JurnalPost.com - Setiap kali membuang sampah, kita hampir tidak pernah memikirkan ke mana sampah itu akan berakhir. Bungkus makanan masuk ke tempat sampah, petugas mengangkutnya, lalu kehidupan berjalan seperti biasa. Bagi kita, urusan selesai ketika sampah tidak lagi terlihat.
Namun, bagi lingkungan, justru di situlah persoalan berikutnya dimulai. Sampah yang kita buang harus dikumpulkan, diangkut, diolah, dan dipastikan tidak menimbulkan masalah baru. Jika proses itu tidak berjalan dengan baik, sampah hanya berpindah tempat, sementara persoalannya tetap ada.
Lalu, jika setiap hari kita terus menghasilkan sampah, tetapi persoalannya tidak kunjung terselesaikan, apakah yang sebenarnya belum beres: perilaku masyarakat atau cara kita mengelola sampah?
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, berdasarkan pelaporan 319 kabupaten/kota, mencatat timbulan sampah sekitar 34,27 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 57,78% tercatat belum terkelola.
Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan sampah bukan sekadar kejadian ketika seseorang membuang plastik ke sungai atau meninggalkan sampah di jalan. Ada persoalan yang lebih besar, yaitu bagaimana sistem pengelolaan mampu menangani sampah yang terus dihasilkan masyarakat.
Data tersebut memang belum mencakup seluruh kabupaten/kota di Indonesia, tetapi tetap memberikan gambaran serius tentang tantangan yang dihadapi. Ketika lebih dari separuh timbulan sampah dalam data pelaporan tersebut belum terkelola, mengandalkan imbauan agar masyarakat lebih peduli jelas tidak cukup.

Perubahan Perilaku Harus Didukung Sistem Pengelolaan
Selama ini, masyarakat sering diminta menjadi bagian dari solusi melalui kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik, dan memilah sampah dari rumah. Menurut saya, langkah tersebut memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran kepedulian terhadap persoalan sampah.
Bayangkan seseorang sudah memisahkan sampah organik dan anorganik, tetapi keduanya kembali dicampur ketika diangkut. Upaya yang dilakukan di rumah akhirnya tidak menghasilkan manfaat sebagaimana mestinya.
Contoh ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku harus didukung oleh layanan yang sesuai. Pemerintah daerah perlu memastikan sampah yang telah dipilah dapat diangkut dan diolah dengan benar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diminta berpartisipasi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk melihat bahwa partisipasinya benar-benar menghasilkan perubahan.
Kebijakan Tidak Cukup Hanya Mengangkut Sampah
Masalahnya menjadi semakin serius ketika pengelolaan sampah terlalu berorientasi pada penanganan setelah sampah dihasilkan. Mengangkut sampah dan membawanya ke tempat pembuangan akhir memang diperlukan, tetapi keduanya tidak menghilangkan penyebab utama apabila jumlah sampah terus bertambah.
Selama pengurangan sampah dari sumbernya belum menjadi prioritas yang kuat, pemerintah akan terus menghadapi kebutuhan pengangkutan, pengolahan, dan ruang pembuangan yang semakin besar.
Karena itu, kebijakan tidak seharusnya hanya bertanya bagaimana menampung sampah yang sudah ada, tetapi juga bagaimana mencegah sebanyak mungkin sampah terbentuk sejak awal.
Pengurangan penggunaan barang sekali pakai, pemanfaatan kembali barang yang masih layak, dan pemilahan sejak sumber perlu berjalan sebagai satu kesatuan, bukan sebagai program yang terpisah-pisah.
Daur Ulang dan Tanggung Jawab Produsen
Dalam upaya tersebut, daur ulang memiliki peran penting, tetapi perlu ditempatkan secara tepat. Tidak semua sampah dapat didaur ulang dengan mudah, dan sampah yang sudah dikumpulkan belum tentu benar-benar diproses menjadi bahan yang dapat digunakan kembali.
Agar daur ulang berjalan efektif, dibutuhkan fasilitas pengolahan, tenaga pengelola, dukungan pasar, serta sistem pengumpulan yang terhubung.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada masyarakat sebagai konsumen. Produsen harus didorong untuk mengurangi kemasan yang tidak diperlukan, menggunakan bahan yang lebih mudah didaur ulang, dan menjalankan tanggung jawab atas sampah dari produk yang mereka hasilkan.
Dengan begitu, upaya mengatasi sampah tidak hanya berfokus pada cara membuang, tetapi juga menyentuh cara barang diproduksi, dikonsumsi, dan dikelola setelah tidak digunakan lagi.
Perbaikan Kebijakan Harus Memiliki Hasil yang Terukur
Oleh karena itu, menurut saya, perbaikan kebijakan pengelolaan sampah harus dimulai dari pembagian tanggung jawab yang jelas dan pelaksanaan yang dapat diukur.
Pemerintah pusat perlu memperkuat arah kebijakan dan pengawasan, sedangkan pemerintah daerah harus menyediakan layanan pengangkutan, pemilahan, dan pengolahan yang sesuai dengan kebutuhan wilayah.
Bank sampah dan kegiatan daur ulang berbasis masyarakat juga perlu mendapatkan dukungan yang berkelanjutan agar tidak hanya bertumpu pada inisiatif sukarela.
Pada saat yang sama, pelaksanaan kewajiban produsen harus diawasi, sementara penggunaan anggaran perlu dinilai berdasarkan hasil nyata.
Keberhasilan kebijakan tidak cukup dilihat dari banyaknya sampah yang diangkut atau kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan, tetapi dari berkurangnya sampah yang tidak terkelola dan meningkatnya jumlah sampah yang berhasil dikurangi maupun diolah kembali.
Sampah yang Hilang dari Pandangan Belum Tentu Selesai
Pada akhirnya, persoalan sampah mengajarkan bahwa membuang sesuatu dari hadapan kita tidak sama dengan menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya.
Masyarakat memang perlu mengubah kebiasaan, produsen harus bertanggung jawab terhadap produknya, dan pemerintah harus memastikan seluruh proses pengelolaan berjalan secara konsisten.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan karena kesadaran tanpa fasilitas akan sulit menghasilkan perubahan, sementara fasilitas tanpa pengurangan sampah hanya akan terus dibebani oleh timbulan baru.
Bagi saya, keberhasilan kebijakan pengelolaan sampah bukan ketika sampah berhasil disingkirkan dari pandangan, melainkan ketika negara mampu memastikan bahwa sampah yang kita hasilkan hari ini tidak terus menjadi persoalan yang harus ditanggung oleh masyarakat dan generasi berikutnya.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda