
JurnalPost.com – Dalam upaya memodernisasi sektor usaha mikro tradisional dan meningkatkan daya saing produk herbal lokal di era digital, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan pendampingan bertajuk “Dari Bakul ke Viral: Rebranding Jamu Gendong Kromengan Dengan Konten Visual Estetik Berbasis Generative AI” pada Jumat (3/7/2026) di Dusun Jatikerto, Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini menyasar anggota Paguyuban Jamu Gendong Kartini, komunitas pengrajin jamu tradisional yang menjadi tulang punggung perekonomian di kawasan Desa Wisata Jamu Berprestasi Nasional tersebut.
Solusi Inovatif Mengatasi “Krisis Identitas Visual”
Meskipun Desa Karangrejo telah memiliki rekam jejak sebagai desa wisata herbal terkemuka, para pembuat jamu selama ini menghadapi kendala utama berupa “Krisis Identitas Visual”. Minuman herbal legendaris seperti Beras Kencur, Kunyit Asam, dan Sinom kebanyakan dipasarkan menggunakan botol plastik polos tanpa label identitas merek. Hal ini menyebabkan rendahnya brand awareness serta menyulitkan terjadinya pemesanan ulang secara daring (online repeat order) dari para wisatawan.
Di sisi lain, keterbatasan literasi digital membuat mitra menganggap pembuatan foto dan video iklan estetik sebagai hal yang rumit dan berbiaya mahal.
Menjawab persoalan tersebut, Tim PkM Polinema yang diketuai oleh Rizqiyatul Khoiriyah, S.Kom., M.Kom. bersama tim dosen (Siti Rachmah, S.E., M.Ak., Win Narasuci, S.ST., M.M., Novi Nugrahani, S.E., M.Ak., CA., Devi Mega Risdiana, S.Pd., M.Kom., dan Drs. Sutrisno, M.Si.) serta mahasiswa jurusan Akuntansi hadir membawa solusi High-End Visual with Low-Cost Budget menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Generative AI).
Transfer Teknologi Berbasis Smartphone
Dalam kunjungan kerja pada Jumat (3/7/2026), tim pengabdian memberikan pendampingan hands-on yang mencakup tiga tahapan transformasi utama yaitu Rebranding & Packaging Art yakni Perancangan logo kolektif paguyuban dan stiker label kemasan berbahan vinyil tahan air hasil olahan Generative AI (Prompt-to-Image). Kemudian AI-Photography & Short Video Editing yakni Pelatihan teknik pemotretan produk menggunakan smartphone dan pencahayaan alami, yang kemudian diolah melalui aplikasi AI Background Remover untuk menghasilkan foto katalog estetik kelas studio. Selain itu, peserta dilatih memproduksi video pendek storytelling produksi jamu menggunakan aplikasi CapCut AI untuk Reels dan TikTok. Serta transformasi lainnya yaitu Digital Storefront & AI Copywriting yakni Pembentukan etalase digital Instagram dan TikTok, pendaftaran titik lokasi usaha di Google Maps, serta praktik menyusun kalimat promosi (copywriting) menggunakan AI (ChatGPT/Gemini).

Ketua Tim PkM Polinema, Rizqiyatul Khoiriyah, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang agar mitra dapat mandiri secara berkelanjutan tanpa tergantung pada jasa desainer mahal.
“Tujuan utama kami adalah melakukan demokratisasi teknologi Generative AI bagi UMKM rural. Kami ingin membuktikan bahwa membuat konten promosi yang estetik tidak harus menggunakan kamera mahal. Cukup bermodalkan smartphone, ibu-ibu Paguyuban Kartini kini mampu menghasilkan aset foto katalog dan video jualan estetik secara mandiri,” ujar Rizqiyatul.
Dampak positif program ini juga dirasakan langsung oleh anggota mitra. Perwakilan Paguyuban Jamu Gendong Kartini, Ibu Tiasri mengungkapkan kegembiraannya atas perubahan visual produk mereka.
“Dulu kami kebanyakan jualan jamu cuma pakai botol polos keliling kampung. Sekarang sudah punya logo sendiri, label stiker cantik yang tahan air, dan bisa bikin foto bagus pakai HP untuk diunggah ke sosmed. Konsumen jadi makin yakin dengan kebersihan dan kualitas jamu kami,” tuturnya.
Melalui sinergi multidisiplin ilmu (Sistem Informasi, Akuntansi dan Manajemen), program ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan tradisi jamu sekaligus memperkuat posisi Desa Karangrejo sebagai destinasi wisata jamu berbasis digital di Jawa Timur.




