Oleh: Bella Hazzara
Mahasiswa UIN KH. ABDURRAHMAN WAHID PEKALONGAN
JurnalPost.com – Asal mula tari sintren masuk ke Pemalang dibawa oleh para nelayan dari Pekalongan awalnya perkembangannya sintren selain sebagai sarana hiburan dan ajang komunikasi muda-mudi untuk cari jodoh sintren juga digunakan sebagai mediasi untuk meminta turun hujan, sekarang sintren dipentaskan untuk memeriahkan hari-hari besar nasional acara hajatan ataupun untuk menyambut tamu resmi.
Sejarah tarian sintren memiliki dua versi yang pertama adalah legenda atau cerita rakyat Joko bahu dan Bahurekso kemudian yang kedua adalah kisah percintaan antara Ratnasari dengan Ki Joko bahu secara sintren yang pertama berasal dari legenda sulas sulawesi dan sulandhono sulandono adalah putra dari pasangan suami istri Joko bahu dan Ratnasari.
Sintren menggambarkan perjalanan hidup kesucian seorang gadis yang diperankan seorang gadis belia yang masih suci belum akil balik dan tidak pernah terjamah dengan tangan lelaki. Pertunjukan sintren diawali tembang yang menarik perhatian para penonton yakni “Kukus Gunung “berikutnya gadis calon sintren yang mengenakan pakaian biasa dimasukkan ke dalam kurungan dengan keadaan tangan terikat setelah gadis berada dalam kurungan, sementara para pelantun lagu mengalunkan tembang “Yu Sintren” yang bertujuan untuk memanggil kekuatan dari luar kekuatan inilah yang mengganti busana calon sintren selanjutnya akan tampak sosok bidadari yang mengenakan pakaian kebesaran lengkap dengan kacamata hitam berdiri anggun lalu berlenggak-lenggok mengikuti irama gamelan penabuh.
Mengenai kesenian sintren di atas dapat dikatakan bahwa kesenian sintren merupakan salah satu kesenian tradisional yang syarat akan nilai-nilai religius magis dan nilai-nilai estetik sehingga kesenian sintren pun dapat dianggap sebagai kesenian atau kesenian. Kiranya hal tersebut memperkuat keinginan penulis untuk mengapresiasikan dan mengungkapkan gagasan sintren Pemalang sebagai sarana pengenalan tradisi khususnya kepada generasi muda. Salah satu sasaran penulis untuk mengenalkan budaya kesenian daerah yang mungkin sekarang tarian Sintren ini sudah hampir punah dikalangan generasi muda sekarang.
Subjek sintren Pemalang merupakan subjek yang untuk penulis tuangkan dalam memperkenalkan budaya lokal ini di samping itu sendiri merupakan tarian khas dari daerah Pemalang menarik bagi apresiator terutama pada generasi muda yang kebanyakan dari mereka tidak begitu mengetahui kesenian sintren. Karena generasi muda merupakan sasaran penulis untuk mengenalkan budaya daerah kesenian sintren ini, dikarenakan langkahnya minat generasi muda pada masa sekarang untuk menjadi penerus kesenian tradisional khususnya kesenian sintren yang dikarenakan kurangnya generasi muda dalam mengenal kesenian daerah yang mereka miliki dan yang dikhawatirkan juga lama-kelamaan kesenian tersebut akan langka bahkan punah.
Kemudian selain itu penulis juga ingin menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap kesenian budaya yang kita miliki agar tidak mudah pula terbaru dengan kebudayaan asing dan menyadarkan kepada mereka bahwa kita memiliki kesenian daerah yang sehingga mereka tetap mencintai kebudayaan yang mereka miliki, karena kesenian daerah juga merupakan aset yang sangat berharga bagi kita sebagai masyarakat yang berbudaya.Dengan ini menjadikan mereka tahu dan hal tersebut sesuai dengan tujuan dibuatnya essay ini yaitu ingin mengenalkan kesenian sintren Pemalang melalui karya ini kemudian tidak hanya apresiator lokal para turis dan asing yang berkunjung dalam pameran sintren.




