Penulis: Widhian Meilani Aulia Mahasiswa Program Studi Psikologi, Univrrsitas Pendidikan
JurnalPost.com - Kita semua pernah ada di sana, di saat kita sudah menguras keringat 100%, malam-malam tanpa tidur, lalu melihat orang lain melenggang membawa piala yang kita impikan. Mengapa semakin keras kita berusaha, semakin benci kita saat harus mengakui kekalahan?
Situasi yang mirip dengan keadaan itu kerap kali kita rasakan, upaya kita memperbaiki hidup itu tidak akan pernah terasa tercapai saat kita melihat orang lain yang kita anggap memiliki kelebihan yang kita inginkan.
Dari mana sebenarnya rasa benci itu muncul? Apakah manusia memang dirancang untuk sulit menerima kekalahan, ataukah ego kita yang terlalu rapuh untuk menerima bahwa dunia tidak selalu bekerja sesuai rumus keadilan yang kita buat sendiri?
Sebelum kita terburu-buru menyalahkan rasa benci itu sebagai tanda bahwa kita adalah pribadi yang jahat, mari kita duduk sejenak dan memeriksa bagian paling dalam dari ego kita. Sering kali, rasa benci itu muncul bukan karena kita membenci keberhasilan orang lain, melainkan karena otak kita kebingungan menempatkan ekspektasi.
Di sinilah Stoikisme masuk untuk menenangkan benang kusut itu. Filsuf seperti Epictetus mengingatkan kita tentang Dikotomi Kendali bahwa di dalam hidup, ada hal yang berada di bawah kendali kita (usaha, latihan, dan niat), serta ada hal yang sepenuhnya di luar kendali kita (hasil akhir, keputusan juri, dan performa lawan).
Kita merasa bahwa karena sudah memberi 100%, dunia wajib membalasnya dengan kemenangan. Padahal, Stoikisme mengajarkan bahwa nilai sejati dari perjuanganmu terletak pada proses usahamu sendiri, bukan pada piala yang berada di luar kendalimu.
Namun, menyadari kesalahan logika berpikir saja tidak cukup untuk menghapus rasa pahit di dada. Emosi manusia terlalu kompleks jika hanya diselesaikan dengan logika dingin. Kita butuh keberanian untuk memeluk rasa sakit itu tanpa harus menyalurkannya menjadi dendam terselubung.
Friedrich Nietzsche menyebut rasa benci dan dengki yang dipendam ini sebagai kondisi ketika seseorang menolak mengakui kekalahannya, lalu diam-diam membenci sang pemenang demi melindungi egonya yang terluka. Mencintai takdir menjadi tawaran obat yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri, bukan berarti kita pasrah secara buta atau berpura-pura bahagia saat kalah. Tapi bentuk keberanian tertinggi untuk melihat kenyataan pahit, menyerap rasa sakitnya, dan berkata pada diri sendiri: "Ini adalah takdirku saat ini, dan aku akan menggunakannya untuk menempaku jadi lebih kuat." Mengakui kemenangan orang lain bukan tanda kelemahan, melainkan bukti ego yang sudah cukup dewasa untuk merangkul seluruh bagian dari perjalanan.
Meskipun begitu, kita juga harus jujur pada diri sendiri. Mengapa mencintai takdir itu terasa begitu berat di zaman sekarang? Jika kita sudah berusaha berdamai dengan ego, mengapa lingkungan seolah-olah terus mengejek kekalahan kita? Hal ini terjadi karena kita tidak bertarung di ruang hampa, melainkan kita bertarung di tengah masyarakat yang sedang 'sakit'.
Kini pada kehidupan modern kita dikelilingi orang dengan perkataan positif yang ‘katanya’ ingin mendorong kita untuk bangkit dan meninggalkan kesedihan itu. Dimanapun, kita terus dibisikkan slogan bahwa siapapun bisa meraih apa saja asal mau berusaha keras. Sekilas ini terdengar positif, tetapi filsuf Han Byun Chul melihat racun tersembunyinya dan memberikan pemikiran bahwa “jika sukses adalah bukti kerja keras, maka kalah dituduh sebagai bukti malas.”
Inilah yang membuat kekalahan terasa begitu membakar. Ketika kamu tidak lolos seleksi, kamu tidak hanya merasa kehilangan peluang, tetapi merasa sedang dihakimi sebagai pribadi yang cacat. Kamu membenci kemenangan orang lain karena dalam sistem ini, kemenangan orang lain seolah menjadi cermin yang mengejek kegagalanmu.
Menyadari pemikiran Han adalah bentuk pembebasan terbesar. Kamu bisa berhenti menghukum dirimu sendiri. Rasa bencilah yang membuatmu lelah, bukan kekalahan itu sendiri. Kamu tidak gagal menjadi manusia, kamu hanya sedang bertanding dalam sistem yang lupa bahwa manusia juga butuh ruang untuk rebah dan kalah.
Ribuan jam yang kamu habiskan untuk belajar, mengoreksi tulisan, dan berjuang tidak pernah menguap begitu saja. Usaha itu tidak terbuang hanya karena piala atau sertifikat itu dipegang oleh orang lain. Seluruh keringat itu sedang bekerja di balik layar, membentuk daya tahan mental, memperluas cara pandang, dan mendewasakan caramu menyikapi hidup.
Mengakui kemenangan temanmu bukan berarti kamu ditakdirkan menjadi pecundang. Itu adalah bukti bahwa kamu cukup bijaksana untuk melepaskan ilusi kendali, cukup berani untuk mencintai proses perjuanganmu sendiri, dan cukup merdeka untuk tidak mendefinisikan harga dirimu lewat pengakuan dunia.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda