Manado, JurnalPost.com – Pertanian tanaman obat tradisional di Sulawesi Utara kini memasuki era baru. Program pengabdian masyarakat Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) yang dipimpin Pujo Hari Saputro bersama timnya memperkenalkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung budidaya biofarmaka. Dengan pendekatan Community-Based Participatory Research (CBPR), para petani dilibatkan sejak awal proses, mulai dari identifikasi masalah hingga penerapan teknologi, sehingga mereka tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga bagian dari perancang solusi.
Sistem otomasi yang diterapkan menggunakan sensor suhu dan kelembapan DHT11, modul NodeMCU, serta aktuator yang terhubung dengan platform berbasis cloud. Hasilnya cukup mencolok, suhu dapat dipertahankan stabil pada 25±1°C dan kelembapan sekitar 50±5%, kondisi yang langsung berpengaruh pada peningkatan kualitas tanaman. Rata-rata hasil panen naik hingga 10 persen, dengan contoh jahe dan lengkuas yang masing-masing meningkat lebih dari 11 persen, sementara temulawak naik sekitar 10 persen. Selain itu, efisiensi juga dicapai melalui penghematan air hingga 20 persen dan pengurangan tenaga kerja manual sebesar 30 persen, sebuah jawaban atas tantangan keterbatasan tenaga kerja produktif di kalangan petani lokal.
Aspek pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam program ini. Pada 2 Agustus 2025, tim Unsrat menggelar sosialisasi budidaya biofarmaka di sebuah balai pelatihan komunitas yang dihadiri puluhan warga. Dalam kesempatan itu, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai potensi ekonomi tanaman obat, tetapi juga pelatihan langsung mengenai penggunaan teknologi IoT dalam pengelolaan mikroklimat. Harapannya, masyarakat mampu merawat, mengembangkan, dan bahkan melatih generasi muda agar menjadi teknisi lokal yang dapat menjaga keberlanjutan sistem ini di lapangan.
Kendati demikian, masih ada sejumlah kendala yang harus diperhatikan. Keterbatasan akses internet di daerah pedesaan kerap menghambat pemantauan jarak jauh, sementara waktu uji coba selama enam bulan belum cukup untuk menilai dampak jangka panjang, baik terhadap kesuburan tanah maupun konsistensi panen lintas musim. Oleh sebab itu, tim merekomendasikan perlunya dukungan kebijakan pemerintah daerah serta pengembangan model bisnis yang jelas agar teknologi ini bisa diterapkan secara lebih luas. Dengan lebih dari 40 jenis tanaman obat yang dibudidayakan di Sulut, penerapan pertanian cerdas berbasis IoT dan pengelolaan mikroklimat dipandang sebagai peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjadikan daerah ini sebagai pionir pengembangan biofarmaka modern di Indonesia.
Oleh: Pujo Hari Saputro
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda