JurnalPost.com – Mata Kuliah Apresiasi Seni Tradisi — Museum Keris Brojobuwono adalah salah satu museum hidden gem yang berlokasi di Wonosari, Kec. Gondangrejo, Karanganyar. Padepokan dari Museum brojobuwono ini didirikan pada tahun 1999, sedangkan untuk museumnya sendiri diresmikan pada tahun 2012.
Basuki Teguh Yuwono, dosen Institut Seni Indonesia (ISI Surakarta) sekaligus salah satu pemilik Museum Keris Brojobuwono sangat mencintai dan ingin mengabadikan kesukaannya akan senjata keris sehingga beliau mendirikan museum ini dari awal ia masih menjadi mahasiswa hingga saat ini. Para pekerja pembuat keris umumnya memiliki seragam sebagai identitas suatu kelompok atau pembitas.
Dari berbagai banyaknya keris di Museum ini, keris Ki Naga Minulya menjadi satu-satunya koleksi masterpiece yang ada di museum. Dibuat dari bahan baku lahar Gunung Merapi selepas erupsi pada tahun 2010 dan ditempah secara langsung oleh pemilik museum selama satu tahun lebih lamanya, menjadi sebuah simbol untuk mengenang peristiwa tersebut.
Sering kali kita mendengar istilah di-warang saat proses pembuatan keris yang katanya untuk meracuni. Makna sebenarnya dari di-warang ialah untuk menimbulkan guratan-guratan pamong, agar muncul warna putih pada bilah keris yang berbahan nikel atau meteorid, sedangkan akan menghitam jika berbahan besi atau baja.
Selain mengoleksi senjata keris, Pak Basuki juga mengoleksi fosil-fosil secara pribadi yang sudah ada perizinannya dari Museum Sangiran (pakar Fosil). Fosil tersebut disimpan pada gua buatan yang terletak di ruang bawah tanah Museum Brojobuwono. Gua buatan tersebut dibuat seolah-olah menjadi gua alami yang membuat para pengunjung merasa sedang berada di gua sungguhan. Di dalam gua tersebut menyimpan fosil-fosil hewan dan material purba, seperti fosil dari hewan kepala kerbau, kepala banteng, kuda nil, buaya dan tulang-tulang dari gajah.
Selain fosil hewani juga terdapat fosil tumbuhan, salah satunya adalah fosil terumbu karang. Tidak seperti umumnya koleksi fosil, di gua ini fosil tidak dilindungi dengan lemari kaca, hanya diberi bahan pengawet saja, sehingga para pengunjung bisa menyentuh secara langsung.
Ditempat ini, para pengunjung tidak hanya sekedar berlibur, tetapi juga bisa belajar banyak hal mengenai tradisi senjata keris beserta nilai-nilai yang terdapat pada sejarahnya.
Oleh: Laras Adriana Afni & Sava Shayna Jasmine – Prodi Film dan Televisi ISI Surakarta.




