Elya Siska Anggraini, S.Sn.,M.A.¹Cantika Putri Pores S², Elsa Meriska³, Elsa Pretty Simanjuntak⁴, Tio Aquandri Sriringo-ringo⁵
Prodi PG PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Medan Jl. Willem Iskandar Medan, Sumatera Utara, Indonesia
E-mail : [email protected], [email protected], [email protected], [email protected].
Abstrak : Seni rupa atau seni yang tampak adalah salah satu bentuk kesenian visual atau tampak ada yang tidak hanya bisa diserap oleh indera penglihatan, tetapi juga bisa oleh indera peraba, maksudnya adalah teksturnya dapat dirasakan, misalnya kasar, halus, lunak, keras, lembut dan sebagainya Kegiatan seni (musik, tari, gambar, menyanyi dan lain–lain) merupakan salah satu stimulasi kreatif, seni dalam pembelajaran dapat mengaktifkan lebih banyak area-area dalam otak. Seni dapat meningkatkan spontanitas dan ekspresi diri, mengontrol efektifitas pembatasan dari inhibisi dan menghasilkan karya kreatif. Jenis Penelitian yang peneliti gunakan ialah Penelitian kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan yaitu dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap Kepala Sekolah, Guru kelas Smart dan Observasi Dikelas Smart TK Swasta Immanuel Kids Medan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa guru belum dapat menciptakan ide kegiatan pembelajaran seni dan lingkungan belajar yang mendukung dan merangsang perkembangan kemampuan seni anak usia dini, yang dimana dapat membantu anak mengembangkan berbagai aspek kemampuan lainnya, serta sarana prasarana yang masih minim dalam memenuhi kebutuhan belajar anak disekolah.
Kata Kunci : Anak Usia Dini, Pembelajaran Seni, Kreatifitas Anak.
1. Pendahuluan
Seni rupa anak adalah karya rupa yang mengandung hasil pemikiran dan perasaan anak tentang diri dan lingkungannya. Objek atau isi karya datang dari situasi sesungguhnya, cerita yang diberikan orang, pengamatan tentang lingkungan sekitar anak, peristiwa yang pernah di alami serta pikiran futuristik (jangkauan masa depan). Karya anak berupa karya dua dan tiga dimensi, masingmasing digunakan untuk mewujudkan gagasan dan pikirannya serta perasaannya. Karya dua dimensi adalah karya rupa yang mempunyai ukuran panjang dan lebar serta karya tiga dimensi adalah karya yang mempunyai ruang dan berukuran panjang-lebar-tinggi. Semua karya ini digunakan sebagai media berkomunikasi alat bermain, berimajinasi, bercerita dengan orang lain (Pamadhi,2016 hlm 1,17).
Keterampilan berseni rupa diberikan kepada anak adalah agar anak dapat mengungkapan perasaan dan pikiran serta angan-angan anak tentang diri dan lingkungannya.Keterampilan seni rupa adalah menciptakan sesuatu bentuk baru dan mengubah fungsi bentuk. Kegiatan ini sering dilakukan oleh anak-anak pada usia dini karena sifat keingintahuan. Anak memperlakukan selembar kertas kosong sebagai teman bicara, diajak berbicara terlebih dahulu kemudian baru menggambar. Gambar tersebut kadang tidak berwujud figuratif, tetapi juga bisa berupa coretan garis. Menggambar dikerjakan dengan berlari, berhenti sejenak kemudian bercerita dan dilanjutkan lagi dengan menggoreskan benda tajam Sembari mengambil alat permainan yang sudah ditata rapi dari lemari, alat tersebut diletakkan di sembarang tempat, inilah kegiatan bermain. Kegiatan anak berseni rupa seperti tersebut adalah sebagian dari contoh perilaku karya; tetapi sebenarnya contoh kegiatan anak yang serupa dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu yang dia ciptakan kadang tidak dapat dipisahkan apakah kegiatan bermain atau berekspresi (Pamadhi,2016 hlm.1.4-1.5). Kegiatan seni (musik, tari, gambar, menyanyi dan lain– lain) merupakan salah satu stimulasi kreatif, seni dalam pembelajaran dapat mengaktifkan lebih banyak area-area dalam otak. Seni dapat meningkatkan spontanitas dan ekspresi diri, mengontrol efektifitas pembatasan dari inhibisi dan menghasilkan karya kreatif. Seni juga dapat mengembangkan control perhatian yang diperlukan untuk ketangguhan dalam menghadapi rasa takut, frustasi, dan kegagalan yang biasanya hadir ketika berusaha menciptakan karya-karya puncak sejati yang menomental. Seni juga menjadi media efektif dalam pengembangan potensi peserta didik (Fauziah,2019).
Bagi anak usia dini, belajar tentang seni rupa tidak hanya bertujuan untuk berproses atau berkarya seni saja, selain itu juga diharapkan dapat memberikan aspek perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Jadi dengan bimbingan yang tepat, anak akan dapat melatih potensi-potensi yang bermanfaat baginya. Seni rupa atau seni yang tampak adalah salah satu bentuk kesenian visual atau tampak ada yang tidak hanya bisa diserap oleh indera penglihatan, tetapi juga bisa oleh indera peraba, maksudnya adalah teksturnya dapat dirasakan, misalnya kasar, halus, lunak, keras, lembut dan sebagainya. Melukis bisa dikatakan berkaitan dengan kemampuan anak untuk belajar dan mengembangkan imajinasinya. Pada tahap awal mengenal, anak hanya melihat-lihat gambar, kemudian mencobamelukisnya tanpa petunjuk. Dengan sedikit arahan dan contoh, maka anak sudah dapat mengembangkan kemampuan motoriknya dengan cara mencoba bergerak dan memilih serta menyesuaikan bentuk, warna dan berlogika. Kemampuan motorik utamanya motorik halus berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan otot-otot kecilnya khususnya tangan dan cat air.
Anak balita khususnya anak berusia kurang dari tiga tahun (batita) direkomendasikan banyak mendapatkan latihan keterampilan motorik halus. Dengan melukiskan sesuatu, tanpa disadari anak akan belajar secara aktif menggunakan cat air-cat air tangannya. Supaya yang anak lukiskan membentuk gambar, maka guru secara seksama mengamati dan memperhatikan cara anak-anak memegang alat lukisnya yang benar dan tidak membahayakan, sebab masing-masing anak akan berbeda dengan caranya memegang. Memegang dan melukis awalnya mungkin hanya menggunakan dua atau tiga warna dari cat air atau menggunakan beberapa warna cat air sekaligus. Teknik melukis sederhana yang bisa diajarkan pada anak salah satunya adalah melukis dengan cat air.Kegiatan melukis ini dapat melatih motorik halusnya juga mengembangkan imajinasinya. Guru bisa melakukannya bersama anak didiknya, sambil mengisi waktu senggang. Pada anak-anak, kegiatan melukis tampaknya yang paling sering dilakukan mengingat kegiatan ini dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan biaya yang relatif murah.Salah satu teknik melukis dengan cat air.Kegiatan melukis ini dapat melatih motoriknya dan juga mengembangkan imajinasinya.
Peneliti melihat, kegiatan seni yang dikembangkan di TK Immanuel Kids adalah menggambar. Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, belum sepenuhnya memberikan pengalaman estetik, ekspresif, dan kreatif bagi anak. Dan asumsi peneliti, anak didik akan merasa kurang mampu mengungkapkan imajinasi dalam seni menggambarnya dikarenakana mereka tidak menggambar atas kemauan sendiri, melainkan mereka diwajibkan menggambar dalam satu hari tersebut dengan menggunakan buku yang didalam nya ada kegiatan menggambarnya. Faktor-faktor inilah yang mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dan bagaimana penggunaan strategi pembelajaran sebagai upaya kemampuan seni rupa melalui teknik menggambar untuk mengekspresikan ide-ide kreatif anak atas kemauannya sendiri. Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang kemampuan seni rupa anak di TK Immanuel Kids, peneliti melakukan/ menggunakan konsep penelitian deskritif kualitatif.Dipilihnya konsep ini karena ada relevansinya untuk menggambarkan bagaimana cara mengajarkan pembelajaran seni rupa melalui teknik menggambar pada anak usia dini, ini menekankan kepada pengumpulan, penyajian dan analisis data sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan sehingga dapat memberikan gambaran yang cukup jelas atas objek bahasan. Tempat penelitian adalah TK Immanuel Kids Medan Amplas dan subjek penelitian ini adalah pembimbing dan anak usia dini, sebagai subjek penelitian, sedangkan pimpinan TK sebagai pengelola sebagai guru mitra. Alasan memilih subyek tersebut adalah 1).Semua anak pernah mendapat pembelajaran seni menggambar, 2).Pembimbing yang mengajar seni menggambar anak memiliki latar belakang pendidikan bukan seni rupa tetapi telah berusaha untuk memiliki pengalaman, 3). Kelompok yang dipilih adalah Kelompok B anak usia dini, 4). Anak didik yang dipilih sebagai subjek berdasarkan jenis kelamin, belum/ tidak mampu menggambar dan sudah cukup memiliki kemampuan dan kreatifitasnya dalam seni rupa. Mencermati uraian tersebut, peneliti berusaha meneliti tingkat kemampuan seni rupa seperti yang tertuang pada latar belakang di atas, yang menunjukkan bahwa masih kurangnya kemampuan seni rupa melalui Teknik menggambar atas kemauan sendiri oleh anak di TK Immanuel Kids Kec. Medan Amplas. Kurangnya kemampuan ini merupakan faktor penghambat dalam keberhasilan belajar anak dalam mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu harapan peneliti, dengan dikajinya masalah ini dalam bentuk penelitian karya ilmiah ini, dapat membantu guru dalam mengembangkan pola pembelajaran kepada anak didiknya utamanya yang masih dalam usia dini. Berdasarkan hasil observasi tersebut, maka peneliti mengangkat masalah ini untuk dikaji dan diteliti dengan merumuskan masalah “ Bagaimana Upaya yang harus dilakukan guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran seni untuk meningkatkan kreativitas anak ?”.
2. Kajian Pustaka
Kegiatan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan kreatif dapat diaplikasikan kepada anak-anak. Hal ini mengingat bahwa adanya problematika pendidikan anak usia dini selama masa pembelajaran daring. Dampak yang ada adalah banyak anak yang merasa bosan dikarenakan pembelajaran bersifat monoton, dan kurang adanya dorongan dari orangtua untuk memberikan bimbingan yang kreatif bagi anak saat implementasi pembelajaran dari rumah (Betiani, 2020). Timbulnya problematika tersebut, maka para orangtua dan guru hendaknya bekerjasama untuk membantu peningkatan pembelajaran. anak secara kreatif dan inovatif agar anak tidak bosan saat belajar dan bermain secara online. Peran orangtua dalam meningkatkan pembelajaran yang kreatif adalah melalui pendampingan belajar dan memfasilitasi kebutuhan anak (Yulianingsih, 2021). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa ketika hendak melaksanakan pembelajaran daring yang kreatif serta membuat anak nyaman dan senang, maka guru dan orangtua harus selalu menjadi pendamping, fasilitator, adanya kerjasama antara dua belah pihak, serta adanya bimbingan terkait pembelajaran yang akan dilakukan (Khadijah & Gusman, 2020).
Adapun yang dimaksud dengan pembelajaran yang bersifat kreatif adalah sebuah pembelajaran bagi anak usia dini yang ditawarkan melalui metode, strategi, dan berbagai kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Hal ini berpengaruh pada emosional anak. Anak akan tertarik, tidak bosan dan bersemangat saat pembelajaran (Fadlillah, 2014, p. 6). Kegiatan yang diberikan kepada anak hendaknya bersifat kreatif dan inovatif agar dapat meningkatkan pola berfikir kreatif kepada anak dan menambah wawasan keingintahuan anak (Astuti et al., 2021). Anak juga belajar perihal pendidikan estetika melalui pembelajaran yang kreatif. Adanya hal tersebut maka, anak menjadi subyek utama dalam pengimplementasian pembelajaran ini. Arti dari subyek utama pada diri anak adalah guru menganjurkan anak untuk berfikir, berkreasi, berimajinasi dan bereksplorasi sesuai dengan bimbingan dan arahan guru. Hal ini diimplementasikan kepada anak berdasarkan tahap-tahap perkembangan anak (Rapisa, 2019, p. 143).
Adanya hal tersebut, maka salah satu pembelajaran yang bersifat kreatif, inovatif dan menyenangkan bagi anak adalah pembelajaran kreatif seni rupa bagi anak usia dini. Pembelajaran seni rupa merupakan salah satu pembelajaran seni bagi anak usia dini yang difokuskan pada pengembangan aspek seni, imajinasi, kreativitas, sensorimotorik serta pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan anak (Fakhruddin, 2019,p. 294). Sebuah penelitian menyatakan bahwa pembelajaran seni rupa bagi anak usia dini memiliki tujuan sebagai dasar untuk meningkatkan dan mengembangkan imajinasi anak. Ketika anak berkreasi, maka secara tidak langsung belajar akan menciptakan karya sendiri dengan bantuan sensori motoriknya. Anak akan belajar mengenai tata cara menghargai dan menyenangi karya yang diciptakannya sendiri (Yuningsih, 2019, p. 6).
Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa kegiatan seni kreativitas bagi anak usia dini dengan contoh kegiatan bermain warna melalui teknik melukis dan finger painting dapat meningkatkan imajinasi, emosional, kognitif, bahasa, seni bagi anak sejak dini. Melalui kegiatan seni ini anak dapat bereksplorasi melalui macam-macam warna (Wibowo & Suyadi, 2020). Kegiatan kreativitas seni rupa juga dapat mempengaruhi tingkat psikologis anak dengan bantuan gambar visual dan nilai estetik yang dihasilkan anak. Adanya gambar hasil karya anak, maka anak akan belajar akan keindahan estetika dari gambar yang dihasilkan (I. Bagus, 2020). Selain hal tersebut, implementasi kegiatan seni rupa bagi anak juga dapat membantu mengkoordinir otot-otot motorik halus anak, seperti kegiatan membentuk, melipat dan menggunting. Kegiatan seni rupa ini dapat dikembangkan dalam kegiatan seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi sehingga berfungsi sebagai strategi pembelajaran agar otot-otot anak dapat elastis dan tidak kaku saat digerakkan. Ini merupakan sebuah olahraga sederhana untuk pertumbuhan dan perkembangan otot pada bagian tangan anak (Sarasedia, 2020).
Melalui beberapa penelitian tersebut penulis tertarik ingin meneliti mengenai konsep pembelajaran seni rupa bagi anak usia dini yang dilaksanakan di lembaga PAUD di Medan. Lembaga PAUD merupakan salah satu lembaga pendidikan bagi anak usia dini yang berfungsi sebagai dasar pembentukan karakteristik, emosional, imajinasi, intelektual, dan potensi anak usia dini agar mereka dapat mempersiapkan diri menuju jenjang yang lebih tinggi yaitu jenjang SD. Salah satu lembaga PAUD yang mengimplementasikan pembelajaran seni rupa bagi anak usia dini adalah TK Swasta Immanuel Kids Medan. Ibu Kepala Sekolah TK Swasta Immanuel Kids Medan menyatakan bahwa pengimplementasian pembelajaran seni rupa bagi anak sangatlah dianjurkan tetapi disekolah ini masih belum optimal dalam pengimplementasiannya dikarenakan masih rendahnya kreativitas guru dalam mengembangkan materi pembelajaran dan sarana prasarana belajar yang belum memenuhi seluruh kebutuhan pembelajaran.
3. Metode Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif adalah penelitian untuk mendiskripsikan dan menganalsis tentang fenomena, peristiwa, kepercayaan, sikap, dan aktivitas sosial secara individual maupun kelompok. Metode kualitatif merupakan kumpulan metode untuk menganalisis dan memahami lebih dalam mengenai makna beberapa individu maupun kelompok dianggap sebagai masalah kemanusiaan atau masalah sosial Creswell (2015).
Penelitian kualitatif ini menggunakan metode penelitian eksplorasi, eksplorasi merupakan jenis penelitian awal dari suatu penelitian yang sifatnya sangat luas. Dalam penelitian eksplorasi menjadi sangat penting dikarenakan akan menghasilkan landasan yang kuat bagi penelitian selanjutnya. Yusuf, (2004) mengemukakan tujuan penelitian eksplorasi merupakan tujuan untuk mendapatkan ide-ide mengenai permasalahan pokok secara lebih terperinci maupun untuk mengembangkan hipotesis yang ada. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan peneltian kualitatif untuk dapat memahami fenomena dalam konteks sosial secara alamiah yang menggambarkan permasalahan sosial pada seseorang mengenai sudut pandang perilaku. Dalam penelitian kualitatif peneliti menganalisis dan setelah itu melaporkan fenomena dalam suatu hasil analisa dalam penelitian.
Jenis Penelitian yang peneliti gunakan ialah Penelitian kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus adapun teknik pengumpulan data yang kami gunakan yaitu dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi terhadap Kepala Sekolah, Guru kelas Smart dan Observasi Dikelas Smart TK Swasta Immanuel Kids Medan yang bertempat di Jl. Pertahanan No.174, Timbang Deli, Kec. Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara 20148. Penelitian ini dilakukan pada hari Senin, 29 April 2024.
Dimana observasi yang dilakukan yaitu terhadap siswa yakni peneliti mengamati proses pembelajaran seni yang diberikan guru kepada peserta didiknya dan bagaimana proses interaksi guru dalam memberikan kegiatan pembelajaran seni dikelas. Dan pada wawancara ini dilakukan untuk menanyakan kepada kepala sekolah apakah sejauh ini guru sudah dapat menerapkan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menarik saat mata Pelajaran seni dan apakah sekolah melengkapi semua sarana prasarana kebutuhan pembelajaran seni disekolah ?.
4. Hasil dan Pembahasan
Dari hasil Penelitian yang sudah dilakukan bahwa kegiatan seni pada Tk Immanuel Kids menerapkan kegiatan bernyanyi di awal pembelajaran , ada juga kegiatan mewarnai, kegiatan bernyanyi ini dilakukan oleh guru setiap hari , di awal sebelum proses pembelajaran berlangsung. Untuk alat dan bahan dalam kegiatan seni di Tk Immanuel Kids ini ada yang disediakan dari pihak sekolah dan ada juga anak yang membawa alat dan bahan masing – masing . Dalam proses pembelajaran seni guru mengajak anak untuk membuat suatu proyek seni yang di laksanakan di setiap hari jumat , proyek tersebut berupa kolase, mewarnai , membuat mozaik, dll. Dalam pembelajaran seni ini anak di ajak untuk bersemangat dalam melakukan proses pembelajaran , agar anak dapat mengasah kekreativitasannya . Guru juga memmberikan pembelajaran seni yang bervariasi sesuai dengan buku panduan yang di sediakan oleh pihak sekolah , agar anak tidak merasa bosan dengan pembelajaran seni yang begitu – begitu saja.
Dari permasalahan yang sudah ada , solusi yang dapat di tawarkan kepada guru yaitu
; Mengasah kemampuan seni pada anak usia dini adalah hal yang penting untuk perkembangan kreativitas, motorik, dan ekspresi diri mereka. Berikut adalah beberapa solusi yang bisa diterapkan oleh guru:
1. Menyediakan Beragam Material dan Media Seni
Guru bisa menyediakan berbagai jenis material dan media seni seperti cat air, krayon, tanah liat, kertas berwarna, kain perca, dan bahan-bahan alami (daun, biji-bijian). Beragam media ini akan memberikan pengalaman berbeda dan merangsang kreativitas anak.
2. Mengadakan Kegiatan Seni Terstruktur dan Bebas
Kombinasikan antara kegiatan seni yang terstruktur, seperti menggambar dengan tema tertentu atau membuat prakarya dengan panduan langkah demi langkah, dan kegiatan seni bebas di mana anak-anak bisa berkreasi tanpa batasan. Ini membantu anak mengembangkan keterampilan mengikuti instruksi serta mengekspresikan ide mereka secara bebas.
3. Menggunakan Musik dan Tari
Seni tidak hanya terbatas pada visual. Menggunakan musik dan tari sebagai bagian dari pembelajaran seni dapat membantu anak mengekspresikan diri melalui gerakan dan ritme. Mengadakan sesi menari bebas atau mengenalkan alat musik sederhana dapat menjadi cara yang efektif.
4. Memberikan Proyek Kolaboratif
Mendorong anak untuk bekerja dalam kelompok pada proyek seni besar dapat meningkatkan kemampuan sosial dan kerjasama mereka. Misalnya, membuat mural bersama, proyek mozaik dari kertas warna, atau pertunjukan drama sederhana.
5. Mengundang Seniman Tamu
Mengundang seniman lokal atau orang tua yang memiliki keterampilan seni untuk berbagi pengalaman dan keterampilan mereka dengan anak-anak. Ini bisa memberikan inspirasi dan wawasan baru tentang dunia seni.
6. Mengadakan Pameran Karya Seni Anak
Menyelenggarakan pameran karya seni anak di sekolah atau di ruang kelas dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Ini juga mengajarkan anak untuk menghargai usaha dan kreativitas satu sama lain.
7. Mengintegrasikan Seni ke Dalam Pelajaran Lain
Mengintegrasikan kegiatan seni dalam pelajaran lain seperti matematika, sains, atau bahasa. Misalnya, membuat ilustrasi untuk cerita yang mereka tulis, atau membuat diagram dan model dalam pelajaran sains.
8. Memberikan Ruang dan Waktu untuk Ekspresi Diri
Memberikan anak waktu bebas untuk bermain dan bereksplorasi dengan material seni tanpa gangguan. Sediakan sudut seni di kelas di mana anak-anak bisa mengakses material seni kapan saja mereka mau.
9. Pelatihan dan Pengembangan Profesional untuk Guru
Guru juga perlu terus mengasah kemampuan dan pengetahuan mereka tentang seni. Mengikuti workshop, seminar, atau kursus tentang pendidikan seni untuk anak usia dini dapat membantu guru menemukan metode dan strategi baru yang efektif
10. Memanfaatkan Teknologi
Gunakan teknologi seperti aplikasi seni digital atau video tutorial untuk memperkenalkan anak pada bentuk seni yang berbeda dan modern. Namun, pastikan penggunaan teknologi ini seimbang dengan kegiatan seni manual.
Dengan menerapkan solusi-solusi di atas, guru dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan merangsang perkembangan kemampuan seni anak usia dini, yang pada gilirannya akan membantu anak mengembangkan berbagai aspek kemampuan lainnya. Pembelajaran seni sebagai suatu pendidikan, maka mengartikan seni sebagai suatu objek pembelajaran yang artinya mengajarkan nilai-nilai keindahan dan rasa keindahan pada peserta didik. Antara mengembangkan potensi seni yang ada dalam individu peserta didik ataupun membangun nilai dan rasa seni kepada peserta didik. Peningkatan daya kreatifitas dilakukan dengan memberikan kebebasan untuk berkesenian kepada peserta didik, misalkan pada media kertas untuk mengasah kemampuan pada bidang seni rupa khususnya untuk membangun daya nalar dan imajinasi, sedangkan pada media gerak misalkan seni tari digunakan untuk membangun kreatifitas pada asfek motorik melalui Gerakan gerakan yang dinamis, melalui media suara seperti bernyanyi untuk membangun rasa percaya diri sehingga anak memiliki keadaan mental yang dapat digunakan dalam berinteraksi dan bersosialisasi .
Kesimpulan
Bagi anak usia dini, belajar tentang seni rupa tidak hanya bertujuan untuk berproses atau berkarya seni saja, selain itu juga diharapkan dapat memberikan aspek perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial, emosional serta kemandirian pada anak. Jadi dengan bimbingan yang tepat, anak akan dapat melatih potensi-potensi yang bermanfaat baginya. Kegiatan kreativitas seni rupa juga dapat mempengaruhi tingkat psikologis anak dengan bantuan gambar visual dan nilai estetik yang dihasilkan anak. Adanya gambar hasil karya anak, maka anak akan belajar akan keindahan estetika dari gambar yang dihasilkan, kegiatan yang diberikan kepada anak pun hendaknya bersifat kreatif dan inovatif agar dapat meningkatkan pola berfikir kreatif kepada anak dan menambah wawasan keingintahuan anak.
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa TK Swasta Immanuel Kids Medan dikategorikan masih belum cukup optimal dalam mengimplementasikan pembelajaran seni disekolah dilihat melalui hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan guru masih melakukan pembelajaran seni yang kurang menarik dan monoton belum adanya inovasi dan ide – ide kreatif dari guru dalam memberi materi pembelajaran seni bagi peserta didiknya jadi peserta didik tidak leluasa dalam mengeksplorasi potensi-potensinya dalam pembelajaran seni.
Saran
1. Bagi Tenaga Pendidik Sekolah
Kepala sekolah sebaiknya memenuhi sarana prasarana kebutuhan pembelajaran seni disekolah agar guru dan peserta didik dapat memanfaatkan dan mencoba hal-hal baru melalui sarana yang sudah disediakan oleh sekolah, dan guru harus terus belajar dalam mengembangkan ide-ide inovatif terkait materi pembelajaran seni yang akan diberikan kepada peserta didik, guru harus mampu memberikan ide kegiatan pembelajaran seni yang terbaru sesuai dengan perkembangan zaman anak dan sesuai bakat dan minat yang dimiliki oleh setiap anak.
2. Bagi Penulis
Penulis menyadari dalam makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih terdapat banyak kekurangan, hal ini dikarenakan keterbatasan penulis. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini sehingga layak untuk dibaca oleh pembaca selanjutnya.
Daftar Rujukan
Astuti, E.P., Suardana, I.W., Ambarwati, D.R.S., Wulandari, D., & Isa, B. (2021). Persepsi Guru terhadap Pembelajaran Berbasis Museum dan Pengaruhnya terhadap Kreativitas: Kajian Pendahuluan. Prosiding Konferensi Internasional Seni dan Pendidikan Seni ke-4 (ICAAE 2020), 552(ICAAE 2020), 215-221.
https://doi.org/10.2991/assehr.k.210602.043
Bagus. (2020). Analisis Gambar Karya Anak Usia Dini. Jurnal Ilmu Pendidik- an, 5(1), 43-51. https://doi.org/http:// dx.doi.org/10.25078/pw.v5i1.1358
Betiani, R. (2020). Dampak Pembelajaran Daring (Online) bagi Anak Usia Dini. Kompasiana.Com.
Fadlillah. (2014). Edutainment Pendidikan Anak Usia Dini: Menciptakan Pembela- jaran Menarik, Kreatif dan Menyenang- kan (Pertama). Kencana PrenamediaKelompok.
Fakhruddin, A. U. (2019). Menjadi Guru Pa- ud. PT Alex Media Komputindo. Fauziah, N. F. (2019). PERANCANGAN ARTBOOK SEBAGAI IDE DASAR VISUAL
UNTUK GAME BELAJAR PERAWATAN DAN KESEHATAN BAGI
ANAK SEKOLAH DASAR (Konsep Game Hasil Adaptasi dari Game Doctor Kids) (Doctoral dissertation, Program Studi Desain Grafis D4 Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama).
Khadijah & Gusman. (2020). POLA KERJA SAMA GURU DAN ORANGTUA ME- NGELOLA BERMAIN AUD SELA- MA MASA PANDEMI COVID-
19. Jurnal Kumara Cendekia: Jurnal Pene- litian Pendidikan Anak Usia Dini, 8(2). https://doi.org/https://doi.org/10.20961/ kc.v8i2.41871
Mayar, F. (2022). Seni Rupa untuk Anak Usia Dini. Deepublish.
Musa, L. A. D., & Hasis, P. K. (2021). Pembelajaran seni rupa untuk anak usia dini.
Penerbit Adab.
Pamadhi, H., Ambarwati, D. R. S., & Astuti, E. P. (2016). Pengembangan Pedoman Ruang Ramah Anak Berbasis Kearifan Lokal Untuk Fasilitas Pendidikan Usia Dini. Imaji, 14(1), 50-56.Fauziah, N. F. (2019). PERANCANGAN ARTBOOK SEBAGAI IDE DASAR VISUAL UNTUK GAME BELAJAR PERAWATAN DAN KESEHATAN BAGI
ANAK SEKOLAH DASAR (Konsep Game Hasil Adaptasi dari Game Doctor Kids) (Doctoral dissertation, Program Studi Desain Grafis D4 Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama).
Rapisa, D. R. (2019). Program Latihan Koordinasi Sensomotorik Bagi Anak Usia Dini Dan Anak Usia Dini dan Anak Berkebutuhan Khusus. Deepublish.
Sarwono, R. (2019). Konsep Seni pada Karya Seni Lukis Anak Usia 4 sampai 8 Tahun. WASPADA (Jurnal Wawasan Pengembangan Pendidikan), 2(2), 84-102.
Sarasehan, Y. (2020). Pengembangan Seni Rupa Tiga Dimensi Untuk. Jurnal Nan- aeke Indonesian Journal of Early Child- hood Education, 3(March 2019), 28-36. https://doi.org/https://doi.org/10.24252/ nananeke.v3i1.13557
Wibowo, D. V., & Suyadi. (2020). Kegiatan Kreativitas Seni Warna Anak Usia Dini Melalui Permainan Cat Air di Masa Pan- demi. PAUD Lectura: Jurnal Pendidik- an Anak Anak Dini, 4(1), 74-87. https:// doi.org/10.31849/paud-lectura.v
Yulianingsih, W. (2021). Keterlibatan Orang- tua dalam Pendampingan Belajar Anak selama Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Journal of Early Childhood Education, 5(2), 1138-1150. https://doi.org/: 10.31004/obsesi.v5i2.740
Vol.6 No. 23, 30 Juni 2024. pp. 45-61



