• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Presepsi Mahasiswa Tentang Permintaan Poboikotan Produk Produk Israel Di Indonesia

Editor Redaksi
1 Mei 2024
in Kolom Opini, Makalah

Disusun Oleh:
Dian cipta nurrohman (1152200391)
Gilang nugraha ghufani (1152200376)

Dosen Pengampu:
Beta Puspitaning Ayodya, S.Sos., M.A

Mata Kuliah:
Opini Publik Dan Propaganda

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 2024

BAB I

1.1 Latar Belakang
Konflik antara Israel dan Palestina telah menjadi sumber ketegangan yang berkepanjangan di dunia internasional. Seiring dengan eskalasi kekerasan dan kontroversi politik yang terus berlangsung, banyak individu dan kelompok memilih untuk menyuarakan protes mereka melalui berbagai bentuk tindakan, termasuk boikot terhadap produk-produk yang berasal dari Israel.

Boikot terhadap produk Israel telah menjadi subjek perdebatan yang hangat di kalangan mahasiswa di berbagai belahan dunia. Sebagian melihatnya sebagai ekspresi solidaritas terhadap rakyat Palestina dan sebagai cara untuk memberikan tekanan kepada pemerintah Israel untuk mengubah kebijakan mereka terhadap penduduk Palestina. Namun, ada juga yang memandangnya sebagai tindakan yang kontroversial, bertentangan dengan kebebasan individu dalam berbelanja, dan bahkan meragukan efektivitasnya dalam merespons konflik yang kompleks ini.

Dalam upaya untuk memahami pandangan dan sikap mahasiswa terhadap boikot produk Israel, survei ini disusun. Tanggapan Anda akan membantu memberikan wawasan yang lebih baik tentang sejauh mana boikot produk Israel diterima atau ditolak di kalangan mahasiswa, serta pemahaman mendalam tentang peran mahasiswa dalam isu-isu global yang sensitif ini.

BAB II

2.1 Isi

Pada diagram di atas menunjukan bahwa sebanyak 93,3% responden menyatakan setuju mendukung pemboikotan terhadap produk Israel sebagai bentuk protes terhadap kebijakan politik di negara tersebut Yang artinya bahwa seluruh mahasiswa menyatakan kesetujuannya pemboikotan produk dari Isarael..

Mahasiswa dari berbagai Universitas juga menyatakan bahwa pemboikotan produk Israel sangatlah penting bagi kemerdekaan warga Palestina.

Sebanyak 64,7% mahasiswa menyatakan bahwa pemboikotan produk Israel memberikan tekanan yang efektis terhadap pemerintahan Isarael, seangkan sebanyak 35,3% merasa tidak akan berpengaruh jika pemboikotan di indonesia.

Di dalam diagram tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 55,9% mahasiswa tidak merasa bertentangan dengan kebebasan berbelanja karena aksi pemboikotan produk Israel. Sebanyak 44,1% menyatakan bahwa pemboikotan produk Israel ini bertentangan dengan kebebsan berbelanja individu .

38,2 % mahasiswa menyatakn keyakinan mereka akan pengaruh pemboikotan produk israel terhadap kesadaran konflik Israel-Palestina.

BAB III
Kesimpulan

1. Mayoritas Mahasiswa Mendukung Pemboikotan Produk Israel: Dari hasil survei, terlihat bahwa sebagian besar responden (93,3%) menyatakan setuju mendukung pemboikot terhadap produk Israel sebagai bentuk protes terhadap kebijakan politik negara tersebut. Ini mengindikasikan adanya kesadaran dan dukungan yang kuat dari mahasiswa terhadap isu Palestina-Israel.

2. Peran Penting Mahasiswa dalam Boikot: Meskipun mayoritas responden setuju dengan pemboikot, sebagian dari mereka (52,6%) menganggap peran mahasiswa dalam menyuarakan boikot terhadap produk Israel sangat penting. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa percaya akan peran mereka dalam menyuarakan kepedulian terhadap isu-isu global dan menunjukkan solidaritas dengan masyarakat Palestina.

3. Keraguan akan Efektivitas Boikot: Meskipun mayoritas percaya bahwa pemboikotan produk Israel memberikan tekanan yang efektif terhadap pemerintah Israel (64,7%), ada juga sebagian responden (35,3%) yang meragukan pengaruhnya terhadap pemerintahan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa ada pemahaman yang beragam di antara mahasiswa tentang efektivitas boikot sebagai strategi untuk mencapai perubahan politik.

4. Divergensi Pandangan tentang Kebebasan Berbelanja: Terdapat perbedaan pendapat di antara responden mengenai kebebasan berbelanja individu dalam konteks pemboikotan produk Israel. Sebagian besar responden (55,9%) tidak merasa bertentangan dengan kebebasan berbelanja karena berpartisipasi dalam pemboikotan, sementara sebagian lainnya (44,1%) merasa sebaliknya. Ini menunjukkan kompleksitas dalam memahami dampak sosial dan politik dari aksi individu terhadap boikot.

5. Keraguan akan Dampak Kesadaran Global: Meskipun sebagian besar mahasiswa (38,2%) menyatakan keyakinan mereka akan pengaruh pemboikotan produk Israel terhadap kesadaran global tentang konflik Israel-Palestina, masih ada keraguan di kalangan responden tentang efektivitas boikot dalam mempengaruhi kesadaran global. Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang konflik tersebut di kalangan mahasiswa.

Kesimpulannya, hasil analisis menunjukkan dukungan mayoritas mahasiswa terhadap pemboikotan produk Israel sebagai bentuk protes terhadap kebijakan politik negara tersebut, meskipun terdapat keraguan dan perbedaan pendapat dalam hal efektivitas dan implikasi sosial dari aksi tersebut.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.