Bekasi, JurnalPost.com — Kehidupan di sekitar aktivitas pengumpulan dan pemilahan barang bekas menjadi bagian dari keseharian peserta didik SMP Adisa, Bantargebang, Bekasi. Bau sampah hingga lalu lalang truk pengangkut merupakan pemandangan yang sudah akrab bagi mereka.
Namun, melalui kegiatan PEDAL JUARA, Jumat (24/7/2026), para peserta didik diajak melihat barang bekas dari perspektif berbeda. Material yang selama ini dianggap sebagai limbah diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat diolah menjadi produk berguna dan memiliki nilai ekonomi.
Salah satu bahan yang dimanfaatkan adalah tutup botol plastik. Tutup botol tersebut dikumpulkan dari pengumpul barang bekas yang berada di depan sekolah, kemudian diolah bersama menjadi gantungan kunci.
Proses pembuatan kerajinan itu memberikan pengalaman baru bagi para peserta. Mereka dapat menyaksikan secara langsung bagaimana benda sederhana yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat berubah menjadi produk setelah melalui proses kreativitas dan pengolahan.
Kegiatan dimulai dari pengenalan bahan hingga proses pembuatan gantungan kunci. Rasa penasaran peserta terlihat ketika mereka mulai mengolah tutup botol hingga akhirnya berhasil menyelesaikan produk masing-masing.
Pengalaman tersebut menjadi semakin relevan karena bahan yang digunakan berasal dari lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka. Setiap hari, peserta didik melihat berbagai barang bekas dikumpulkan dan dipilah di sekitar kawasan sekolah.
Melalui PEDAL JUARA, mereka diajak memahami bahwa barang-barang tersebut tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, sebagian material masih dapat dimanfaatkan kembali.
Tutup botol yang sebelumnya tidak memiliki fungsi bagi mereka dapat diubah menjadi gantungan kunci yang dapat digunakan sekaligus berpotensi memiliki nilai jual.
Ketika hasil karya selesai, muncul kebanggaan tersendiri di kalangan peserta. Produk yang dibuat dengan tangan mereka ternyata dapat digunakan dan mendapatkan perhatian dari orang lain.
Pengalaman tersebut juga membantu membangun kepercayaan diri peserta karena mereka berhasil menciptakan sebuah produk dari bahan sederhana yang selama ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Bagi peserta didik SMP Adisa yang tinggal dan belajar di kawasan Bantargebang, pembelajaran mengenai lingkungan melalui kegiatan tersebut menjadi lebih konkret. Mereka tidak hanya menerima penjelasan mengenai pentingnya pemanfaatan kembali sampah, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengolahannya.
Selain membawa pesan tentang lingkungan, kegiatan tersebut turut memperkenalkan pengalaman kewirausahaan sederhana. Peserta belajar bahwa sebuah produk bukan hanya dibuat untuk digunakan sendiri, tetapi juga dapat memiliki nilai apabila mampu menarik minat orang lain.
Melalui proses itu, peserta mulai mengenal hubungan antara kreativitas, pemanfaatan bahan, fungsi produk, hingga peluang ekonomi yang dapat muncul dari sebuah karya.
Gantungan kunci yang dihasilkan mungkin berukuran kecil, tetapi proses pembuatannya memberikan pengalaman baru bagi para peserta dalam memandang benda-benda yang selama ini berada di sekitar mereka.
Dari tutup botol plastik yang semula dianggap sebagai sampah, peserta belajar bahwa barang sederhana dapat diolah kembali menjadi karya yang berguna, bernilai, dan memberikan rasa bangga atas hasil kerja mereka sendiri.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda