Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Anak Korban Tidak Butuh Kasihan, Mereka Butuh Pendampingan Emosional yang Paham Trauma

Anak Korban Tidak Butuh Kasihan, Mereka Butuh Pendampingan Emosional yang Paham Trauma

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
21 November 2025, 16.12 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Pelecehan Seksual di Indonesia

Oleh: Dewi Indriani, Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, FUAD UINSI Samarinda Angkatan 2022

JurnalPost.com - Ada saat-saat dalam hidup ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua luka tampak dari permukaan. Kita sering mengira masa kanak-kanak selalu diwarnai tawa, pelukan orang tua, dan dunia yang aman untuk tumbuh. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama. Ada anak-anak yang harus memahami kerasnya hidup sebelum sempat mengeja huruf pertama, dan ada yang memikul rasa sakit yang tidak pernah mereka minta, tetapi tetap harus mereka jalani.

IKLAN

Kita mudah merasa iba ketika melihat anak menangis atau tersandung. Namun terhadap anak-anak yang pernah menjadi korban penelantaran, kekerasan fisik, kekerasan dalam rumah tangga, atau pelecehan, kita sering luput melihat luka yang jauh lebih dalam. Luka yang tidak menjerit. Luka yang diam, yang hanya terlihat dari tatapan yang tiba-tiba kosong. Kita adalah masyarakat yang cepat menaruh kasihan, tetapi lambat memberikan pendampingan yang benar-benar dibutuhkan.

Bullying
Baca Juga

Sering Dianggap Bercanda, Bullying Justru Membahayakan

Kesadaran itu menghampiri saya ketika menjalani Praktik Kerja Lapangan di Panti Sosial Perlindungan Anak Dharma Samarinda. Panti ini bukan panti asuhan sebagaimana disalahpahami banyak orang. Ini adalah tempat perlindungan di bawah Dinas Sosial provinsi Kalimantan Timur, diperuntukkan khusus bagi anak-anak korban yang harus diamankan negara karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka hidup bersama keluarga. Mereka bukan anak-anak yang dititipkan; mereka adalah anak-anak yang diselamatkan dari situasi berbahaya.

Namun, ada ironi yang tidak bisa saya abaikan. Meski bernama “panti perlindungan”, tidak semua anak merasa aman di sana. Terutama anak korban kekerasan dan pelecehan yang masih membawa ketakutan dalam diam. Mereka waspada ketika mendengar suara keras, ragu saat didekati orang dewasa, dan sering menunduk saat berbicara. Trauma mereka tidak hilang hanya karena mereka berganti tempat tinggal. Bagi sebagian dari mereka, panti bukanlah rumah kedua, itu adalah tempat baru yang harus mereka pelajari apakah cukup aman untuk percaya. Ketika saya berbincang dengan mereka, saya menyadari bahwa diam mereka bukan pertanda ketenangan. Diam itu adalah strategi bertahan hidup.

Dalam panti ini, ada lebih dari delapan puluh anak dengan latar belakang trauma yang berbeda-beda. Namun, tenaga pendamping ahli yang tersedia hanya tiga: satu psikolog, satu konselor, dan satu terapis. Tiga pendamping untuk lebih dari delapan puluh kisah hidup yang patah. Tidak perlu menjadi ahli untuk memahami bahwa jumlah itu tidak mungkin menjangkau semua kebutuhan emosional mereka.

Ada banyak anak yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi tidak tahu kepada siapa. Banyak anak yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, namun tidak mendapat ruang karena waktu pendamping terbagi terlalu tipis. Ada pula peraturan baru yang menuntut mereka lebih mandiri, lebih mengurus diri sendiri, lebih kuat. Secara administratif, aturan ini masuk akal. Namun secara emosional, banyak dari mereka belum siap. Bagaimana seorang anak bisa diminta berdiri sendiri jika ia bahkan belum pulih dari pukulan hidup pertamanya?

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya
Baca Juga

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

IKLAN

Saya menyaksikan bentuk-bentuk trauma itu dalam keseharian. Anak korban kekerasan fisik yang terkejut setiap kali pundaknya disentuh. Anak korban kekerasan dalam rumah tangga yang merasa perlu meminta izin untuk hal-hal kecil, seolah hidupnya harus sangat hati-hati agar tidak memancing kemarahan siapa pun. Anak korban pelecehan yang lebih banyak diam, tidak menolak, tetapi juga tidak menyambut. Diam mereka bukan kelemahan, namun diam mereka adalah upaya untuk tetap hidup tanpa menambah luka baru. Namun dalam kondisi seperti itu, masyarakat justru sering menawarkan satu hal yang paling sedikit manfaatnya: kasihan.

Kasihan membuat anak merasa lebih kecil dari yang seharusnya. Kasihan menjadikan mereka objek, bukan subjek. Kasihan menciptakan jarak, bukan kedekatan. Dan yang paling menyakitkan, kasihan datang tanpa komitmen untuk mendampingi. Kita merasa telah berbuat sesuatu, padahal yang kita lakukan hanyalah mengamati dari jauh.

Padahal, anak-anak ini tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan pendampingan emosional yang memahami bahwa trauma seorang anak tidak selalu terlihat dari tangis keras. Kadang trauma tampak dari tawa yang berlebihan, atau dari kemandirian yang tidak wajar. Ada anak yang tampak ceria, tetapi ceria itu hanyalah cara mereka menekan kenangan buruk. Ada yang tampak sangat mandiri, padahal kemandirian itu lahir dari fakta bahwa ia terbiasa mengurus dirinya sendiri sejak kecil.

Pendampingan emosional berarti memberi ruang aman bagi mereka untuk memahami perasaannya. Pendampingan berarti hadir secara konsisten, bukan hanya ketika kita sedang tergerak merasa simpati. Pendampingan berarti menjadi tempat untuk kembali ketika dunia terasa terlalu bising.

72084c82 26e9 413c bdbf 96fbb072ded4
Baca Juga

Fenomena Main Hakim Sendiri sebagai Ancaman terhadap Due Process of Law di Indonesia

Saya pernah melihat seorang anak menolak makanan enak karena memikirkan ibunya, apakah hari itu ibunya makan atau tidak. Empati seperti itu tidak datang dari kemanjaan, itu datang dari kehilangan. Saya melihat anak lain yang tersenyum sambil mengusap air matanya pelan, berusaha keras terlihat kuat. Mereka terlihat tegar, tetapi ketegaran itu adalah respons bertahan hidup dari keadaan yang memaksa mereka dewasa sebelum waktunya.

Anak-anak ini tidak meminta dunia untuk kasihan kepada mereka. Mereka meminta dunia untuk hadir. Untuk melihat mereka bukan sebagai angka dalam laporan, tetapi sebagai manusia kecil yang sedang berjuang memahami hidup. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa berasumsi, seseorang yang mau mengerti tanpa menghakimi, dan seseorang yang mau berjalan bersama mereka, pelan-pelan sampai mereka merasa cukup aman untuk percaya.

Jika ada yang berpikir mengenai untuk apa kita terlalu perduli dengan memberi lebih dari perlakuan ‘kasian’, maka jawabannya sudah cukup jelas. Anak-anak adalah awal dan penerus. Mereka adalah sosok yang akan melanjutkan keberlangsungan hidup. Mereka pantas untuk sembuh sebelum kembali bertarung dengan realita kehidupan di luar. Mereka berhak untuk mendapatkan keamanan setelah dipaksa dewasa oleh keadaan. Sebab sebelum seseorang menjadi dewasa, ia dulu hanya seorang anak yang berharap dunia aman untuknya.

Sebelum kita menaruh kasihan pada anak korban, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan? Karena kasihan tidak menyembuhkan. Yang menyembuhkan adalah kehadiran, empati, dan pendampingan yang membuat mereka merasa aman. Setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/anak-korban-tidak-butuh-kasihan-mereka-butuh-pendampingan-emosional-yang-paham-trauma/88243/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 16.59 WITA

  • #Bullying
  • #Opini Mahasiswa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Pilihan Editor

  1. 1 Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus
  2. 2

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

  3. 3

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.