Oleh : Lina Maulidiyah Mahasiswi IAIN SYECH NURJATI CIREBON
JurnalPost.com - Jika dalam suatu syair mengatakan hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, maka sama halnya dengan ilmu. Hidup tanpa ilmu seperti kehidupan yang petang, tidak adanya lentera yang menghiasi perjalanannya. Dengan ilmu, kita akan selamat dari jurang kesengsaraan. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dan muslimat, sejak kecil pastinya kita sudah mendapatkan ilmu dari orangtua. Mulai dari hal-hal kecil contohnya mengajarkan berbicara, mengajarkan cara berjalan, mengenalkan anggota badan, mengenalkan nama-nama buah, binatang, kendaraan, dan sebagainya. Menuntut ilmu dengan dibarengi pekerti yang baik menjadikan ilmu yang diperoleh barokah.
Mendengar istilah barokah, sering kita dapati pada dunia pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan agama Islam dan memiliki cita untuk membangun generasi ulama selanjutnya. Pesantren juga menjadi sistem pendidikan tertua di Indonesia. Banyak pesantren yang berdiri sebelum Indonesia Merdeka. Selain mengajarkan ilmu agama, pesantren juga mengajarkan santri untuk bersikap mandiri. Barakah dalam pesantren sering dikenal dengan Ziadatul Khair (bertambahnya kebaikan). Bertambahnya kebaikan disini diartikan bertambahnya kemanfaatan yang diperoleh atas kesabarannya.
Seperti santri bernama Kris Nandang (24) asal Majalengka, yang akrab dengan sebutan Kang Kris. Beliau menempuh pendidikan pesantren mulai tahun 2015 sampai sekarang. Hidupnya di pesantren membawakan perubahan bagi dirinya. Kang Kris lahir dari keluarga sederhana, yang memiliki semangat tinggi dalam belajar. Saat ini Kang Kris masih menempuh pendidikan S2 di Iain Syech Nurjati Cirebon dan masih menjalankan masa khidmahnya di pondok pesantren Ulummudin Kota Cirebon.
Mengulik dari kisah sebelumnya, Kang Kris mengaku sempat mengalami hambatan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Karena keterbatasan ekonomi dari keluarganya yang membuatnya tidak begitu yakin jika bisa melanjutkan kuliah. Orang tua Kang Kris hanyalah pedagang kecil biasa, hasil dagangan pun hanya bisa untuk makan sehari saja. Mengetahui keadaan keluarganya yang tidak memungkinkan, Kang Kris pun mencoba mencari cara dengan menjadi guru privat pada anak-anak disekitar rumahnya. Yak, walapun tidak seberapa tapi itu bisa meringankan dan dapat membantu beberapa kebutuhannya.
Orangtua Kang Kris berpesan, bahwa dirinya benar-benar tidak mampu untuk membiayai kuliahnya. Karena waktu itu penghasilan dari orang tua Kang Kris menurun. Namun jika Kang Kris bersikukuh ingin tetap kuliah, mungkin orangtua hanya bisa membantu semampunya dan menyarankan untuk tidak terlalu jauh memilih tempat kuliah. Dan juga kalau bisa mencari kuliah yang membuka beasiswa.
Dengan niat lillahii ta’ala Kang Kris melanjutkan kuliah sembari mencari informasi beasiswa. Namun sayangnya, beberapa kali ia selalu gagal dalam memperoleh beasiswa. Tapi tak apa, ia yakin jika niat karena Allah pasti akan dimudahkan kedepannya. Akhirnya untuk menerima hal itu dengan baik Kang Kris memilih tinggal di pesantren sementara, karena menurutnya biaya di pesantren jauh lebih murah jika dibanding dengan ngekost. Selama 4 semester ia jalani kuliah dengan biaya mandiri, laki-laki berusia 24 tahun itu, tak pernah bosan dan tidak berhenti untuk mencoba kembali daftar beasiswa yang diadakan di Kampusnya.
Seiring berjalannya waktu, ia mendapatkan beasiswa bidikmisi. Bersyukur karena beasiswa ini merupakan harapan baginya. Mensyukuri akan hal itu, ia tidak ingin jika sebagai penerima beasiswa saja. Dari sini muncul gentakan baginya untuk mengasah skill yang ia miliki. Kang Kris memiliki ketertarikan lebih pada bidang tulis dan olahraga volly. “Seni tulis merupakan wadah bagi kita, karena secara tidak langsung menulis merupakan seni mengabadikan kehidupan, jikalau kita sudah tiada orang-orang bisa mengingat kita melalui tulisan” tuturnya. Untuk bidang volly merupakan hobi yang sudah tertanam dari kecil hingga sekarang. Awal dari ia menyukai bidang penulisan ini, sebetulnya karena tidak kesengajaan. Waktu itu ia mendapat tugas penulisan dari akademik. Hasil tulisan yang ia buat dilirik oleh dosen pembimbingnya. Dari situ ia dipercaya, untuk menjadi perwakilan kampus atau jurusan untuk mengikuti lomba menulis.
Selain menjadi mahasiswa aktif menulis, ia merupakan santri yang takzhim pada Kiyai. Walaupun menulis menjadi aktivitas kesehariannya, namun tidak menghalangi baginya untuk menjalankan aktitas santri pada umumnya. Bukan hanya sebagai santri, Kang Kris juga dipercaya Kiyai untuk mengajar di pesantren. Yang awalnya ingin sementara tinggal, kini menjadi tempat ngabdi (menetap di pondok).
Bakatnya dalam bidang menulis selalu berkembang, akhirnya ia mencoba mengikuti berbagai ajang perlombaan. Awalnya hanya ingin mecoba atas kemampuan yang dimiliki, tak disangka ia berhasil menjuarai perlombaan tersebut mulai dari tingkat Kabupaten hingga Provinsi. Kemenangan yang diraih tidak jauh dari doa orang tua dan guru. Keduanya, menjadi faktor penting karena orangtua dan guru selalu memberikan pengaruh yang baik, sehingga membuahkan hasil yang baik pula. Memiliki prestasi yang mumpuni merupakan suatu kebanggan bagi semua orang, begitu juga dengan Kang Kris.
Lagi-lagi Kang Kris menyampaikan bahwa dirinya bisa seperti ini tidak luput dari restu orang tua, dan doa sang guru. Setiap libur lebaran, ia tak pernah lupa untuk bersilaturahmi kerumah guru-gurunya. Dan ia juga tidak lupa untuk mengirim doa bagi gurunya yang telah wafat. Karena baginya dengan cara bersilaturahmi ke guru ibarat kita mencharger hati, hati kita otomatis terisi dengan ketenangan dan hal-hal baik. Dengan ketenangan hati, menjadikan diri kita tabarruk ilaih (mendekatkan diri kita kepada Allah). Oleh karena itu di pesantren bukan hanya sekedar mencari ilmu, atau menumpang tidur saja. Akan tetapi mengajarkan, bagaimana cara menjadikan ilmu yang kita peroleh di pesantren ini berkah. Keberkahan ilmu itu jelas adanya, jika ilmu yang kita peroleh bermanfaat pada sekeliling kita. Akan tetapi jika hanya sekedar pintar, cerdas, dan merasa bisa saja, namun tidak ada keberkahan didalamnya. Maka jangan harap ilmu yang kita dapat itu bermanfaat.
Kang Kris juga berpesan kepada anak muda untuk selalu gigih dalam belajar dan menanamkan rasa percaya diri. Percaya diri sangat penting untuk meyakinkan diri kita pada kemampuan yang dimiliki, atau percaya diri untuk mengembangkan nilai positif baik untuk diri sendiri maupun orang sekitar. Khoirunnas Anfa’uhum Linnas baginya merupakan motto hidup, karena sebaik-baiknya manusia yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi manusia lainnya. Oleh karena itu, selagi masih ada waktu untuk berkarya maka ambillah waktu itu dengan sebaik mungkin. Dan kaum muda harus berani mencoba, jangan takut gagal akan hari esok. Dengan berani mencoba, maka pengalaman pun akan bertambah.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda