Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Mengapa Menyalahkan Korban Pelecehan Online Adalah Bentuk Kepatuhan pada Dominasi Pria?

Mengapa Menyalahkan Korban Pelecehan Online Adalah Bentuk Kepatuhan pada Dominasi Pria?

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
04 November 2025, 17.38 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
04 Nov 2025, 17.38 WITA · 4 menit baca
4 menit baca
pelecehan seksual
Oleh: Elvira Chomdiyah Mahasiswa Ilmu Komunikasi JurnalPost.com - Ruang digital merupakan tempat yang menjadi kebebasan baru bagi setiap individu, yang menjadikan setiap orang dapat berekspresi tanpa batas. Namun, realitas berkata lain. Kita sering dihadapkan pada maraknya kasus  revenge porn, cyberflashing, dan doxing yang menargetkan perempuan dan kelompok minoritas gender. Ini bukan lagi sekedar ‘kejahatan’ internet, namun ini adalah bagian dari perpanjangan kekerasan patriarki di dunia maya. Malangnya, dalam media dan hukum yang dominan, kasus seperti ini seringkali dianggap sebagai masalah moralitas sebuah individu atau kegagalan korban dalam menjaga diri. Sayangnya, analisis yang berhenti di permukaan ini adalah norma gender yang kaku dan biner yang secara mendasar mendikte dan mengontrol representasi serta otonomi tubuh perempuan. Di sinilah Queer Theory berperan. Seperti yang dikemukakan oleh Judith Butler, Gender bukanlah esensi biologis, melainkan sebuah performativitas, sebuah peran yang dipaksa dimainkan dan terus diulang. Ketika tubuh perempuan di ruang digital mencoba melampaui peran yang ditetapkan oleh masyarakat, atau berani mengekspresikan seksualitas dan identitas mereka secara otonom, sistem normatif ini segera merespons dengan kekerasan. Pelecehan berbasis gender di ruang digital (KBGO), pada intinya adalah upaya brutal untuk 'mendisiplinkan' tubuh agar kembali ke dalam kotak biner yang sempit dan menjadi suatu kegagalan normativitas gender yang harus kita mengurai secara drastis. Dalam buku “Komunikasi dan Gender” yang ditulis oleh Merry Fridha Triaplupi pada 2024, dijelaskan bahwa dalam konteks hak asasi manusia, feminisme radikal berpendapat bahwa hak asasi manusia yang mendasar, dan heteroseksualitas dianggap sebagai sebuah situasi yang dapat membatasi kebebasan individu dalam mengekspresikan identitas seksual mereka. Tubuh Digital sebagai Panggung Performativitas Queer Theory mengajarkan bahwa identitas, termasuk gender bukanlah sesuatu yang sudah ada sejak lahir, melainkan sesuatu yang ditampilkan. Di media sosial, setiap unggahan seperti foto hingga caption adalah bagian dari pertunjukan gender kita. Masalah akan muncul ketika pertunjukan itu tidak sesuai dengan budaya patriarki. KBGO, khususnya revenge porn (penyebaran konten intim tanpa izin) adalah manifestasi paling kejam dari upaya untuk menegaskan kontrol. Ketika seseorang, terutama perempuan, menunjukan otonomi atas tubuhnya seperti melalui konten intim, maka penyebaran  ilegal konten itu menjadi hukuman, seolah-olah mengatakan: "Tubuh ini bukan milikmu, tetapi milik norma yang mengizinkan kami mengontrolnya." Ini adalah cara norma heteroseksual bekerja. Pelecehan digital terjadi karena kelompok dominan merasa memiliki kuasa untuk menghukum siapapun yang berani tampil di luar bingkai gender yang kaku, seperti perempuan yang "berani”.

Literasi Gender yang Dekonstruktif

Persoalan ini diperparah dengan literasi digital yang bisu terhadap keragaman gender. Sebagaimana dijelaskan dalam buku "Komunikasi dan Gender" yang turut membahas Queer Theory, komunikasi telah lama menjadi alat reproduksi ideologi gender biner. Oleh karena itu, jika kita ingin melawan KBGO, kita membutuhkan literasi yang bersifat dekonstruktif, yakni literasi yang mampu membongkar bias maskulinitas dalam komunikasi digital. Jika literasi digital hanya fokus pada keamanan teknis tanpa menyentuh kesadaran gender, maka ruang digital akan tetap menjadi ruang teror bagi kelompok rentan. Selain itu, media massa seringkali tanpa sadar menjadi perpanjangan tangan sistem KBGO. Pemberitaan yang sensasional, yang cenderung fokus pada detail seksual atau bahkan menyalahkan korban dengan mempertanyakan "mengapa konten itu dibuat," adalah contoh bagaimana wacana publik gagal mengidentifikasi pangkal persoalan. Analisis seperti ini hanya menghasilkan solusi cancel culture yang cepat, namun gagal mengubah struktur yang melahirkan kekerasan itu sendiri.

Melampaui Biner untuk Keselamatan Digital

Untuk mengakhiri teror seksual digital, kita harus berhenti hanya berfokus pada individu dan mulai mengkritik sistem. Mengutip dari Dilley, kita harus memandang Queer Theory sebagai 'konstruksi yang sedang dibangun' untuk terus menentang asumsi dasar tentang gender dan seksualitas. Keselamatan digital sejati tidak akan tercipta hanya dengan Undang-Undang Tindak Pidana KeTripalupikerasan Seksual (UU TPKS). Namun harus diperkuat dengan kesadaran kolektif untuk menolak norma biner, yang mendorong platform digital untuk tidak netral terhadap kekerasan, dan yang paling penting, mendidik generasi baru bahwa identitas dan tubuh setiap individu adalah otonom yang bebas dari kontrol, paksaan, dan pendisiplinan dari norma yang kaku. Referensi: Merry Fridha. (2024). Komunikasi dan Gender. UNTAG Surabaya Pers. Butler, Judith. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. New York: Routledge. Jagose, Annamarie. (1996). Queer Theory: An Introduction. New York: New York University Press. (Sitasi Teori Pendukung). Solikah, H., Rengganis, R., & Yuwana, S. (2024). PERFORMATIVITAS HOMOSEKSUAL DALAM NOVEL SEKONG! KARYA STEBBY JULIONATAN: KAJIAN TEORI QUEER JUDITH BUTLER. Metahumaniora, 14(3), 193–201. Hasna, A. A., & Hendratomo, G. (2024). Cancel culture pelaku pelecehan seksual di media sosial. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 13(1), 47–58. [DOI: 10.21831/dimensia.v13i1.60990]. Dilley, P. (1999). Queer theory: Under construction. Qualitative Studies in Education, 12(5), 457-472.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/mengapa-menyalahkan-korban-pelecehan-online-adalah-bentuk-kepatuhan-pada-dominasi-pria/87672/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026, 16.04 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Pelecehan Online

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Belajar dari Negeri Sakura: Bisakah Jepang Membantu Indonesia Memadamkan Karhutla?

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, Mengapa Masyarakat Masih Merasakan Tekanan Ekonomi?

Menyelamatkan Satu Kehidupan, Menyalakan Sejuta Harapan: Memaknai Pengabdian Kemanusiaan

Mengokohkan Seni dan Budaya sebagai Bahasa Kemanusiaan Universal untuk Membangun Solidaritas Dunia

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

80 Mahasiswa UNTAG Surabaya dan UPN Veteran Yogyakarta Ikuti Pelatihan Migas di Cepu

TKA 2026 Berbeda! Mengukur Kemampuan Murid, Mengevaluasi Mutu Sekolah, dan Membuka Jalan ke Kampus Impian

Gemar Nonton Netflix, Nasabah BRI Bojonegoro Rasakan Kemudahan BRImo untuk Transaksi Digital

Pengelola Museum di Surabaya Perkuat Profesionalisme Kehumasan, Strategi Pemasaran, dan Pelayanan Pengunjung

Pilihan Editor

  1. 1 Ketoprak Sedap Malam di Cirebon Jual 35 Porsi Sehari, Ini Hasil Kajian Kelayakan Usahanya
  2. 2

    Mengapa Transparansi Dana Penting bagi Organisasi Mahasiswa?

  3. 3

    Logat Jawa Dianggap Kampungan, Ketika Cara Berbicara Justru Menjadi Alasan untuk Diremehkan

  4. 4

    Transparansi Keuangan Organisasi Mahasiswa: Langkah Kecil Membangun Budaya Antikorupsi

  5. 5

    Mahasiswa Magister Psikologi UMP Tanamkan Nilai Kejujuran dan Kepedulian Sosial kepada Anak Panti Asuhan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.