Oleh: Rai Muhammad Rafli
JurnalPost.com - Teman-teman percaya tidak? Bahwa memberi makan kucing jalanan itu merupakan sebutir kecil kebaikan yang dapat menghantarkan kita ke surga. Saya pernah membaca suatu hadist yang mengisahkan tentang seorang wanita pezina yang memberikan air kepada seekor anjing yang sedang kehausan, atas perbuatan wanita tersebut allah SWT memberikan ampunan kepadanya dan memasukannya kedalam surga. Dan kisah dari seorang hujjatul islam Al-imam Al-Ghozali yang ditanya oleh salah satu santrinya, amalan apa yang telah tuan perbuat sehingga tuan dijanjikan oleh allah SWT tiket untuk masuk surga?.
Dan imam ghozali pun menjawab, amalan yang sangat sederhana yaitu membiarkan seekor lalat hinggap untuk meminum tinta yang sedang saya gunakan ketika mengarang kitab. Dari kisah tersebut saya mulai menyadari bahwa perbuatan sekecil apapun yang dapat memberikan manfaat kepada yang lainnya walaupun itu binatang dapat menjadi golden tiket untuk menghantarkan kita masuk ke dalam surga. Hal-hal seperti itulah yang sekarang sedang saya perbuat dan menjadikannya suatu hobi.
Perkenalkan, nama saya Rai Muhammad Rafli seorang mahasiswa dari salah satu universitas islam ternama di Kota Cirebon yakni IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Selain kuliah, saya juga menempuh pendidikan non formal di Pondok Pesantren Ulumuddin Kota Cirebon. Saya kerap sangat suka sekali memberi makanan kepada kucing-kucing yang terlantar di jalanan atau orang-orang suka mengistilahinya dengan sebutan Street feeding. Hal ini sering saya lakukan karena saya percaya bahwa hal sekecil apapun dalam berbuat kebaikan kepada sesama makhluk hidup dapat memberikan keberkahan kepada saya, dan ibu saya sering berpesan ketika sedang memberi makan kucing-kucingnya di rumah “ kak, kucing itu akan memberikan balas budi kepada orang yang merawatnya, memberikan makanan dan minuman kepadanya, dan di akhirat kelak kucing yang kita rawat akan menunggu kita di pinggir jembatan sirotol mustaqim dan mendampingi kita sampai kita dapat melewati jembatan tersebut dan sampai di pintu surga barulah kucing yang kita rawat akan meninggalkan kita untuk selamanya” ujar ibu saya.
Waktu selesai pengajian subuh kisaran pukul 06.00 pagi, terlihat empat ekor kucing yang sudah menunggu saya di depan kobong nama kucing itu adalah meira, toni, sumbul, dan lapet yang merupakan empat sekawan penunggu kawasan Pondok Pesantren Ulumuddin. Ketika selesai mengaji, mereka biasanya akan mengikuti saya ke kobong untuk mendapatkan sedikit royal canin untuk memenuhi asupan perut mereka. Ketika sedang memberi mereka makan, saya itu suka bergumam didalam hati “ya allah kasihan sekali mereka. Berbeda dengan kucing-kucing yang mempunyai majikan di rumahnya, mereka harus mencari dulu walaupun sepotong tulang untuk bisa mengisi perut mereka. Terkadang mereka harus menahan lapar sampai seharian, Melihat hal seperti itu membuat qolbu saya merasa sesak amat sedih. Makanya selagi saya masih mempunyai sedikit rezeki, akan saya sisihkan rezeki tersebut untuk dibelikan makanan kucing agar mereka dapat makan” ujar saya di dalam hati.
Hal ini sudah saya lakukan sejak berada di bangku SMA sekitar tahun 2018. Jujur, saya pertama kali menyukai kucing itu ketika bunda saya baru pertamakalinya mengadopsi kucing jalanan bernama kipit. Awalnya saya tidak suka kucing, bahkan saya sering menendang kucing ketika dia mengganggu saya ketika saya sedang makan. Namun semenjak saya punya kucing saya sadar bahwa perbuatan saya itu salah, mereka bukan mengganggu melainkan hanya memohon untuk memberikan sedikit makanan walaupun hanya tulang-belulang agar dapat mengisi perut mungil mereka yang kroncongan. Oleh sebab itu, sekarang saya merasa tidak tega apabila ada kucing yang sedang kelaparan terlebih lagi ketika ada orang yang menyakiti seekor kucing hanya karena mereka mendekati untuk meminta makan saya langsung menegur orang tersebut untuk tidak melakukan hal seperti itu. Di kobong pun saya selalu mewanti-wanti kepada teman sekamar saya untuk tidak menyakiti kucing, kalaupun tidak bisa memberi mereka makanan minimal jangan menyakiti mereka karena merekapun sama makhluk hidup seperti kita merasakan sakit.
Selain di pondok, sayapun sering memberi makan kucing-kucing jalanan disekitar kampus ketika hendak ingin melaksanakan kuliah. “sayatu merasa tidak tega ketika sedang di kampus atau di kantin melihat kucing terlantar badannya kurus, dekil, bahkan ada yang pincang hanya bisa melihat tanpa bisa merasakan makanan yang dimakan oleh orang-orang” ujar saya. Oleh karena itu, saya suka memisahkan makanan kucing ke dalam botol untuk dibawa ke kampus agar mereka bisa merasakan sedikit rezeki yang dititipkan allah kepada saya. Memang perbuatan ini merupakan suatu yang hal yang kecil, namun menurut saya dapat memberikan manfaat umumnya kepada makhluk lain khususnya kepada saya pribadi. Coba banyangkan oleh temen-temen semua, hanya dengan kita merogoh uang sebesar 10 ribu rupiah, kita sudah bisa memberikan kemanfaatan kepada mereka, sudah bisa sedikit mengobati rasa lapar mereka. Rasul juga selalu mengajarkan kepada kita untuk selalu berprilaku baik kepada sesama makhluk ciptaan allah SWT karena dalam perbuatan baik tersebut terdapat nilai yang sangat tinggi mungguh allah SWT.
Selain itu, manfaat yang saya rasakan ketika gemar memberikan makanan kepada kucing jalanan, sayapun menjadi sadar bahwa banyak saudara-saudara saya yang sama sangat membutuhkan makanan. Maka selain kepada kucing, sayapun suka menyisihkan uang saya untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan seperti fakir miskin.
Sedikit pesan dari saya, saya mengutipnya dari kitab nashoihul ibad, bahwa di akhirat terdapat tiga golongan yang mendapatkan naungan dari allah swt di hari tidak ada naungan selain nauangannya salah satunya adalah orang-orang yang selalu memberikan makanan dan minuman kepada makhluk yang membutuhkan
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda