Oleh: Suci Ramadhani
UIN KH. ABDURRAHMAN WAHID PEKALONGAN
JurnalPost.com – Salah satu tradisi tahunan yang ada di setiap hari raya yaitu tradisi riyoyo. Apa itu tradisi riyoyo?
Riyoyo merupakan sebuah ungkapan rasa syukur yang diungkapkan dengan bersedekah dalam bentuk berbagi makanan. Tradisi Riyoyo sendiri sudah ada sejak zaman dahulu, tradisi ini dilakukan 3 kali, yaitu di hari raya ‘idul fitri tanggal 1 Syawal, hari raya ‘idul adha pada tanggal 10 Dzulhijjah, serta hari raya ketupat (atau masyarakat sering menyebutkan dengan istilah bodho Syawal) 1 minggu setelah hari raya’ Idul Fitri.
Di Pekalongan sendiri tepatnya di desa Samborejo, tradisi ini masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi ini biasa diikuti oleh laki-laki. Tradisi ini di mulai dari selepas sholat ied yang di laksanakan di musholla tiap RT. Biasanya para jamaah akan membawa berbagai makanan berat maupun ringan, seperti nasi bungkus, ayam opor, lontong, ketupat, agar-agar dan juga buah-buahan. Rangkainnya dimulai dari pembacaan yasin, tahlil dan doa penutup. Kemudian pembagian makanan yang di bawa oleh para warga.
Sedangkan pada malam hari raya, akan diadakan pawai obor yang diikuti oleh semua kalangan. Sedangkan dalam pelaksanaan pawai obor masyarakat yang ikut akan berkumpul di satu titik. Kemudian mengelilingi desa dengan melantunkan sholawat dan takbir. Tidak hanya bawa obor saja tapi masyarakat juga akan membuat kreasi karya atau gapura berbagai macam bentuk seperti masjid, ka’bah, tumpeng dan sebagainya.
Kegiatan ini juga menimbulkan dampak positif bagi masyarakat, diantaranya:
1. Mempererat ikatan persaudaraan antar masyarakat
2. Menimbulkan rasa kasih sayang dan menghormati
3. Melestarikan nilai budaya
4. Mendekatkan antara warga satu dengan warga lainnya
5. Dan dapat memperkenalkan tradisi kepada masyarakat lain
Tradisi ini di simbolkan dengan ketupat dan opor ayam. Dari segi warna, ketika ketupat dibelah dan berwarna putih melambangkan kebersihan dan kesucian hati setelah meminta maaf atas segala kesalahan. Bahan pembungkus ketupat adalah daun kelapa muda atau janur yang berarti Jatining NUR yang berarti hati nurani. Beras sebagai isi dari ketupat sebagai simbol hawa nafsu manusia. Secara keseluruhan kupat bermakna nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.
Ketupat juga dianggap sebagai penolak bala, yaitu dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah, biasanya bersama pisang, dalam jangka waktu berhari-hari, bahkan berulan-bulan sampai kering.
Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahana atau sungkeman yakni bersimpuh di hadapan orang tua memohon ampun, dan ini masih membudaya hingga kini. Laku papat artinya empat tindakan. Empat tindakan tersebut adalah: Lebaran; Luberan;Leburan; dan Laburan.
Setelahnya warga akan berkumpul bersama keluarga untuk makan bersama dan dilanjutkan dengan meminta maaf kepada saudara dan tetangga terdekat. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dalam tradisi ini hanya karena waktu pelaksanaannya yang di lakukan setiap hari raya saja serta pembacaan doa yang dilakukan bersama-sama membuat tradisi ini lebih berkesan. Walaupun tradisi ini dilakukan sederhana tapi tetap mengandung makna bagi masyarakat.
Riyoyo merupakan tradisi yang sangat mulia, disamping sebagai perwujudan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa juga sebagai sarana silaturahmi antar sesama. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, Riyoyo merupakan implementasi dari Hablumminallah dan Hablumminannas.




