• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Menghidupkan Kembali Marwah Kadipaten Berbek, Pangeran Raja Adipati Sosrokusumo IV Resmi Dinobatkan

Editor Redaksi
6 April 2026
in Berita

Kota Malang, JurnalPost.com – Sejarah besar sering kali bermula dari kesadaran untuk memanggil kembali akar yang telah lama terpendam di bawah lapisan zaman. Dalam sebuah momentum yang penuh khidmat dan nilai spiritual, Keluarga Besar Karaeng Galesong Kesultanan Gowa secara resmi menobatkan Pangeran Syarif Muhammad Hanif Nasrul Rachman Daeng Masiga sebagai Raja Berbek Nganjuk ke-X. Prosesi sakral ini menganugerahkan gelar kehormatan I Yadullu Daeng Manggale Pangeran Raja Adipati Sosrokusumo IV Daeng Masiga. Bertempat di Athome Space Hall, Kota Malang, Jawa Timur, pada tanggal 4/04/2026, peristiwa ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah pernyataan kultural bahwa nafas Kadipaten Berbek kini kembali berdenyut di tengah masyarakat modern.

Kehadiran perwakilan keluarga Kanjeng Jimat serta tokoh-tokoh dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan se-Malang Raya dalam acara tersebut menjadi saksi hidup atas persenyawaan dua sejarah besar nusantara. Penobatan ini membawa pesan kuat tentang pentingnya melestarikan kembali warisan Kadipaten Berbek yang pernah menjadi mercusuar peradaban di tanah Jawa Timur. Langkah ini juga dimaksudkan sebagai upaya memperkenalkan kembali jati diri Kabupaten Nganjuk kepada khalayak yang lebih luas, mengingatkan kita semua bahwa wilayah ini memiliki silsilah kepemimpinan yang agung, yang menghubungkan tradisi kejuangan dari Sulawesi Selatan dengan tata krama pemerintahan di tanah Jawa.

Cikal bakal wilayah yang kini kita kenal sebagai Nganjuk memiliki akar sejarah yang sangat kuat pada keberadaan Kerajaan Berbek. Perjalanan panjang ini dimulai secara formal pada tahun 1745, ketika pusat pemerintahan pertama kali ditetapkan di wilayah tersebut. Pada masa awal berdirinya, Berbek bukanlah sebuah entitas yang berdiri sendiri secara berdaulat penuh, melainkan sebuah wilayah Kadipaten yang bernaung di bawah kekuasaan besar Kerajaan Mataram Islam. Dalam struktur pembagian wilayah Mataram, Berbek dikategorikan sebagai bagian dari daerah Mancanegara Wetan, sebuah zona administratif yang terletak di sisi timur pusat kerajaan dan memiliki peran strategis sebagai penyangga kekuasaan pusat yang kokoh.

Tokoh sentral yang menjadi pilar utama pembangunan Berbek adalah KRT. Sosrokoesoemo I, yang di tengah masyarakat lebih akrab disapa dengan sebutan Kanjeng Jimat. Kepemimpinan beliau yang dimulai sekitar tahun 1760 membawa perubahan signifikan bagi wajah wilayah ini. Kanjeng Jimat bukan sekadar seorang pemimpin administratif, melainkan seorang inisiator peradaban yang meletakkan dasar-dasar tata kota tradisional Jawa. Beliau memprakarsai pembangunan infrastruktur vital yang menjadi simbol pusat kekuasaan dan spiritualitas, yakni masjid agung dan alun-alun. Kehadiran infrastruktur ini menegaskan bahwa Berbek telah bertransformasi menjadi pusat pemukiman yang terorganisir dengan sangat baik.

Secara silsilah, Kanjeng Jimat memiliki garis keturunan yang sangat terpandang, menghubungkannya dengan tokoh besar seperti Karaeng Naba atau Kyai Ageng Sulaiman bin Karaeng Galesong bin Sultan Hasanuddin dari Gowa. Latar belakang keturunan ini memberikan legitimasi spiritual dan kepemimpinan yang kuat di mata rakyatnya. Setelah masa kepemimpinan beliau, estafet pemerintahan dilanjutkan oleh KRT. Sosrodirjo. Namun, stabilitas wilayah ini harus menghadapi dinamika politik makro di tanah Jawa. Adanya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membelah Mataram menjadi dua bagian memberikan dampak langsung bagi Berbek, di mana wilayah ini kemudian secara administratif ditempatkan di bawah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.

Memasuki gerbang abad ke-19, Kerajaan Berbek mulai merasakan tekanan dan pengaruh dari pemerintah kolonial Belanda yang semakin mencengkeram kuat di tanah Jawa. Periode ini ditandai dengan kepemimpinan KRT. Sosrokoesoemo II yang menjabat antara tahun 1831 hingga 1852. Masa jabatan beliau menjadi saksi bisu terjadinya perubahan besar dalam struktur pemerintahan lokal pasca berakhirnya Perang Diponegoro pada tahun 1830. Kekalahan pihak pribumi dalam perang besar tersebut memaksa terjadinya restrukturisasi wilayah melalui sebuah kesepakatan yang dikenal sebagai Perjanjian Sepreh di Ngawi. Perjanjian ini secara drastis mengubah status Berbek yang semula merupakan bagian dari keraton menjadi sebuah Afdeeling di bawah payung administratif Karesidenan Kediri.

Setelah masa KRT. Sosrokoesoemo II, tampuk kepemimpinan diteruskan secara beruntun oleh RNG. Pringgodigdo pada tahun 1852 hingga 1866, kemudian disusul oleh KRT. Soemowilojo pada periode 1866 sampai 1878, dan dilanjutkan oleh KRT. Sosrokoesoemo III yang menjabat hingga tahun 1901. Meskipun kepemimpinan terus berganti, tantangan utama yang dihadapi oleh para penguasa Berbek pada masa itu adalah keterbatasan ruang gerak pembangunan. Kondisi geografis Berbek yang terletak di dataran tinggi, tepatnya di kaki Gunung Wilis, menjadi penghambat utama bagi kemajuan wilayah karena terisolasi dari jalur perdagangan utama. Kendala alam inilah yang kemudian memicu pemikiran visioner mengenai perlunya mencari pusat pemerintahan baru yang lebih prospektif.

Seiring bergulirnya waktu ke abad ke-20, kepemimpinan berlanjut ke tangan RMAA. Sosrohadikoesoemo yang memerintah dari tahun 1901 hingga 1936. Pada masa inilah, diskusi mengenai pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek menuju Nganjuk atau yang dikenal sebagai prosesi Boyongan mulai dilakukan. Nganjuk, yang dahulu dikenal sebagai Anjuk Ladang, menawarkan potensi dataran rendah yang subur dan aksesibilitas yang jauh lebih baik. Perpindahan ini bukan sekadar pemindahan administrasi, melainkan simbol harapan akan kemajuan masa depan. Transformasi ini membuktikan bahwa keputusan para pendahulu untuk memindahkan pusat pemerintahan adalah langkah strategis demi keberlangsungan hidup organisasi pemerintahan yang lebih efisien.

Hingga saat ini, sejarah mencatat bahwa keberadaan Nganjuk sebagai pusat kabupaten tidak bisa dilepaskan dari peran besar Kerajaan Berbek. Penobatan Pangeran Syarif Muhammad Hanif Nasrul Rachman Daeng Masiga sebagai Raja Berbek Nganjuk ke-X dengan gelar I Yadullu Daeng Manggale Pangeran Raja Adipati Sosrokusumo IV Daeng Masiga adalah upaya untuk menjahit kembali robekan sejarah tersebut. Dengan menghidupkan kembali gelar dan silsilah ini, nilai-nilai kepemimpinan yang ditanamkan oleh Kanjeng Jimat dan para penerusnya tetap dihormati sebagai akar budaya yang mendalam. Nganjuk yang produktif dan berkembang saat ini merupakan perwujudan dari sebuah perjalanan sejarah panjang yang bermula dari kaki Gunung Wilis dan terus lestari hingga masa depan.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

GELORA LITERASI: Gerakan Literasi dan Olah Kreativitas Anak sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kreativitas Anak di Desa Sumurgede oleh KKN UNIMUS

Editor Nadia
17 September 2026
0

GELORA LITERASI: Literacy and Children's Creativity Movement as an Effort to Improve Children's Reading Interest and Creativity in Sumurgede Village...

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Semarak HUT RI ke-81, PPSDM Migas Gelar Gowes hingga Lomba Kebersamaan

Editor Redaksi
28 Agustus 2026
0

CEPU, JURNALPOST — Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81...

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Gerakan Cerdas Finansial Sejak Dini, Cara Mahasiswa KKN-T IBDU 42 Bekali Siswa SD Ilmu Menabung

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

JurnalPost.com - Desa Sukorejo/Kota Sragen, 4 Agustus 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IBDU 42 Universitas Diponegoro melaksanakan...

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Patahkan Stigma, Mahasiswa KKN-T IDBU 45 Universitas Diponegoro Kelompok 4 Gelar Inkubasi Wirausaha Sosial dan Kesiapan Kerja Remaja di Bandarharjo

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

SEMARANG, JurnalPost.com - Stigma negatif di lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemuda di kawasan pesisir Bandarharjo, Kecamatan...

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Dari Bakul ke Viral: Tim PkM Polinema Manfaatkan Generative AI Sulap “Botol Polos” Jamu Kromengan Jadi Produk Premium

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Tim Pengabdian Masyarakat Polinema melakukan PKM di Desa Wisata Jamu, Karangrejo Kromengan, Kab.Malang JurnalPost.com - Dalam upaya memodernisasi sektor usaha...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.