• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

TransBanten: Solusi Transportasi Masa Depan atau Ancaman bagi Angkot dan Ojol

Editor Redaksi
17 Desember 2025
in Kolom Opini

Penulis: Riska Amalia, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra’zie,S.I.P.,M.Sos. Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.

JurnalPost.com – Trans Banten, sebuah inovasi transportasi publik di Banten, telah menjadi topik perdebatan yang hangat di kalangan masyarakat, menuai pro dan kontra. Di satu sisi, Trans Banten menawarkan solusi transportasi yang lebih efektif dan efisien, terutama bagi mahasiswa yang dapat menikmati transportasi yang aman, nyaman dengan harga terjangkau. Namun di sisi lain, kebijakan ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan angkot dan ojol yang merasa terdampak oleh kebijakan tersebut. Angkot dan Ojol merasa bahwa Trans Banten mengancam mata pencaharian mereka karena tidak dapat bersaing dengan transportasi publik yang lebih efektif dan efisien. Mereka merasa pemerintah tidak mempertimbangkan kepentingan mereka dan hanya memprioritaskan kepentingan masyarakat luas.

Dalam jangka panjang, Trans Banten dapat menjadi solusi transportasi masa depan yang efektif dan efisien, namun perlu dilakukan upaya yang lebih besar untuk memastikan bahwa kebijakan ini tidak menimbulkan dampak negatif bagi kelompok-kelompok sosial yang berbeda. . Salah satu solusi yang dapat dilakukan pemerintah adalah memberikan pelatihan dan dukungan kepada angkot dan ojol untuk meningkatkan kualitas layanan mereka dan bersaing dengan Trans Banten. Pemerintah harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang terlibat dan mencari solusi yang adil dan berkelanjutan agar kemajuan di Banten khususnya Kota Serang dapat tercapai tanpa menimbulkan keributan. Dengan demikian, Trans Banten dapat menjadi contoh inovasi transportasi publik yang sukses dan bermanfaat bagi semua pihak.

Kebijakan TransBanten memicu konflik sosial antara angkot, ojol, pemerintah, dan masyarakat karena dianggap tidak adil, sehingga menimbulkan ketegangan dan kekhawatiran di kalangan angkot dan ojol yang terdampak.

Dalam pandangan Karl Marx (1818-1883), filsuf Jerman yang mengembangkan teori sosialis dan komunis, kasus Trans Banten adalah contoh konflik antara kelas pekerja (angkot dan ojol) dengan kelas penguasa (pemerintah dan kapitalis), di mana kebijakan Trans Banten mengancam pekerjaan mereka. Ini menunjukkan perjuangan kelas yang tak terhindarkan dalam sistem kapitalis, di mana penguasa memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan sendiri, sementara pekerja berjuang demi bertahan hidup.

Marx melihat bahwa pemerintah dan perusahaan di balik Trans Banten menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kebijakan yang menguntungkan mereka, mengabaikan kepentingan pekerja. Angkot dan ojol, sebagai kelas pekerja, dipaksa berjuang mempertahankan pekerjaan dan kebutuhan hidup, tanpa kekuasaan melawan kebijakan tidak adil.

Trans Banten juga contoh “alienasi” pekerja, dipisahkan dari pekerjaan, alat produksi, dan diri sendiri, tanpa kontrol atas pekerjaan dan nasib. Konflik ini bukan hanya tentang Trans Banten, tapi sistem kapitalis yang eksploitatif, di mana kebijakan seperti Trans Banten adalah contoh operasinya.

Solusinya bukan hanya mengubah kebijakan, tapi mengubah sistem kapitalis. Ia menyerukan revolusi proletariat, di mana pekerja bangkit, mengambil kontrol alat produksi, menentukan nasib sendiri, dan menciptakan masyarakat lebih adil dan setara.

Penulis: Riska Amalia, Angga Rosidin, S.I.P.,M.A.P., Zakaria Habib Al-Ra’zie,S.I.P.,M.Sos. Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.
Tag: #Mahasiswa Unpam Serang, #TransBanten, Unpam Serang

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.