kecemasan muncul secara luas dan dialami oleh banyak orang dalam konteks sosial yang serupa.
Apa yang sebenarnya sedang kita hadapi? Anxiety tentu memiliki dimensi psikologis, tetapi ia juga dapat dibaca sebagai sinyal sosial. Ketika tekanan hidup meningkat, ketidakpastian ekonomi membesar, dan akses dukungan mental terbatas, kecemasan tidak lagi berdiri sebagai pengalaman individual semata. Ia berubah menjadi indikator bahwa ada tekanan kolektif yang belum dikelola secara memadai oleh sistem.
Pandangan ini tidak muncul tanpa dasar. Tinjauan sistematis mengenai kesehatan mental di Asia Tenggara tahun 2024 menunjukkan bahwa gejala anxiety dan depresi memiliki hubungan kuat dengan kondisi sosial-ekonomi serta akses layanan kesehatan mental. Data itu penting karena memperlihatkan bahwa kecemasan tidak lahir dalam ruang hampa. Lingkungan sosial ikut membentuk kerentanan psikologis seseorang.
Mengapa hal ini perlu dibahas sebagai isu kebijakan publik? Karena kebijakan sering kali terlalu fokus pada penanganan setelah masalah terjadi, bukan pada kondisi yang memproduksi masalah tersebut. Kita rajin membicarakan terapi, konseling, atau pemulihan, tetapi kurang serius membahas penyebab yang memperbesar kecemasan secara sosial: biaya hidup, ketidakamanan kerja, dan akses layanan yang tidak merata.
Fenomena itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang hidup di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi, sementara rasa aman ekonomi justru menurun. Kontrak kerja makin fleksibel, persaingan meningkat, dan masa depan terasa lebih sulit diprediksi. Dalam situasi seperti itu, kecemasan sering diperlakukan sebagai kelemahan individu, padahal sebagian berasal dari lingkungan yang terus menekan.
Siapa yang paling terdampak? Jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu kelompok usia atau profesi tertentu. Mereka yang memiliki akses ekonomi terbatas, pekerjaan tidak stabil, atau dukungan sosial yang lemah cenderung lebih rentan. Anxiety pada akhirnya tidak mengenal status sosial secara mutlak, tetapi peluang menghadapi dan memulihkannya sangat dipengaruhi ketimpangan sumber daya.
Di sinilah teori social determinants of health dari Michael Marmot (2005) menjadi relevan. Marmot menjelaskan bahwa kesehatan dipengaruhi kondisi sosial tempat manusia hidup, mulai dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, hingga akses pelayanan. Dalam bahasa sederhana, kesehatan mental bukan hanya urusan pikiran, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat membangun rasa aman sosial bagi warganya.
Dimana letak letak sudut pandang kita terhadap kebijakan hari ini? Salah satunya berada pada jurang antara pengakuan dan implementasi. Kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental memang meningkat. Namun, peningkatan kesadaran tidak selalu diikuti pemerataan layanan. Kajian Ibrahim dkk. (2025) mengenai hambatan pencarian bantuan psikologis di ASEAN menunjukkan bahwa biaya, stigma, dan keterbatasan fasilitas masih menjadi kendala utama masyarakat memperoleh pertolongan.
Persoalan ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan mental tidak cukup hanya tersedia secara administratif. Ia harus dapat diakses secara nyata. Kebijakan yang hanya hadir di atas dokumen sering kali gagal menyentuh pengalaman hidup masyarakat. Akibatnya, publik mengetahui pentingnya menjaga kesehatan mental, tetapi tidak selalu memiliki jalan yang realistis untuk mendapatkan bantuan.
Bagaimana seharusnya anxiety dibaca? Saya melihatnya bukan sebagai tren yang sedang naik daun, melainkan alarm kebijakan. Alarm itu berbunyi ketika masyarakat mulai mengalami tekanan yang melampaui kemampuan adaptasi normal, sementara perlindungan sosial berjalan tertinggal. Dalam konteks ini, kecemasan bukan musuh yang harus dipermalukan, melainkan pesan sosial yang perlu dipahami.
Anxiety terus meningkat bersamaan dengan tekanan ekonomi dan sulitnya layanan kesehatan mental diakses, pertanyaannya menjadi lebih serius. Apakah kita sedang menghadapi masyarakat yang semakin lemah secara mental, atau justru sistem yang terlalu lambat menghadirkan rasa aman? Pertanyaan itu penting, sebab cara kita menjawabnya akan menentukan arah kebijakan yang dipilih di masa depan.
Anxiety semestinya tidak lagi dipahami sekadar sebagai istilah populer atau kelemahan personal yang harus ditanggung sendiri. Ia dapat dibaca sebagai cermin dari lingkungan sosial dan kualitas kebijakan yang membentuk kehidupan masyarakat. Ketika tekanan ekonomi meningkat, akses layanan mental belum merata, dan rasa aman sosial melemah, kecemasan menjadi gejala yang dapat dimengerti secara kolektif. Karena itu, tantangan kita bukan hanya memperbanyak percakapan tentang kesehatan mental, tetapi juga memperbaiki kondisi yang memproduksi kecemasan itu sendiri. Alarm tidak hadir untuk ditertawakan atau diabaikan, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.
Sumber:
Ibrahim, N., dkk. (2025). Barriers and Facilitators of Psychological Help-Seeking of People With Depression, Anxiety, and Stress Symptoms Among ASEAN Countries. International Journal of Social Psychiatry.
Marmot, M. (2005). Social Determinants of Health Inequalities. The Lancet, 365(9464), 1099–1104.
Tjipto, A., dkk. (2024). Psychological and Social Interventions for Mental Health Issues and Disorders in Southeast Asia: A Systematic Review. International Journal of Mental Health Systems.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda