XI’AN, JurnalPost.com – Tren perjalanan wisatawan mancanegara di China mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya kunjungan didominasi agenda melihat destinasi ikonik, kini semakin banyak turis asing memilih pengalaman yang membawa mereka lebih dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Leonie, wisatawan asal Jerman, menjadi salah satu contohnya. Sebelum tiba di Provinsi Shaanxi pada musim panas 2026, agenda perjalanannya hampir sama seperti turis yang pertama kali mengunjungi China barat laut, yakni melihat Pasukan Terakota, Tembok Kota Xi’an, dan Pagoda Angsa Liar Raksasa.
Namun, pengalaman yang paling membekas baginya justru bukan sekadar melihat objek wisata. Leonie berkesempatan membuat replika patung terakota dengan tangannya sendiri di sebuah bengkel dekat Museum Situs Mausoleum Kaisar Qinshihuang.
Dia mempelajari proses mengolah tanah liat, memasukkannya ke cetakan, hingga mengeluarkan replika patung setelah bentuknya terbentuk.
“Saya tidak hanya melihat langsung kemegahan pasukan terakota, tetapi juga berkesempatan menjajal proses pembuatan kerajinan tangan,” kata Leonie.
Sepanjang 2026, bengkel tersebut dilaporkan telah menerima lebih dari 2.000 wisatawan mancanegara.
Turis Mulai Mencari Pengalaman Lokal
Pengalaman Leonie menggambarkan perubahan dalam pasar pariwisata inbound China. Wisatawan asing kini tidak hanya ingin mengunjungi lokasi terkenal, tetapi juga mencoba kerajinan tradisional, mencicipi makanan yang biasa dikonsumsi warga lokal, hingga mengikuti aktivitas sehari-hari masyarakat.
Perubahan itu terlihat di Xi’an pada awal Agustus 2026 ketika sejumlah wisatawan asing mengikuti pengalaman minum teh gongfu. Dalam kegiatan tersebut, seorang ahli teh menampilkan atraksi menggunakan teko bercorong panjang yang dipadukan dengan gerakan terinspirasi seni bela diri.
Parley Brooker, pelajar sekolah menengah atas asal Amerika Serikat, mengaku baru pertama kali melihat teko tersebut. Ia bahkan sempat mengira corong panjang teko itu merupakan gagangnya.
Setelah mengetahui cara penggunaannya, Brooker mengaku tertarik bukan hanya pada keunikan teko, tetapi juga budaya minum teh yang mampu mempertemukan banyak orang.
“Anda dapat mencobanya bersama teman-teman,” ujarnya.
Pada akhir kegiatan, Brooker bahkan mempertimbangkan membeli teko serupa untuk dibawa pulang.
Kemudahan Visa Dorong Kunjungan Wisatawan
Pengalaman wisata yang semakin beragam berjalan seiring dengan kebijakan China dalam mempermudah kedatangan wisatawan asing.
Salah satunya melalui kebijakan transit bebas visa hingga 240 jam bagi wisatawan yang memenuhi persyaratan.
Pada semester pertama 2026, China mencatat sekitar 22,914 juta kedatangan warga negara asing. Angka tersebut meningkat 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Media sosial juga turut mengubah cara wisatawan asing mengenal China. Topik seperti “China Travel”, “Becoming Chinese”, dan “China Cool” semakin banyak dibicarakan secara daring.
Video tentang restoran lokal, pasar pagi, ruang publik, hingga kehidupan masyarakat di jalanan memberikan gambaran China yang lebih luas dibandingkan sekadar destinasi wisata populer.
Kuliner Jadi Cara Mengenal Kehidupan Warga
Louise, wisatawan asal Inggris, memilih kuliner sebagai pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat Xi’an.
Alih-alih hanya makan di restoran yang banyak dikunjungi turis, ia menggunakan jasa pemandu kuliner lokal dan menjelajahi pasar malam, pasar pagi, serta kedai-kedai kecil yang menjadi favorit warga.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika Louise menemukan sebuah restoran mi dan mengetahui kebiasaan warga setempat menikmati mi bersama bawang putih mentah.
Meskipun rasa bawang putih tersebut cukup pedas baginya, pengalaman itu justru menjadi bagian menarik dari perjalanan.
“Saya tidak ingin sekadar terburu-buru berpindah dari satu objek wisata ke yang lainnya. Saya ingin berbincang dengan warga setempat dan merasakan koneksi dengan kehidupan sehari-hari mereka,” kata Louise.
Wisata Pengalaman Meluas ke Berbagai Daerah
Tren wisata berbasis pengalaman tidak hanya terjadi di Xi’an.
Sebagian wisatawan asing memilih bersepeda melintasi persawahan dan desa di Yangshuo, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi. Wisatawan lainnya belajar menyeduh teh Gongfu di kawasan jalan kuno Chaoshan, Provinsi Guangdong.
Di Suzhou, Provinsi Jiangsu, wisatawan bahkan dapat mencoba melantunkan bagian dari Opera Kunqu di tengah taman-taman klasik kota tersebut.
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa memahami China kini dapat dimulai dari kegiatan sederhana, mulai dari menikmati secangkir teh, menyantap semangkuk mi hingga berbincang dengan warga lokal.
Layanan Wisatawan Asing Terus Diperkuat
China juga terus memperluas layanan yang memudahkan perjalanan wisatawan internasional, seperti informasi multibahasa, bantuan pembayaran digital, penukaran valuta asing, hingga fasilitas pengembalian pajak saat wisatawan meninggalkan negara tersebut.
Di Shaanxi, platform layanan terpadu untuk wisatawan asing menyediakan informasi mengenai transportasi, penukaran mata uang, serta pembayaran melalui perangkat seluler.
Destinasi populer seperti Tembok Kota Xi’an dan Grand Tang Mall turut menyediakan layanan pengembalian pajak keberangkatan.
Pada semester pertama 2026, lebih dari 2.600 permohonan pengembalian pajak diproses di sejumlah pintu perlintasan di Shaanxi. Jumlah tersebut lebih dari delapan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai pengembalian pajak yang diberikan kepada wisatawan asing mencapai hampir 1,8 juta yuan atau sekitar Rp4,75 miliar dengan asumsi kurs Rp2.644 per yuan.
“China Cool” Hadir dari Kehidupan Sehari-hari
Bagi sejumlah wisatawan, kenangan terbaik justru ditemukan di luar panduan perjalanan.
Sasha, wisatawan asal Portugal, mengaku terkesan dengan kehidupan malam di ruang-ruang publik Xi’an. Di sekitar gerbang bersejarah kota, ia melihat warga menari bersama, anak-anak bermain sepatu roda hingga penggemar opera amatir tampil di depan kelompok penonton.
“Semua orang tampak larut dalam kegembiraan pada momen itu. Jangan sekadar menjadi pengamat. Beranikan diri dan bergabunglah,” tulis Sasha melalui media sosial.
Semakin banyak wisatawan asing kini menjalani pola perjalanan serupa. Mereka tetap datang untuk melihat Tembok Besar China, Pasukan Terakota, maupun kuil-kuil kuno, tetapi perjalanan tidak berhenti di destinasi tersebut.
Wisatawan juga mengunjungi pasar tradisional, mencoba kuliner lokal, mempelajari kerajinan, mengikuti kegiatan masyarakat, dan berinteraksi langsung dengan warga.
Fenomena inilah yang membuat istilah “China Cool” tidak sekadar menjadi tren di media sosial. Daya tarik tersebut justru muncul dari pengalaman sederhana yang memungkinkan wisatawan melihat, mencicipi, dan merasakan langsung kehidupan masyarakat China.
Sumber: Xinhua
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda