Oleh: Putri Fadila
JurnalPost.com - Gadis remaja yang sudah beranjak dewasa seiring waktu itu mulai berusaha meninggalkan semua kesedihan di masa lalunya. Menurutnya masa lalu bersendiri akan semua hal sudah tidak seharusnya ia lakukan. Memulai dengan senyuman yang pahit dan seakan enggan untuk memulai perbincangan, Dila, nama yang sering kali dia dengar di umur 20 tahun ini. Dengan sangat berat hati yang dirasakannya ia mulai menceritakan kisah hidupnya sebagai remaja yang ditinggalkan.
Berawal mula pada masuknya dia di SMA dekat rumahnya itu. Awalnya Dila enggan bersekolah di SMA tersebut karena memlihi sekolah lain yang menurutnya lebih baik. Tetapi takdir berkata lain. Dia tida diterima di sekolah impiannya yang membuat setengah hatinya hancur dan bersamaan dengan kehampaan hati tidak diterima di sekolah impiannya ia harus mulai mendaftar di sekolah terdekatnya yaitu SMA 1 Jember.
Disekolah yang akan memberikan Dila kenangan indah sekaligus mengerikan baginya. "Aku ini kalo dibilang orang-orang kamu cantik dil itu ga percaya, karena aku nya ngerasa emang ga cantik" kata nya saat dipuji cantik. Pada masa SMA nya dia selalu berusaha untuk menjadi teman yang baik bagi teman-temannya. Tetapi entah mengapa usaha yang dia lakukan untuk berteman baik sangat dipandang rendah bagi teman-temannya.
Dila yang sempat mempunyai teman dekat, dia berusaha dengan sangat agar pertemanan yang dia idamkan dulu saat kecil tidak hancur. Dia bertekad untuk benar-benar menjaga hubungan pertemanan ini. Dan yaaa…. awal-awal semester kelas 10 dia dan ketiga temannya itu selalu bersama. Kemanapun selalu berempat, bahkan hingga ke kamar mandi pun. Bepergian ke mall, yang hanya untuk melihat-lihat sja tanpa membeli apapun. Nonton film di bioskop juga sering dilakukan Dila dan temannya. Sering pula mereka berempat main di rumah Dila hingga petang hari. “kalo mengingat kenangan pertemanan dulu di SMA tuh indah sekaligus sedih, emang harusnya gausah terlalu percaya sama manusia.” Kata nya saat bercerita di tengah-tengah, sepertinya dia dikecewakan oleh teman-temannya.
Menurtunya teman adalah orang terpenting didalam hidup kala itu. Teman baginya adalah tempat untuk menjadi diri sendiri, tempat yang bisa dia gunakan untuk berkeluh kesah, tempat yang bisa memberikannya kesenangan, ketenangan, dan kebahagiaan. Dikala rumah yang tidak berbentuk rumah untuk pulang. Kedua orang tua Dila yang acuh tak acuh pada hidup Dila, membuatnya selalu merasa sendiri dirumah. Rumah yang sesak dan menyiksa batin Dila membuatnya selalu menyendiri di kamarnya, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya Dila menjadi sosok remaja rapuh yang butuh sesorang untuk menenangkan pikiran yang ada dipikirannya. Sehingga teman baginya adalah manusia paling penting di hidupnya.
Menjadi anak satu-satunya dia berpikir harus menanggung semua seniri. Entah dalam urusan apapun, Dila dituntut mandiri oleh kedua orang tua nya. Tuntutan itu semakin besar karena Dila yang sudah masuk sekolah menengah atas, tuntutan prestasi yang harus didapatkan menjadi tekanan tinggi bagi Dila. Dia merasa sangat bodoh ketika nilai ujian yang keluar snagatlah jauh dari bayangannya. Dia sangat merasa takut unutk memberitahukan nilai itu kepada kedua orang tuanya. “takut aku kalo dapet nilai jelek, pasti dirumah langsung banyak toa ehhehe” katanya menjelaskan dengan lelucon gambaran rumah nya kalo dia mendapat nilai jelek di ujian.
Menjadi anak satu-satunya membuat Dila sangat amat gampang merasa kesepian, dirumah hanya ada dia. Selalu sendiri dirumah yang besar itu membuatnya sangat merasa sedih. Ditambah lagi dengan ketidak pedulian kedua orang tuanya. Membuat perasaanya sangat amat hancur. Sehingga kamar dan teman-temannya lah yang menjadi pelarian atas kesedihan yang dirasakannya itu.
Memasuki kelas 11, Dila merasa aneh dengan teman-temannya. Seperti mereka sudah tidak lagi main dirumahnya. Tidak mengajak pergi kekantin bersama. Tidak mengajak bepergian atau berlibur bersama. Bahkan hal dulu yang sering mereka ber-empat lakukan yaitu ke kamar mandi bersama guna untuk melihat kaka kelas yang disukai temannya, sudah sangat jarang dilakukan. Tempat duduk yang biasanya berdampingan tiba-tiba perlahan mulai berpencar dan tidak bersama lagi. Dila berpikir apa yang sudah dilakukannya hingga berkahir seperti ini, pertemanan mereka yang sempurna di kelas 10 apakah hilang begitu saja? Pikir Dila ditengah-tengah kelas matematika saat itu. Dulu saat kelas 10 saat kelas matematika, mereka berempat pasti ebrkumpul untuk menyelesaikan permasalah bersama, tetapi entah kenapa sekarang sudah tidak dilakukan. Dila dan ketiga temannya itu menjadi tidak dekat lagi tanpa tahu apa alasannya.
Mulai pada pertengahan semester kelas 11 dia bertanya pada salah satu temannya itu, menanyakan kenapa mereka berbeda seperti biasanya. Tanpa adanya penjelasan yang pasti, temannya hanya menganggap Dila adalah salah satu temannya bukan satu satunya. Dila yang terkejut akan jawaban temannya itu. Teman yang sudah Dila anggap sebagai saudara kandung itu mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi nya. Karena kesedihan yang amat sangat besar, Dila mengurung diri dikamar. Berhari-hari dia hanya dikamar, ruangan yang menjadi tempat nya melarikan diri dari dunia yang jahat padanya. Kamar yang senantiasa ada disisinya tanpa ada niatan untuk meninggalkannya, pikirnya.
Berhari-hari dilalui Dila menjadi seorang penyendiri dikamar tercintanya itu. Dia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya, karena menurutnya dia tidak pantas di dunia ini. Dia merasa tidak ada yang menginginkannya bahkan kedua orang tuanya. Dikamar itu dia mencurahkan seluruh isinhatinya tanpa terkecuali, kamarnya lah yang menjadi saksi bisu kesedihannya masa remaja dulu.
Dengan amat sangat mengejutkannya, ibu Dila yang biasanya tiak memperdulikan hidup dia. Tiba-tiba datang menghampiri kamar Dila yang selalu tertutup itu. Disitu Dila sedang menangis meratapi kenapa ini semua terjadi, dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Ibunya yang melihat itupun langsung sontak berteriak dan menghentikan perbuatan Dila. Ibunya memeluk Dila dengan erat, anak yang tidak ia pedulikan selama ini menjadi rapuh karenanya. Dila menceritakan semuanya, semua yang dia pendam selama ini yang ingin dikatakan pada orang tua nya akhirnya keluar dari mulutnya itu.
“Tapi kayanya kalo dulu aku ga ditinggal temen-temen, kayanya aku gabakal sebahagia ini deh punya kedua orang tua yang ternyata support banget sama aku.” Katanya.
Akhir dari kesedihan Dila yang ditinggal temannya tetapi mendapat perhatian kembali kedua orang tuanya membuatnya tidak menyesali dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Bagaimana pun kini dia memiliki kedua orang tuanya yang siap ada dibelakang nya untuk menjadi tempat cerita.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda