• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

POLITIK IDENTITAS

Editor Redaksi
7 Maret 2024
in Kolom Opini

Oleh: Gadis Kusuma Astuti
Mahasiswa Program Studi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi Institut pertanian Bogor 2024

JurnalPost.com – Seperti yang kita tahu bahwa tahun ini kita sudah memasuki tahun politik. Beberapa tanda diantaranya adalah warna pakaian yang anda kenakan itu diperhatikan orang lain dan dihubungkan dengan dukungan politik. merah, biru, kuning, hijau, putih bukan lagi sederetan simbol warna, melainkan identitas yang sangat politis. Pada tahun politik ini warna sudah tidak netral lagi. Baju celana serta topi sekalipun yang dipakai akan dianggap gambaran keberpihakan anda pada sosok tertentu. Untaian kata-kata atau tulisan yang keluar dari mulut banyak orang, lebih-lebih yang keluar dari tokoh politis tertentu, kerap kali dihubungkan sebagai bentuk dukungan.

Kritikan yang diutarakan pada sosok tertentu (meskipun benar) pasti dicurigai bertujuan politis. Politik tidak akan luput dengan yang namanya politik identitas. Politik identitas yang dimaksud disini ialah politik yang merujuk pada terpengaruhnya penggunaan identitas seperti suku, agama, ras, gender dan sebagainnya dalam konteks politik. Perlu diketahui bahwa politik identitas sangat kontroversial saat ini, karena sebentar lagi kita akan menantikan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan di Indonesia.

Pemahaman Politik Identitas

Kita harus memahami politik identitas dari segi makna dan tujuannya. Menurut saya politik identitas berbeda dengan identitas politik, karena masing-masing dari para calon yang ikut berkontestasi dalam pemilu tahun ini, untuk menduduki kursi legislatif maupun eksekutif yang memiliki identitas nya masing-masing. Misalnya, Capres Nomor urut 3 Ganjar Pranowo ia berasal dari Partai PDIP, Capres Nomor Urut 2 dari Parta Gerindra, Capres Nomor Urut 1 dari Partai Nasdem. Sedangkan politik identitas adalah suatu identitas yang digunakan untuk mendiskriminasi dan memojokkan individu atau kelompok lain. Misalkan, orang yang berada di pulau Jawa berkata “jauhi orang-orang madura yang ada disini“, misalkan contoh lainnya, orang yang beragama islam berkata “ intimidasi orang Kristen ! “.

Maka beberapa contoh tersebut adalah politik identitas, yaitu menggunakan identitas nya untuk mengisolasi dan bermusuhan terhadap suku, agama, ras, gender lain dalam melakukan dukungan politik. Tapi kalau identitas politik itu digunakan untuk berkontestasi dan Bersatu. Tidak bertujuan untuk memecah belah dan memprovokasi pihak manapun, kembali lagi maju bersama sesudah kontestasi selesai. Itu adalah pengertian yang seharusnya dipahami oleh masyarakat.

Maka dari itu menurut saya ketika ada lagi yang bertanya “bolehkah politik identitas?”, sebaiknya dipahami dulu definisi nya, politik identitas itu tidak boleh kalau sebuah identitas politik digunakan untuk memecah belah, tapi kalau digunakan untuk berkontestasi, maju bersama tanpa memojokkan ataupun mendiskriminasi suatu kelompok atau golongan lain itu adalah makna dari identitas politik yang sebenarnya.

Akankah narasi politik identitas kembali dieksploitasi oleh para elit politik?

Menurut saya tidak akan laku lagi narasi tersebut untuk digunakan sebagai alat menarik suara pemilih. Mengapa seperti itu? walaupun masing – masing kandidat tetap siapkan strategi politik identitas. Akan tetapi, politik identitas dalam masyarakat demokratis modern dan konteks elektoral zaman sekarang ini nuansanya sangat berbeda. Politik identitas yang dulunya merupakan alat perjuangan, sekarang bergeser menjadi alat perebutan kekuasaan oleh elit politik untuk meraih suara dalam pemilu, dengan cara menciptakan rasa takut dan benci masyarakat terhadap lawan politiknya.

Jika kita mengingat kontestasi politik beberapa tahun kebelakang, Pilgub 2017 dan Pilpres 2019 diwarnai oleh isu agama, mulai dari kasus penistaan agama Islam oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pilgub, strategi mendulang suara pemilih Muslim dengan memanfaatkan Aksi 212 oleh kandidat calon gubernur Anies Baswedan, dukungan oleh ijtima’ ulama Gerakan Nasional Penjaga Fatwa (GNPF) MUI untuk kandidat calon presiden Prabowo Subianto, hingga langkah petahana Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminang Ma’ruf Amin – petinggi Nahdlatul Ulama – sebagai calon wakil presiden). Beberapa contoh tersebut adalah bentuk politik identitas yang dilakukan di pemilu tahun lalu.

Walau kemungkinan besar Politik identitas masih akan digunakan dalam konteks negatif untuk menyerang lawan politik dalam Pemilu tahun ini, namun saya yakin mereka tidak akan menggunakannya untuk mempromosikan pasangan calon (paslon) karena tidak akan laku lagi. Mari kita ambil salah satu contoh. misalnya, Gerakan 212 bisa mereka gunakan untuk menjelekkan lawan politiknya. Namun, mereka tampaknya tidak akan berani menyatakan bahwa mereka didukung oleh 212.

Mengapa seperti itu? karena saya yakin bahwa ini disebabkan generasi pemilih masa kini sudah lebih kritis, sehingga mereka sadar bahwa dukungan kelompok tertentu tidak berhubungan dengan kualitas program yang ditawarkan oleh paslon itu. Oleh karena itu hal ini secara tidak langsung menunjukkan masyarakat Indonesia, terutama pemilih muda dari kalangan milenial dan generasi Z, sudah makin kritis.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.