• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
in Kolom Opini
SUMBER FOTO;
https://iep.utm.edu/sartre-ex/
https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7

Penulis: Rahma Ramadhani
Program Studi Psikologi
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia
Kontak: @realrahma1910 (instagram)

Pernahkah kamu merasa harus memilih antara menjadi diri sendiri atau memenuhi harapan orang lain?

Mungkin saat memilih jurusan kuliah, menentukan pekerjaan, memutuskan dengan siapa kamu ingin menghabiskan sisa hidup mu, atau sekadar berani berkata “tidak” pada sesuatu yang sebenarnya tidak kamu inginkan.

Kita sering menganggap semua keputusan itu sebagai pilihan pribadi. Tapi, pernahkah kita benar-benar bertanya, apakah pilihan itu lahir dari keinginan diri sendiri? atau justru terbentuk oleh harapan keluarga, norma sosial, dan penilaian orang lain?.

Pertanyaan semacam ini ternyata bukan hanya dialami oleh banyak orang saat ini. Lebih dari dua abad yang lalu, tokoh Jane Austen menghadirkan kegelisahannya yang serupa melalui tokoh Elizabeth Bennet dalam film Pride and Prejudice. Di balik kisah cintanya yang klasik, film ini bukan sekedar cerita tentang romansa, tetapi tentang Elizabeth Bennet seorang gadis cerdas dan pemberani yang berusaha mempertahankan hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri di tengah tekanan keluarga dan tuntutan masyarakat.

Sejak awal cerita, Elizabeth dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah. Ia hidup dalam masyarakat yang memandang pernikahan bukan sekadar persoalan cinta, melainkan juga status sosial, kehormatan keluarga dan jaminan masa depan. Di tengah situasi itu, keputusan-keputusan yang ia ambil sering kali bertentangan dengan harapan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu contohnya adalah ketika ia menolak lamaran dari Mr. Collins. Bagi banyak orang pada saat itu, keputusan tersebut dianggap tidak masuk akal. Mr. Collins adalah pria yang memiliki pekerjaan tetap, status sosial yang baik, serta dinilai bisa memberikan kehidupan yang aman untuk Elizabeth. Bahkan, ibunya sendiri itu berharap Elizabeth menerima lamaran tersebut demi masa depan keluarga mereka.

Namun, Elizabeth memiliki pandangan yang berbeda. Baginya, pernikahan itu bukanlah jalan untuk sekedar mendapatkan keamanan hidup atau memenuhi tuntutan masyarakat. Ia percaya bahwa menikah itu adalah keputusan yang harus didasari pada rasa saling cinta dan menghargai. Karena itulah, ia menolak lamaran tersebut, meskipun harus menghadapi banyak kekecewaan yang datang dari keluarganya dan penilaian negatif dari orang orang disekitarnya.

Pilihan Elizabeth menunjukan bahwa menjadi diri sendiri tidak selalu berarti melakukan apa yang paling mudah diterima orang-orang. Justru sebaliknya, ia harus siap menerima penolakan, kritik, bahkan mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Dan di sinilah kisah Elizabeth Benneth menjadi menarik jika kita lihat melalui sudut pandang filsafat eksistensialisme, khususnya pemikiran Jean-Paul Sartre.

Manusia Menciptakan Makna Hidupnya Sendiri

Pemikiran Elizabeth Benneth ini berkaitan dengan gagasan sartre dalam bukunya yang berjudul L’existentialisme est un Humanisme yang terkenal, yaitu “existence precedes essence” yang artinya “eksistensi mendahului esensi”. Jadi, Sartre itu percaya bahwa manusia tidak dilahirkan dengan identitas atau tujuan hidup yang sudah ditentukan. Tetapi manusia membentuk identitas, nilai, dan makna hidupnya melalui pilihan serta tindakan yang ia ambil. Pandangan ini berbeda dengan esensialisme yang beranggapan bahwa manusia telah memiliki esensi atau makna tertentu sebelum menjalani kehidupannya.

Dalam film Pride & Prejudice, Elizabeth Benneth tidak sejak awal “ditakdirkan” menjadi sosok perempuan yang berani melawan norma. Keberanian itu tumbuh melalui berbagai keputusan yang ia ambil, mulai dari menolak lamaran Mr. Collins hingga berani mengahadapi penilain masyarakat. Jika dilihat dari sudut pandang filsafat Sartre, tindakan Elizabeth bukan sekedar bentuk dari penolakan terhadap sebuah lamaran, tetapi wujud kebebasannya dalam menentukan nilai-nilai yang ingin ia pegang. Ia memilih untuk tidak membiarkan status sosial, tekanan keluarga, maupun harapan masyarakat menentukan arah hidupnya. Meskipun pilihannya membawa konsekuensi, justru melalui keputusan-keputusan itulah Elizabeth membentuk identitas sebagai peribadi yang setia pada nilai yang ia yakini.

Mengakui Tanggung Jawab atas Setiap Pilihan

Bagi Sartre, manusia pada dasarnya adalah mahkluk yang bebas. Itulah sebabnya Sartre mengatakan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas” (man is condemned to be free). Ungkapan ini tidak berarti bahwa kebebasan merupakan sesuatu yang selalu menyenangkan. Sebaliknya, Sartre menjelaskan bahwa manusia hadir kedunia tanpa identitas, tujuan hidup, atau takdir yang telah ditentukan sebelumnya. Karena itu, setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidup dan membentuk dirinya melakui pilihan-pilihan yang ia ambil. Namun, kebebasan tersebut dianggap sebagai “kutukan” karena manusia tidak dapat menolak kebebasan tersebut. Apapun keputusan yang diambil, setiap orang harus bertanggung jawab penuh atas konsekuensi tanpa sepenunya menyalahkan keadaan, lingkungan, maupun orang lain sebagai penentu hidupnya.

Cara pandang inilah yang kemudian tercermin dalam berbagai keputusan yang diambil Elizabeth Bennet sepanjang Pride and Prejudice. Salah satunya ketika Lady Catherine de Bourgh datang menemui Elizabeth dan memintanya berjanji untuk tidak menikahi Mr. Darcy. Sebagai seorang bangsawan, Lady Catherine berusaha menentukan pilihan hidup Elizabeth berdasarkan status sosial dan tradisi keluarga. Namun, Elizabeth menolak menyerahkan keputusan tersebut kepada orang lain. Sikap ini sejalan dengan gagasan Sartre bahwa manusia “dikutuk untuk bebas”. Menurut Sartre, manusia tidak dapat menghindari kenyataan bahwa ia harus memilih. Seperti yang ia ungkapkan, “I can always choose, but I ought to know that if I do not choose, I am still choosing.” Artinya, bahkan ketika seseorang memilih untuk mengikuti keinginan keluarga, tradisi, atau tekanan masyarakat, keputusan itu tetap merupakan pilihannya sendiri. Dengan demikian, Elizabeth tidak dapat membiarkan Lady Catherine menentukan masa depannya, karena pada akhirnya hanya dirinya yang dapat mengambil keputusan sekaligus bertanggung jawab atas konsekuensi dari pilihan tersebut.

Manusia Menemukan Jati Diri Lewat Refleksi dan Pengalaman?

Gagasan tersebut ia rangkum melalui ungkapannya yang terkenal, “Man arises in the world, and only afterwards defines himself” (Sartre, 1946). Melalui kalimat ini, Sartre menegaskan bahwa manusia terlebih dahulu hadir di dunia, kemudian membentuk jati dirinya melalui pilihan dan tindakan yang ia lakukan. Dengan kata lain, seseorang tidak dilahirkan sebagai pribadi yang berani, mandiri, atau bertanggung jawab. Semua kualitas tersebut dibangun melalui keputusan-keputusan yang diambil sepanjang hidup. Artinya, menjadi diri sendiri bukanlah sesuatu yang sudah dimiliki sejak lahir, melainkan sesuatu yang terus dibentuk melalui pilihan-pilihan yang kita ambil setiap hari.

Melalui perjalanan Elizabeth Bennet sepanjang Pride and Prejudice. Elizabeth tidak digambarkan sebagai sosok yang sejak awal memiliki seluruh jawaban atas hidupnya. Ia beberapa kali keliru menilai orang lain, terutama Mr. Darcy, karena dipengaruhi oleh kesan pertama dan cerita yang ia dengar dari orang lain. Namun, setelah membaca surat Darcy, Elizabeth mulai menyadari bahwa penilaiannya selama ini tidak sepenuhnya benar. Bahkan, ia mengakui, “Till this moment I never knew myself.” Momen ini menjadi titik balik yang menunjukkan bahwa Elizabeth tidak hanya belajar memahami Darcy, tetapi juga mengenal dirinya sendiri. Jika dilihat dari perspektif Sartre, perubahan tersebut menunjukkan bahwa jati diri bukanlah sesuatu yang telah selesai sejak lahir. Sebaliknya, manusia terus membentuk dirinya melalui pengalaman, refleksi, dan pilihan-pilihan yang ia ambil sepanjang hidup.

Mungkin kita tidak hidup pada abad ke-19 seperti Elizabeth Bennet. Namun, dilema yang ia hadapi masih terasa hingga saat ini. Kita mungkin saja dipaksa menerima lamaran demi status sosial, kita bisa saja merasa harus memilih jurusan tertentu karena harapan keluarga, mengejar pekerjaan yang dianggap bergengsi, atau menjalani hidup sesuai ukuran keberhasilan yang ditentukan orang lain. Dalam situasi seperti itulah, pertanyaan di awal tulisan ini kembali relevan: apakah pilihan yang kita ambil benar-benar lahir dari diri kita sendiri, atau hanya karena kita takut mengecewakan orang lain?

Pilihan Elizabeth menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri bukan sekadar persoalan keberanian, tetapi juga kesediaan untuk menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu pokok pemikiran dalam filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre mengenai makna kebebasan manusia.

Dan pada akhirnya, menjadi diri sendiri bukan berarti selalu memilih jalan yang berbeda dari orang lain, apalagi menolak semua nasihat atau harapan yang datang dari lingkungan. Sartre mengingatkan bahwa kebebasan bukanlah hak untuk melakukan apa saja, melainkan keberanian untuk menentukan pilihan sekaligus bertanggung jawab atas konsekuensinya. Karena itu, tantangan terbesar dalam hidup bukanlah menemukan pilihan yang sempurna, melainkan memastikan bahwa pilihan tersebut benar-benar lahir dari kesadaran diri, bukan semata-mata dari rasa takut mengecewakan orang lain.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Bukan Angkot yang Lambat, Cara Pandang Kitalah yang Tertinggal

Bukan Angkot yang Lambat, Cara Pandang Kitalah yang Tertinggal

Editor Redaksi
3 Agustus 2026
0

sumber : detik.com Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan JurnalPost.com - Kalau mendengar kata angkot, apa yang langsung terlintas di pikiran?...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.