JurnalPost.com - Anak muda malas bertani…. sudah tidak zaman lagi. adanya persepsi bertani kotor dan berpanas-panasan di sawah serta memiliki pendapatan yang rendah merupakan salah satu katalisator anak muda malas untuk bertani padahal sekarang ini tidaklah demikian banyak teknologi yang mematahkan anggapan tersebut dimana dengan teknologi anak muda bisa sukses bertani Dan tidak perlu kotor serta berpanas-panasan disawah plus memiliki penghasilan yang tinggi
Teknologi yang dimaksud adalah Smart Farming dimana smart farming ini bisa didefinisikan sebagai system pertamian berbasis teknologi yang dapat membantu petan termasuk milenial dalam meningkatkan hasil panen secara kualitas dan kuantitas. Konkritnya smart Farming merupakan metode pertanian cerdas dimana terdapat beberapa teknologi pertanian yang digunakan diantaranya penyiraman otomatis drone sprayer (drone penyemprot pestisida dan pupuk cair), drone surveillance (drone untuk pemetaan lahan ) serta soil and weather sensor ( sensor tanah dan cuaca )
Dengan teknologi ini milenial tidak perlu susah-susah menyemprot hama disawah atau dikebun tapi cukup menggunakan robot (drone) juga tidak perlu ribet memupuk karena sudah dilakukan oleh alat Yang disebut drone. Milenial hanya mengontrol saja dari suatu tempat, santai tanpa harus berpanas-panasan terkena terik mata hari. Selain itu dengan adanya sensor tanah dan cuaca petani milenial dapat menentukan komoditi apa yang dapat ditanam sekaligus menguntungkan atau kapan waktu tanam yang tepat. Menilik konsep dari smart farming bisa dipastikan banyak anak muda atau milenial yang kelonjotan dalam artian bergairah, termotivasi dan berminat untuk bertani.
Tidak hanya sampai disitu smart farming juga menerapkan teknologi sensor tanah dan cuaca yang terpasang dilahan pertanian. Metode ini akan membantu petani milenial dalam mendapatkan data tentang tanaman nya. Data yang dapat diperoleh dari sensor ini diantaranya seperti kelembaban udara dan tanah, suhu , PH tanah, kadar air, Curah Hujan hingga kecepatan angin. Data ini dapat digunakan petani untuk memantau kondisi lahannya.
Artinya ada 2 pesan yang tersirat dari konsep diatas, Pertama. Budidaya tanaman pertanian memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibanding budidaya konvensional karena bertani dengan cara ini mampu memenuhi berbagai unsure kebutuhan tanaman. Terang saja PH tanah sudah Diketahui plus pengendalian hama lebih mudah karena factor kelembaban yang banyak memicu terjadinya berbagai penyakit jamur pada tanaman dapat diminimalisir dengan adanya alat pengontrol kelembaban. Pertanyaannya apakah masih ada milenial yang malas untuk bertani ? jawabnya tentu tidak dan Smart farming benar-benar mampu memotivasi anak muda untuk menggeluti usaha di bidang pertanan
Kedua dengan Smart farming .otomatis milenial telah melaksanakan berbagai manajemen usaha tani, misalnya telah melaksanakan pencataan usaha tani, pencatatan data – data yang diperlukan untuk mendukung budidaya , membuat data keuangan yang menjadikan petani milenial seperti seorang Bos atau pemimpin perusahaan. Kemudian lagi, konsep Smart Farming juga memudahkan petani milenial mendapatkan akses pasar karena produk yang dihasilkan benar-benar berkualitas baik yang diminati konsumen.
Rentetannya dengan banyak nya anak muda yang bertani dengan konsep smart Farming bisa jadi solusi bagi berbagai permasalahan sector pertanian di Indonesia, salah satunya bisa mengajak kembali anak – anak muda di Nusantara ini berminat untuk bertani dan menjadikan usaha tani sebagai sumber penghasilan dan pekerjaan bergengsi. Masa depan pertanian Indonesia adalah pertanian yang cerdas dan berbasis teknologi. Semoga.
( Ade Candra, S.Pt, Penyuluh Pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman, sumatera Barat )
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda