Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. 5 Hal Mudah Bikin Anak Muda Mau Bertani

5 Hal Mudah Bikin Anak Muda Mau Bertani

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
17 Februari 2022, 19.42 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
pertanian

JurnalPost.com - Pada saat sekarang ini ada fenomena yang cukup memgkhawatirkan di sector pertanian salah satunya adalah terhambatnya regenerasi petani. Faktanya usia para petani semakin tua, sementara generasi yang lebih muda tidak tertarik bekerja sebagai petani karena dianggap sebagai pekerjaan dengan status social rendah karena itu banyak angkatan kerja potensial memilih untuk bermigrasi keluar untuk bekerja . sementara itu warga perkotaan yang sudah memasuki usia pensiun justru bermigrasi kedesa. Pergeseran ini justru menimbulkan kesenjangan social di Pedesaan, antara penduduk asli dan pendatang.

Fakta diatas secara langsung berkorelasi dengan data yang dikeluarkan BPS tahun 2018 dimana dalam kurun waktu 30 tahun terakhir kelompok usia petani dibawah 35 tahun menurun dari 25% menjadi `15% sementara itu kelompok usia petani diatas 55 Tahun justru meningkat dari 18% menjadi 33% dalam kurun Waktu yang sama. Tidak bisa dipungkiri fenomena, data dan fakta diatas mengindikasikan anak muda atau kaum milenial enggan untuk berprofesi sebagai petani. Menurut berbagai referensi Ada beberapa factor yang menyebabkan kaum milenial enggan menjadi petani, diantaranya

IKLAN

Pertama, Terhambat mendapatkan akses lahan. Dikutip dari Pikiran Rakyat .com seorang peneliti bernama Akatiga Fadhli Ilhami mengatakan banyak kasus dilapangan menunjukkan bahwa banyak anak muda terhambat mendapatkan akses lahan, berbagai fakta mengungkapkan akses terhadap lahan pertanian biasanya didapatkan setelah menikah atau setelah orang tua meninggal dunia. Sebelum mendapat akses lahan ,anak-anak muda biasanya bekerja dibidang lain dahulu atau bagi yang berada di pedesaan mereka memilih pindah kekota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

kedai pajak sampul 1280x720
Baca Juga

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Kedua, Budaya Merantau. Di beberapa daerah di Indonesia seperti di ranah Minang, batak , bugis dan lain –lain sudah seperti hukum alam bahwasannya ketika anak muda atau milenial telah menyelesaikan studinya atau telah beranjak dewasa mereka pergi dari tanah kelahirannya untuk mencari pengalaman dan penghidupan yang lebih layak. Budaya ini biasa disebut “ merantau “ . tanpa disadari budaya ini telah menutup peluang bagi anak muda yang merupakan tenaga kerja potensial untuk bekerja di sector pertanian.

Ketiga, Mitos. Mitosnya selama ini, anak muda atau kaum milenial tidak tertarik bertani karena penghasilannya rendah , ketinggalan jaman, kotor dan sebagainya. Bahkan masih banyak anak muda yang beranggapan bekerja sebagai petani berarti harus seharian disawah sambil kena matahari, beda dengan bekerja di kantoran.

Keempat, Mekanisasi alat pertanian.Upaya Kemetrian pertanian untuk meningkatkan daya tarik pertanian bagi petani yaitu dengan Melakukan mekanisasi alat pertanian , kementrian pertanian membagi-bagi alat pertanian. Padahal disatu sisi mekanisasi itu juga menghilangkan lapangan kerja salah satunya melalui tenaga kerja milenial

Kelima, Mentalitas PNS.Tidak bisa dipungkiri banyak anak muda memiliki “ mentalitas “ PNS artinya menurut mereka pekerjaan yang paling baik adalah menjadi PNS karena memiliki pendapatan tetap, tunjangan mumpuni, jaminan hari tua berupa dana pensiun dan beberapa kemudahan lainnya telah pula menyebabkan anak muda enggan menjadi petani . kondisi ini juga didukung oleh keinginan orang tua yang ingin anaknya menjadi PNS bahkan mereka rela menjual beberapa petak sawah atau kebun untuk mewujudkan keinginan tersebut. Toh pada akhirnya sawah dan kebun yang dikorbankan tersebut akan kembali juga.

bayar
Baca Juga

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

IKLAN

Kondisi ini cukup memprihatinkan, dengan banyak nya anak muda yang engan menjadi petani maka Indonesia tidak akan merasakan manfaat bonus demografi yang puncaknya pada 2030 nanti. Justru beban Indonesia akan semaikin bertambah. Untuk menarik minat anak muda banting setir menjadi petani maka perlu langkah – langkah mudah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari – hari , dimana Langkah konkritnya adalah

Pertama, memberikan kesempatan kepada anak muda untuk mengelola tanah kas desa. Dengan pola ini dapat menjadi solusi bagi anak –anak muda yang belum memiliki akses lahan dapat mulai mengelola tanah kas desa. Dengan cara ini, anak muda tak perlu lama menunggu untuk jadi petani dengan sendirinya anak muda berminat kembali untuk bertani

Kedua, member insentiv berupa pelatihan dan magang. Pola ini diharapkan mampu mengatasi mitos bahwasannya bekerja di sawah penghasilannya rendah , ketinggalan jaman, kotor dan sebagainya padahal anak muda yang mau jadi petani tidak harus selalu bekerja seperti orang tua kita dulu. Sekarang ada teknologi , bisa kembangkan itu termasuk pengembangan keuangannya, tentu saja menjadi petani yang naik kelas. Keadaan ini diperoleh dengan member pelatihan pelatihan dan magang kepada anak muda yang meliputi pelatihan budidaya, keuangan dan pemasaran

Ketiga, Memberi kesempatan kepada anak muda untuk mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Disini konkritnya menyiapkan dulu anak mudanya dengan konsep member ruang yang cukup bagi anak muda untuk menyampaikan gagasannya. Hal ini penting untuk mengurangi dominasi orang tua di pedesaan. UU desa bisa menjadi pintu masuk yang bisa dioptimalkan . anak muda bisa terlibat dalam kegiatan pertanian melalui BUMDES ( badan usaha milik desa ). Selama ini keterlibatan kaum milenial sangat sedikit bahkan lebih jauh

Olahan Mangga
Baca Juga

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Keempat, Member kemudahan akses permodalan. Akses permodalam menjadi kunci usaha pertanian. Bagi wira usaha muda akses permodalan menjadi penting karena masih banyak anak muda minat bertani tapi belum memiliki anggunan seperti yang dipersyaratkan Bank. Kondisi ini tentu perlu dicarikan “win – win Solution” sehingga anak muda bisa mendapatkan akses modal untuk bertani.

Kelima, Mengubah Mindset mentalitas PNS menjadi mentalitas wirausaha. Bercermin dari kondisi ini pemerintah juga tidak menutup mata bahkan telah melauncing beberapa program salah satunya melalui BPPSDMP kementrian Pertanian menargetkan terbentuknya 2,5 juta petani Milenial dan wira usaha muda dalam lima tahun kedepan. Semoga!!!

( Ade Candra, S.Pt, Penyuluh Pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman, sumatera Barat )

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/5-hal-mudah-bikin-anak-muda-mau-bertani/30904/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.57 WITA

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Dari Sagu Menjadi SaBar, Inovasi Pangan Lokal Papua Selatan yang Mengangkat Cerita Kearifan Budaya

Kedaulatan Rupiah Tak Cukup Berhenti di QRIS

Bergantung Pasokan Luar Daerah, Harga Pangan di Pasar Ciputat Mudah Bergejolak

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD
  2. 2

    Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

  3. 3

    Self-Sabotage: Ketika Kita Justru Menghalangi Diri Sendiri

  4. 4

    Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

  5. 5

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.