
Penulis : Ghazi Muhammad Syarief
Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?
Timeline Media sosial kita tidak pernah kehabisan sesuatu untuk dijadikan sasaran amuk massa. Dari semua hal yang mungkin bisa menjadi sasaran, figur publik merupakan salah satu kelompok yang paling rentan untuk diamuk oleh massa. Dari banyaknya figur publik, ada dua yang belakangan menjadi bulan-bulanan netizen, yaitu Naykilla dan Mbak Cungcat. Menariknya, mereka menuai hujatan bukan karena melakukan tindak kekerasan, merugikan orang lain, atau melanggar hukum. “Dosa” terbesar mereka di mata publik hanyalah satu: mereka berani berpenampilan berbeda dan mengekspresikan diri secara autentik.
Fenomena ini masih sering kita temui di media sosial, di mana perundungan terjadi kepada individu yang berani untuk tampil berbeda. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa perbedaan ataupun menjadi diri sendiri masih dianggap sebagai sebuah ancaman? Bukankah setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka ingin menjalani hidupnya?
Untuk membedah akar psikologis dari intoleransi ini, kita perlu meminjam kacamata eksistensialisme Martin Heidegger. Heidegger secara tegas membedakan antara rasa takut (fear/Furcht) dan kecemasan (angst). Rasa takut memiliki objek fisik yang jelas, sedangkan angst, justru muncul ketika kita berhadapan dengan “ketiadaan” dan menyadari beban dari kebebasan mutlaknya sendiri. Kita sebenarnya sadar bahwa tidak ada satu pun jalan hidup yang secara absolut telah ditentukan. Ironisnya, justru karena kebebasan inilah, hidup dapat terasa sangat menakutkan dan mengalienasi.
Di tengah kepanikan menghadapi angst tersebut, kita cenderung melarikan diri ke dalam kerumunan anonim yang oleh Heidegger disebut sebagai Das Man (the “They”). Sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri untuk meredakan kecemasan, kita justru menanggalkan otentisitasnya dan memilih hidup secara inotentik mengikuti “kata orang” atau konformitas massal. Kita mulai berpakaian seperti mereka, mengadopsi standar kesuksesan mereka, dan perlahan menilai baik-buruk murni berdasarkan algoritma nilai yang didiktekan oleh lingkungan.
Penyerahan diri pada konformitas ini menjadi semakin kompleks jika ditelaah melalui konsep Amour-propre dari Jean-Jacques Rousseau. Dalam masyarakat modern, kita sering kali kehilangan Amour de soi–cinta diri yang berakar pada penerimaan diri sejati–dan menggantinya dengan Amour-propre–di mana harga diri seseorang sepenuhnya bergantung pada validasi dan pandangan orang lain terhadap dirinya. Akibatnya, identitas dan moralitas suatu individu dibangun di atas fondasi pengakuan eksternal yang sebenarnya rapuh. Ketika stabilitas semu ini terbentuk, kehadiran seseorang yang memilih jalan hidup di luar dari kebiasaan yang diamini oleh banyak orang akan langsung dipersepsikan sebagai sebuah ancaman.
Pertanyaannya, jika mayoritas orang begitu yakin bahwa cara hidup konformis mereka adalah satu-satunya standar yang paling benar dan normal, mengapa kehadiran satu atau dua individu yang berbeda bisa begitu mengganggu ketenangan mereka?
Jawabannya terletak pada rasa terusik secara eksistensial. Kehadiran individu yang berani untuk tampil berbeda–padahal individu yang berani tampil beda juga tidak memaksa orang lain untuk mengikuti pilihannya–sudah cukup untuk menjadi cermin yang menyakitkan bagi kelompok konformis. Mereka tersadarkan bahwa selalu ada kemungkinan untuk hidup dengan cara lain. Keberanian mereka seolah memaksa massa untuk mempertanyakan kembali: apakah cara hidup yang mereka pilih sudah benar-benar pilihan mereka sendiri, atau hanya sekadar mengikuti standar Das Man?
Pertanyaan-Pertanyaan inilah yang pada akhirnya mengguncangkan rasa aman yang telah dibangun oleh sang mayoritas. Oleh karena itu, respons yang muncul sering kali bukan rasa ingin tahu atau empati, melainkan penghakiman atau penolakan agresif. Tak sedikit yang menghujat dan melabeli mereka sebagai identitas “menyimpang”, “tidak normal”, ataupun “aneh” karena itu merupakan cara paling mudah untuk menghilangkan kecemasan yang mengganggu cara hidup yang selama ini sudah mereka anggap benar.
Pada akhirnya, kita harus berani melakukan autokritik. Karena bisa jadi kemarahan kolektif terhadap mereka yang berbeda bukanlah bentuk pembelaan terhadap moralitas sosial, melainkan upaya putus asa untuk mempertahankan zona nyaman. Kita enggan dihadapkan pada kenyataan bahwa selama ini kita telah memenjarakan otonomi kita sendiri demi diterima oleh kerumunan.
Mungkin, yang selama ini kita sebut sebagai “menyimpang” bukanlah mereka yang berani tampil berbeda. Melainkan seseorang yang memilih untuk mengubur kebebasan dirinya sendiri, dan mengikuti “kata orang” agar dapat diterima. Sedangkan mereka yang kita anggap menyimpang hanyalah individu yang berani untuk meraih kebebasannya.



