Berawal dari Semangat Gotong Royong Warga
Perjalanan Kenanga Laras tidak terlepas dari semangat gotong royong masyarakat. Pada masa awal berdiri, para anggota harus berpindah-pindah tempat latihan karena belum memiliki seperangkat gamelan sendiri. Melalui bantuan dan iuran warga, pada 2015 Kenanga Laras akhirnya berhasil memiliki seperangkat gamelan berbahan besi. Gamelan tersebut hingga kini masih digunakan sebagai sarana utama latihan para anggota. Dengan fasilitas yang dimiliki serta semangat para anggotanya, Kenanga Laras mulai mendapatkan kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan. Salah satunya adalah pementasan di kawasan Prambanan selama dua tahun berturut-turut pada 2016 dan 2017. Terbaru, pada 24 Juli 2026, Kenanga Laras turut tampil di Taman Budaya Yogyakarta dalam rangka Festival Dalang Anak dan Remaja Provinsi Yogyakarta. Kesempatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan kelompok dalam mempertahankan eksistensi sekaligus memperkenalkan karawitan kepada masyarakat.Latihan Rutin dan Tantangan Regenerasi
Saat ini, latihan rutin Kenanga Laras dilaksanakan setiap Minggu malam. Latihan pada dasarnya dilakukan secara bergilir untuk setiap generasi. Namun, menjelang pementasan, kegiatan latihan lebih difokuskan kepada anggota yang akan tampil. Dalam beberapa pementasan, anggota yang terlibat merupakan gabungan dari generasi sepuh dan pemuda. Pola tersebut menunjukkan bahwa karawitan dapat menjadi ruang interaksi sekaligus transfer pengetahuan antargenerasi.
Meski demikian, Kenanga Laras juga menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga proses regenerasi. Salah satunya adalah konsistensi kehadiran anggota muda yang mulai disibukkan oleh pekerjaan maupun aktivitas lainnya.
Kelompok anak-anak juga menghadapi tantangan dalam menyesuaikan waktu latihan dengan jadwal pelatih yang memiliki berbagai kesibukan.
Menurut salah seorang anggota muda Kenanga Laras, semangat para anggota menjadi faktor utama yang membuat paguyuban tersebut dapat terus bertahan hingga sekarang.
“Yang membuat Kenanga Laras tetap bertahan adalah semangat bapak dan ibu yang mengikuti paguyuban ini. Kalau semangat itu hilang, paguyuban tentu tidak akan bisa bertahan,” tuturnya.
Kenanga Laras sebagai Keluarga Kedua
Lebih dari sekadar kelompok seni, Kenanga Laras memiliki peran sosial dalam mempererat hubungan antarwarga. Latihan rutin menjadi ruang bagi masyarakat dari berbagai usia untuk bertemu, berinteraksi, dan membangun kebersamaan. Bagi generasi muda, bergabung dengan Kenanga Laras juga tidak sekadar mempelajari cara memainkan gamelan. Mereka turut belajar tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan rasa memiliki terhadap komunitas.
Salah seorang anggota muda mengungkapkan bahwa dirinya tetap berusaha aktif mengikuti kegiatan Kenanga Laras meskipun kesibukan pekerjaan semakin meningkat.
“Di Kenanga Laras saya belajar banyak hal, tidak hanya berlatih karawitan tetapi juga kebersamaan. Saya menganggap Kenanga Laras sebagai keluarga kedua saya. Walaupun kesibukan semakin meningkat, saya akan tetap meluangkan waktu untuk aktif di paguyuban ini karena saya merasa banyak memperoleh ilmu dari sini,” ujarnya.Kebersamaan lintas generasi tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membuat Kenanga Laras mampu mempertahankan eksistensinya selama sekitar dua dekade.
Berharap Memiliki Gamelan Perunggu
Hingga kini, Kenanga Laras telah memiliki seperangkat gamelan berbahan besi yang lengkap. Ke depan, paguyuban berharap mendapatkan dukungan untuk memiliki seperangkat gamelan berbahan perunggu. Keberadaan gamelan perunggu diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarana yang dimiliki sekaligus menunjang proses latihan dan pementasan anggota Kenanga Laras.
Di sisi lain, harapan terbesar para anggota adalah agar proses regenerasi dapat terus berlangsung sehingga Kenanga Laras tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tegalkenongo pada masa mendatang.
“Harapan saya, semoga Kenanga Laras tetap bertahan di masa depan, siapa pun nanti yang menjadi penerusnya,” pungkas salah seorang anggota muda.Keberadaan Kenanga Laras menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan identitas masyarakat. Melalui semangat gotong royong serta proses regenerasi yang terus diupayakan, Kenanga Laras menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Selama semangat tersebut terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, alunan gamelan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tegalkenongo. Penulis: Yaskur Al Kautsar – KKN UNS 01 Desa Tirtonirmolo
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda