Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Tingkatkan Pendapatan Petani Dengan Pengaturan Tata Niaga Gabah dan Beras

Tingkatkan Pendapatan Petani Dengan Pengaturan Tata Niaga Gabah dan Beras

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
12 Februari 2022, 12.47 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
gabah dan beras

JurnalPost - Di Awal tahun 2022 ini tingkat pendapatan petani padi sawah belum sesuai dengan yang mereka dambakan. Dari tahun ke tahun petani tidak pernah ganti nasib alias pendapatannya tidak pernah naik. Sementara itu harga saprodi jauh melambung tinggi dan hampir tidak terjangkau oleh petani. Ambil kasus harga Herbisida berbahan aktif Glifosat kenaikan nya mencapai 80 -100%, begitu juga pupuk Impor yang selama ini sering digunakan petani seperti TSP kuda, NPK Mutiara 16 : 16 : 16 atau Pupuk KCL dll kenaikan nya hampir mencapai 100%. Disisi lain petani hanya menjual gabah dalam kisaran harga yang sama dari tahun ketahun antara Rp. 4 ribu hingga Rp. 5 Ribu per kg gabah kering panen (GKP). Kondisi ini tentu sangat memberatkan petani dan beban semakin bertambah ketika pupuk subsidi langka di Pasaran sebagai akibat pemerintah melalui kementrian pertanian mengurangi kuota pupuk bersubsidi untuk petani dari yang semula 24 Juta ton hanya menjadi 9 Juta ton saja.

Data diatas mengindikasikan bahwa kuota pupuk bersubsidi untuk tanaman padi hanya berkisar 150 kg /ha padahal dibeberapa daerah sentra padi seperti jawa Barat dan jawa Tengah kebutuhan urea Subsidi untuk perhektar sawah telah mencapai 300 – 350 kg / hektar. Rentetannya produksi tidak tercapai dan keuntungan petani padi sawah tidak bisa meningkat. Selain dipicu persoalan harga Saprodi diatas Fakta dilapangan menunjukkan pendapatan petani padi sawah yang belum ideal ditenggarai disebabkan oleh hampir 85 % petani menjual langsung gabah setelah panen dalam bentuk gabah kering panen (GKP) dan sisanya (15 %) dijual setelah penyimpanan dalam bentuk gabah kering Giling (GKG), ( hasil survey rantai nilai kegiatan IPDMIP di daerah DI batang Petok, Kabupaten Pasaman Sumbar, 2021)

IKLAN

Permasalahan lain petani adalah keterbatasan modal usaha, walaupun mereka memakai modal sendiri (50%) petani hanya sanggup membeli saprodi (pupuk, pestisida) dalam jumlah terbatas bahkan petani sangat tergantung kepada pupuk bersubsidi sehingga hasil produksi tidak optimum. Sedangkan bagi 45 % petani lain permodalan memang menjadi persolan utama sehingga mereka terjebak utang pada tengkulak, pedagang dan RMU atau penggilingan yang ada didaerah tempat tinggl mereka serta 5 % menggunakan permodalan dari Kredit Formal.

kedai pajak sampul 1280x720
Baca Juga

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Sistim peminjaman uang melalui kredit non formal menimbulkan permasalahan bagi petani karena ada tersirat keharusan bagi petani untuk menjual gabah kepada si pelepas uang. Hal ini mengindikasikan petani kurang bebas memilih pembeli yang lebih menguntungkan dan ditemukan kasus dengan berbagai alasan pelepas uang menekan harga jual gabah petani sekitar Rp. 100,-/ GKP lebih rendah dari harga yang berlaku. Jika berhubungan dengan pola ini maka petani harus menanggung bunga Saprodi yang dipinjamkan sebesar 20 %

Disisi lain cara penjualan gabah langsung setelah panen sulit untuk dihindari karena disamping petani mempunyai kebutuhan yang mendesak, juga mereka umumnya tidak mempunyai sarana pengeringan dan penyimpanan yang memadai hal ini akan menyebabkan harga gabah petani anjlok turun karena suplay gabah waktu panen meningkat sehingga proses tawar petani sangat lemah

IKLAN

Sehubungan dengan pendapatan petani padi sawah yang kian hari kian memprihatinkan tentu perlu dicarikan solusi dan jalan keluarnya, banyak petani minta HPP gabah dinaikkan jadi diatas Rp.5 Ribu per Kg gabah . Tapi menurut pemerintah hal ini sulit dipenuhi karena banyak penduduk Indonesia lain yang tidak bersawah yang akan menjerit karena dipastikan harga beras ikut pula terdongkrak naik sehingga memberatkan konsumen plus memicu inflasi .kemudian juga banyak desakan agar pemerintah memberikan subsidi pupuk dan benih berlebih untuk petani, namun hal ini juga sulit terealisasi karena akan menambah berat APBN yang sedang diefisienkan pemerintah yang paling update adanya penolakan Impor Beras dan direspon pemerintah dengan tidak lagi mengimpor beras pada tahun 2021 yang lalu, namun pendapatan petani juga tidak bisa bertambah. Lalu apa solusinya agar pendapatan petani bisa meningkat?.

Dari fakta dilapangan Solusi yang paling mungkin untuk dilaksanakan adalah Melakukan penataan tata niaga gabah beras. Penataan ini menjadi penting mengingat pola ini dipandang sebagai suatu alternative untuk mensejahterakan petani alias meningkatkan pendapatan petani padi sawah. Korelasinya adalah bagaimana petani berperan lebih aktif bahkan menjadi lebih penting dalam sisitim tata niaga beras atau gabah akibatnya petani memiliki posisi tawar yang tinggi.

bayar
Baca Juga

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pada sistim tata niaga gabah/beras yang dijalankan selama ini petani sebagai pelaku utama justru tidak bisa menetukan posisi tawar, paling-paling kegiatannya dalam sistim tata niaga baru terbatas pada menjual gabah secara langsung kepada sipembeli atau tengkulak setelah panen. Padahal petani dapat lebih berperan dalam sisitim tata niaga misalnya petani dapat menjual gabah dalam bentuk GKG bahkan petani bisa menjual gabah dalam bentuk sudah menjadi beras. Seperti diketahui apabila pelaku utama menjual gabah dalam bentuk GKG maka akan terdapat tambahan pendapatan sebesar Rp. 170,- per kg gabah dan apabila menjualnya dalam bentuk beras akan terjai kenaikan pendapatan sebesar RP. 380,- per kg Gabah..(hasil survey rantai Nuilai 2021.

Kondisi ini penting untuk disikapi Karena dari hasil survey tingkat pendapatan yang paling rendah dalam sisitim tata niaga gabah/ beras ada pada tingkat petani sebesar Rp. 228 sampai Rp 350,,- per kg Gabah. Sedangkan yang paling tinggi ada pada peagang kilang (memproduksi beras berlabel) diikuti RMU didaerah asal petani, pedagang pengepul, pengecer beras dan tengkulak atau toke padi. Disinilah peran semua pihak yaitu memperbaiki sistim tata niaga beras sehingga petani lebih berperan dalam sistim tata niaga tersebut. bentuk konkritnya adalah memfasilitas petani melalui kelompok – kelompok tani, gapoktan, KEP untuk mendapatkan sarana seperti lantai jemur dan penggilingan padi kecil (PPK ) sehingga petani bisa menjual gabah dalam bentuk GKG dan beras serta memfasilitasi petani mendapatkan kredit KUR dengan bunga rendah dan akses mudah dengan harapan terjadi perubahan dalam sistim tata niaga gabah/ beras yang bermuara pada meningkatnya pendapatan petani padi sawah. Semoga!!!.

(Oleh: Ade Candra Sumatera barat, Penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/tingkatkan-pendapatan-petani-dengan-pengaturan-tata-niaga-gabah-dan-beras/30800/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.09 WITA

  • #Gabah dan beras

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

Dari Sagu Menjadi SaBar, Inovasi Pangan Lokal Papua Selatan yang Mengangkat Cerita Kearifan Budaya

Kedaulatan Rupiah Tak Cukup Berhenti di QRIS

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Pilihan Editor

  1. 1 Benturan Kertas dan Layar: Saat Protokol Notaris Terjebak di Pusaran Legal Deadlock Digital
  2. 2

    UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

  3. 3

    Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

  4. 4

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  5. 5

    Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.