Oleh: Dewi Indriani, Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, FUAD UINSI Samarinda Angkatan 2022
JurnalPost.com - Ada saat-saat dalam hidup ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua luka tampak dari permukaan. Kita sering mengira masa kanak-kanak selalu diwarnai tawa, pelukan orang tua, dan dunia yang aman untuk tumbuh. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama. Ada anak-anak yang harus memahami kerasnya hidup sebelum sempat mengeja huruf pertama, dan ada yang memikul rasa sakit yang tidak pernah mereka minta, tetapi tetap harus mereka jalani.
Kita mudah merasa iba ketika melihat anak menangis atau tersandung. Namun terhadap anak-anak yang pernah menjadi korban penelantaran, kekerasan fisik, kekerasan dalam rumah tangga, atau pelecehan, kita sering luput melihat luka yang jauh lebih dalam. Luka yang tidak menjerit. Luka yang diam, yang hanya terlihat dari tatapan yang tiba-tiba kosong. Kita adalah masyarakat yang cepat menaruh kasihan, tetapi lambat memberikan pendampingan yang benar-benar dibutuhkan.
Kesadaran itu menghampiri saya ketika menjalani Praktik Kerja Lapangan di Panti Sosial Perlindungan Anak Dharma Samarinda. Panti ini bukan panti asuhan sebagaimana disalahpahami banyak orang. Ini adalah tempat perlindungan di bawah Dinas Sosial provinsi Kalimantan Timur, diperuntukkan khusus bagi anak-anak korban yang harus diamankan negara karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka hidup bersama keluarga. Mereka bukan anak-anak yang dititipkan; mereka adalah anak-anak yang diselamatkan dari situasi berbahaya.
Namun, ada ironi yang tidak bisa saya abaikan. Meski bernama “panti perlindungan”, tidak semua anak merasa aman di sana. Terutama anak korban kekerasan dan pelecehan yang masih membawa ketakutan dalam diam. Mereka waspada ketika mendengar suara keras, ragu saat didekati orang dewasa, dan sering menunduk saat berbicara. Trauma mereka tidak hilang hanya karena mereka berganti tempat tinggal. Bagi sebagian dari mereka, panti bukanlah rumah kedua, itu adalah tempat baru yang harus mereka pelajari apakah cukup aman untuk percaya. Ketika saya berbincang dengan mereka, saya menyadari bahwa diam mereka bukan pertanda ketenangan. Diam itu adalah strategi bertahan hidup.
Dalam panti ini, ada lebih dari delapan puluh anak dengan latar belakang trauma yang berbeda-beda. Namun, tenaga pendamping ahli yang tersedia hanya tiga: satu psikolog, satu konselor, dan satu terapis. Tiga pendamping untuk lebih dari delapan puluh kisah hidup yang patah. Tidak perlu menjadi ahli untuk memahami bahwa jumlah itu tidak mungkin menjangkau semua kebutuhan emosional mereka.
Ada banyak anak yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi tidak tahu kepada siapa. Banyak anak yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, namun tidak mendapat ruang karena waktu pendamping terbagi terlalu tipis. Ada pula peraturan baru yang menuntut mereka lebih mandiri, lebih mengurus diri sendiri, lebih kuat. Secara administratif, aturan ini masuk akal. Namun secara emosional, banyak dari mereka belum siap. Bagaimana seorang anak bisa diminta berdiri sendiri jika ia bahkan belum pulih dari pukulan hidup pertamanya?
Saya menyaksikan bentuk-bentuk trauma itu dalam keseharian. Anak korban kekerasan fisik yang terkejut setiap kali pundaknya disentuh. Anak korban kekerasan dalam rumah tangga yang merasa perlu meminta izin untuk hal-hal kecil, seolah hidupnya harus sangat hati-hati agar tidak memancing kemarahan siapa pun. Anak korban pelecehan yang lebih banyak diam, tidak menolak, tetapi juga tidak menyambut. Diam mereka bukan kelemahan, namun diam mereka adalah upaya untuk tetap hidup tanpa menambah luka baru. Namun dalam kondisi seperti itu, masyarakat justru sering menawarkan satu hal yang paling sedikit manfaatnya: kasihan.
Kasihan membuat anak merasa lebih kecil dari yang seharusnya. Kasihan menjadikan mereka objek, bukan subjek. Kasihan menciptakan jarak, bukan kedekatan. Dan yang paling menyakitkan, kasihan datang tanpa komitmen untuk mendampingi. Kita merasa telah berbuat sesuatu, padahal yang kita lakukan hanyalah mengamati dari jauh.
Padahal, anak-anak ini tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan pendampingan emosional yang memahami bahwa trauma seorang anak tidak selalu terlihat dari tangis keras. Kadang trauma tampak dari tawa yang berlebihan, atau dari kemandirian yang tidak wajar. Ada anak yang tampak ceria, tetapi ceria itu hanyalah cara mereka menekan kenangan buruk. Ada yang tampak sangat mandiri, padahal kemandirian itu lahir dari fakta bahwa ia terbiasa mengurus dirinya sendiri sejak kecil.
Pendampingan emosional berarti memberi ruang aman bagi mereka untuk memahami perasaannya. Pendampingan berarti hadir secara konsisten, bukan hanya ketika kita sedang tergerak merasa simpati. Pendampingan berarti menjadi tempat untuk kembali ketika dunia terasa terlalu bising.
Saya pernah melihat seorang anak menolak makanan enak karena memikirkan ibunya, apakah hari itu ibunya makan atau tidak. Empati seperti itu tidak datang dari kemanjaan, itu datang dari kehilangan. Saya melihat anak lain yang tersenyum sambil mengusap air matanya pelan, berusaha keras terlihat kuat. Mereka terlihat tegar, tetapi ketegaran itu adalah respons bertahan hidup dari keadaan yang memaksa mereka dewasa sebelum waktunya.
Anak-anak ini tidak meminta dunia untuk kasihan kepada mereka. Mereka meminta dunia untuk hadir. Untuk melihat mereka bukan sebagai angka dalam laporan, tetapi sebagai manusia kecil yang sedang berjuang memahami hidup. Mereka membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa berasumsi, seseorang yang mau mengerti tanpa menghakimi, dan seseorang yang mau berjalan bersama mereka, pelan-pelan sampai mereka merasa cukup aman untuk percaya.
Jika ada yang berpikir mengenai untuk apa kita terlalu perduli dengan memberi lebih dari perlakuan ‘kasian’, maka jawabannya sudah cukup jelas. Anak-anak adalah awal dan penerus. Mereka adalah sosok yang akan melanjutkan keberlangsungan hidup. Mereka pantas untuk sembuh sebelum kembali bertarung dengan realita kehidupan di luar. Mereka berhak untuk mendapatkan keamanan setelah dipaksa dewasa oleh keadaan. Sebab sebelum seseorang menjadi dewasa, ia dulu hanya seorang anak yang berharap dunia aman untuknya.
Sebelum kita menaruh kasihan pada anak korban, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan? Karena kasihan tidak menyembuhkan. Yang menyembuhkan adalah kehadiran, empati, dan pendampingan yang membuat mereka merasa aman. Setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda