GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of Latak Village
Miftakhur Rozikin Mubarrok, Ikhsan Angga Nursyifa, Muhamad Fahmi Husaini, Muhammad Emir Ardhana, Rifqi Eka Nugraha, Aulya Della Citra, Natasya Kurnia Rahmawati, Arsita Nur Azizah, Indira Renata Ameliya, Allysa Nur Aprilliani, Sevia Dwi Cahyani, Rafif Lituhayu Rasyid
Universitas Muhammadiyah Semarang, Kota Semarang, Indonesia
Email:
[email protected], [email protected] [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak
Pengelolaan sampah merupakan salah satu bagian penting dalam menciptakan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan asri. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan perangkat Desa Latak, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, diketahui bahwa pengelolaan sampah rumah tangga belum optimal dan ketersediaan tempat sampah masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Program GERAK BERSERI (Gerakan Bersih, Sehat, dan Asri) dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan melalui pemanfaatan barang bekas dan kegiatan gotong royong. Kegiatan dilaksanakan pada 8–23 Agustus 2026 untuk proses pembuatan dan 26 Agustus 2026 untuk peresmian. Kegiatan meliputi pemanfaatan ember cat bekas menjadi tong sampah kreatif serta pembuatan dan penempatan bak sampah pada beberapa titik di Desa Latak. Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif melalui pembagian tugas mahasiswa, kerja sama dengan masyarakat, serta penyesuaian jadwal kegiatan dengan kondisi lapangan. Bak dan tong sampah ditempatkan di Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, Dusun Jabung, SDN 2 Latak, dan SDN 3 Latak. Pelaksanaan kegiatan memperoleh partisipasi dari mahasiswa KKN dan masyarakat setempat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemanfaatan barang bekas dan gotong royong dapat digunakan sebagai pendekatan dalam penyediaan sarana kebersihan sekaligus mendorong kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Keberlanjutan pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas yang telah dibuat menjadi bagian penting agar manfaat kegiatan dapat dipertahankan.
Kata Kunci: Pengelolaan sampah, barang bekas, gotong royong, tempat sampah, Desa Latak
Abstract
Waste management is an important aspect of creating a clean, healthy, and beautiful village environment. Based on initial observations and interviews with village officials in Latak Village, Godong District, Grobogan Regency, household waste management was found to be not yet optimal, while the availability of waste bins remained an environmental issue. The GERAK BERSERI (Clean, Healthy, and Beautiful Movement) program was implemented to increase community awareness of environmental cleanliness through the utilization of used materials and community cooperation. The activity was carried out from August 8 to August 23, 2026 for the construction process and on August 26, 2026 for the inauguration. Activities included transforming used paint buckets into creative waste bins and constructing and placing waste bins at several locations in Latak Village. The implementation method used a participatory approach through task distribution among students, cooperation with local residents, and scheduling adjustments according to field conditions. Waste bins were placed in Latak, Sumurup, Ngrapah, and Jabung hamlets, as well as SDN 2 Latak and SDN 3 Latak. The activity involved participation from KKN students and local residents. The results indicate that the utilization of used materials and community cooperation can support the provision of waste-management facilities while encouraging community awareness of environmental cleanliness. Continued utilization and maintenance of the facilities are important to sustain the benefits of the program.
Keywords: Waste management, reused materials, community cooperation, waste bins, Latak Village
PENDAHULUAN
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses pendidikan tinggi dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan KKN juga menjadi sarana untuk membangun hubungan antara lingkungan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berperan dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang ditemukan di lapangan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. KKN-PPM (Pemberdayaan Masyarakat) Universitas Muhammadiyah Semarang menekankan pada aspek pemberdayaan, di mana mahasiswa tidak hanya datang sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong kemandirian masyarakat.
Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan yang kompleks dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023, timbulan sampah nasional mencapai 69,9 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 40,86% berasal dari sampah rumah tangga, 20,47% dari sampah pasar tradisional, dan sisanya dari kawasan komersial dan fasilitas publik. Ironisnya, dari total timbulan tersebut, baru sekitar 39,01% yang berhasil terkelola di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sedangkan 60,99% sisanya tidak terkelola dengan baik, seperti dibakar secara terbuka, dibuang ke sungai, selokan, atau lahan kosong.
Di tingkat desa, pengelolaan sampah menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan di kota. Keterbatasan sarana dan prasarana, rendahnya kesadaran masyarakat tentang pemilahan sampah, serta belum adanya sistem pengangkutan sampah yang terjadwal menjadi faktor utama. Banyak masyarakat desa yang masih mengandalkan cara tradisional dalam mengelola sampah, yaitu dengan membakar sampah di halaman rumah atau membuangnya ke kebun belakang. Cara tersebut meskipun terlihat praktis, namun menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran udara akibat asap pembakaran, pencemaran tanah, dan dapat menjadi sumber penyakit.
Desa Latak merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Secara geografis, Desa Latak berada di wilayah dataran rendah dengan luas wilayah sekitar 385 hektar. Desa ini terbagi menjadi 4 dusun yaitu Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, dan Dusun Jabung. Jumlah penduduk Desa Latak berdasarkan data monografi desa tahun 2024 adalah sekitar 4.580 jiwa dengan jumlah 1.320 Kepala Keluarga. Mayoritas mata pencaharian penduduk adalah sebagai petani padi, jagung, dan palawija, serta sebagian sebagai buruh tani, pedagang, dan perantau. Secara sosial budaya, masyarakat Desa Latak masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, musyawarah, dan tepo seliro. Kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan, membangun masjid, dan kegiatan sosial keagamaan masih rutin dilakukan.
KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang Kelompok 60 tahun 2026 dilaksanakan di Desa Latak, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Pelaksanaan KKN berlangsung pada 29 Juli sampai 27 Agustus 2026. Pada minggu pertama pelaksanaan KKN, mahasiswa melakukan observasi awal dan wawancara mendalam dengan Kepala Desa Latak, perangkat desa, Ketua RW/RT, tokoh masyarakat, serta beberapa warga untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang ada di desa. Metode identifikasi dilakukan dengan teknik observasi partisipatif, yaitu mahasiswa tinggal dan berbaur dengan masyarakat sehingga dapat melihat langsung kondisi lapangan, serta wawancara semi terstruktur.Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan perangkat desa, ditemukan beberapa permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian, salah satunya adalah pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal. Dari hasil pengamatan lapangan, terlihat tumpukan sampah plastik di beberapa titik seperti di pinggir selokan Dusun Latak, di sekitar lapangan desa, dan di belakang warung-warung. Selain itu, banyak warga yang mengeluhkan bau tidak sedap akibat sampah yang dibakar di sore hari. Kepala Dusun Sumurup menyampaikan bahwa warganya sering membuang sampah ke sungai kecil di saat musim hujan karena tidak ada tempat pembuangan yang memadai.
Permasalahan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan ketersediaan sarana untuk membuang dan menampung sampah. Dalam laporan KKN Kelompok 60, kurangnya ketersediaan tempat sampah diidentifikasi sebagai salah satu permasalahan yang perlu mendapatkan penyelesaian. Sasaran penyelesaian masalah tersebut adalah warga Desa Latak dan pendatang dari luar desa, dengan solusi berupa pembuatan tong sampah dan penempatannya di beberapa titik yang dianggap membutuhkan sarana tempat sampah. Hasil diskusi dengan perangkat desa juga menyebutkan bahwa sebelumnya pernah ada program tempat sampah dari dana desa, namun jumlahnya terbatas dan sudah banyak yang rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi.
Ketersediaan tempat sampah dapat menjadi salah satu fasilitas pendukung dalam membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Menurut teori perilaku lingkungan, ketersediaan fasilitas fisik merupakan faktor enabling yang dapat mendorong perubahan perilaku. Jika fasilitas tersedia, maka masyarakat akan lebih mudah untuk melakukan perilaku yang diharapkan. Namun, penyediaan sarana tersebut perlu disertai dengan keterlibatan masyarakat agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan dan dipelihara secara berkelanjutan. Tanpa rasa memiliki, fasilitas yang dibangun seringkali tidak dirawat dan cepat rusak.
Dalam konteks Desa Latak, budaya gotong royong menjadi salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan untuk melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan. Gotong royong merupakan modal sosial yang sangat kuat di Desa Latak. Ketika ada warga yang membangun rumah atau ada kegiatan desa, warga lain akan datang membantu tanpa diminta. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lingkungan, sehingga program kebersihan tidak hanya menjadi program mahasiswa KKN, tetapi menjadi program bersama masyarakat.
Selain penyediaan tempat sampah, pemanfaatan barang bekas dapat menjadi alternatif dalam pelaksanaan kegiatan lingkungan. Ember cat bekas yang sudah tidak digunakan dimanfaatkan kembali menjadi tempat sampah kreatif. Di Desa Latak, banyak ditemukan ember cat bekas ukuran 20-25 kg yang tidak terpakai di rumah-rumah warga yang baru selesai membangun atau merenovasi rumah. Ember tersebut biasanya hanya ditumpuk di gudang atau dibuang. Padahal ember tersebut terbuat dari bahan plastik polypropylene yang kuat, tahan air, tahan panas, dan tidak mudah pecah, sehingga sangat cocok untuk dijadikan tong sampah. Pemanfaatan kembali barang tersebut menghasilkan fasilitas yang dapat digunakan sekaligus menjadi bentuk kegiatan pemanfaatan barang yang masih memiliki nilai guna dan mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Berdasarkan kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PPM Kelompok 60 merancang program GERAK BERSERI (Gerakan Bersih, Sehat, dan Asri). Program ini merupakan kegiatan lingkungan yang menggabungkan pemanfaatan ember cat bekas menjadi tong sampah kreatif dengan kegiatan gotong royong dalam pembuatan dan penempatan bak sampah bersama masyarakat Desa Latak. Nama GERAK BERSERI dipilih agar mudah diingat dan mengandung harapan akan terciptanya desa yang bersih, sehat, dan asri. Program ditujukan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, mengurangi sampah yang berserakan, serta menciptakan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan asri. Program ini juga sejalan dengan program pemerintah Kabupaten Grobogan yaitu Grobogan Bersih dan program SDGs Desa poin 11 tentang Kawasan Permukiman yang Berkelanjutan dan poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Kegiatan GERAK BERSERI dilaksanakan pada 8–23 Agustus 2026 untuk proses pembuatan dan pada 26 Agustus 2026 untuk peresmian. Lokasi kegiatan mencakup Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, Dusun Jabung, SDN 2 Latak, dan SDN 3 Latak. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada hasil pemetaan titik rawan sampah yang dilakukan bersama perangkat desa. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh anggota Kelompok 60 yang berjumlah 15 orang dengan sasaran masyarakat Desa Latak dan pendatang dari luar desa yang beraktivitas di Desa Latak.
Tujuan pelaksanaan kegiatan GERAK BERSERI adalah memanfaatkan barang bekas menjadi fasilitas yang memiliki nilai guna, menyediakan tempat sampah pada beberapa titik di Desa Latak, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Secara khusus, tujuan program adalah: 1) Mengurangi volume sampah yang berserakan di lingkungan Desa Latak; 2) Menyediakan fasilitas tempat sampah yang memadai di 8 titik strategis; 3) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan barang bekas; 4) Memperkuat budaya gotong royong melalui kegiatan bersama pembuatan bak sampah; 5) Membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya terutama pada anak-anak sekolah dasar. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan program GERAK BERSERI, bentuk keterlibatan masyarakat, serta hasil kegiatan pemanfaatan ember cat bekas dan pembuatan bak sampah di Desa Latak.
METODE
Kegiatan GERAK BERSERI merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dalam rangkaian KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang Kelompok 60. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan partisipatif (Participatory Rural Appraisal), yaitu melibatkan mahasiswa dan masyarakat dalam proses persiapan, pembuatan, penempatan, dan peresmian fasilitas tempat sampah. Pendekatan partisipatif dipilih agar masyarakat tidak hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi menjadi subjek yang aktif dalam seluruh proses kegiatan, sehingga tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab untuk merawat fasilitas yang telah dibuat.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan GERAK BERSERI dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah proses pembuatan dan pengecatan yang dilaksanakan pada 8–23 Agustus 2026. Tahap kedua adalah peresmian dan penyerahan fasilitas yang dilaksanakan pada 26 Agustus 2026. Lokasi kegiatan mencakup Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, Dusun Jabung, SDN 2 Latak, dan SDN 3 Latak. Selain itu, proses pembuatan bak sampah permanen dipusatkan di Dusun Latak karena akses material yang lebih mudah.
Alat dan Bahan
Untuk mendukung pelaksanaan program, diperlukan alat dan bahan yang memadai. Untuk pembuatan tong sampah kreatif dari ember cat bekas, bahan yang digunakan adalah: ember cat bekas ukuran 20 kg sebanyak 15 buah yang diperoleh dari sumbangan warga dan toko bangunan, cat tembok warna-warni (merah, biru, kuning, hijau, putih) sebanyak 5 kg, kuas cat ukuran 2, 3, dan 4 inci sebanyak 10 buah, amplas halus sebanyak 20 lembar, thinner 1 liter, pilox clear untuk finishing, spidol permanen besar, stiker tulisan edukasi “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”, “Bersih Pangkal Sehat”, dan “Desa Latak Berseri”. Alat pendukung lainnya adalah ember untuk mencuci, sikat kawat, lap kain, dan koran bekas untuk alas.
Untuk pembuatan bak sampah permanen, bahan yang digunakan adalah: semen 5 sak (50 kg per sak), pasir 1 colt truck, batu bata merah 500 buah, besi behel 6 mm, kawat bendrat, papan kayu untuk bekisting, dan cat eksterior. Alat yang digunakan adalah cangkul, sekop, cetok, palu, gergaji kayu, meteran, waterpass, dan gerobak dorong. Dana untuk pembelian bahan bangunan diperoleh dari iuran kelompok KKN, sumbangan dari Kepala Desa, dan swadaya masyarakat berupa pasir dan tenaga.
Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Tahap pertama adalah identifikasi permasalahan melalui observasi awal dan wawancara dengan perangkat Desa Latak. Observasi dilakukan dengan berjalan kaki menyusuri 4 dusun pada pagi dan sore hari untuk melihat kebiasaan warga membuang sampah. Wawancara dilakukan dengan Kepala Desa, 4 Kepala Dusun, 2 Kepala Sekolah Dasar, dan 10 warga yang dipilih secara acak. Hasil identifikasi menunjukkan adanya permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal serta kurangnya ketersediaan tempat sampah. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan program lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dituangkan dalam matriks prioritas masalah.
Tahap kedua adalah perencanaan kegiatan. Pada tahap ini mahasiswa melakukan Focus Group Discussion (FGD) internal kelompok dan FGD bersama perangkat desa. Dalam FGD ditentukan bentuk kegiatan, lokasi penempatan tempat sampah, kebutuhan bahan, pembagian tugas anggota kelompok, serta waktu pelaksanaan. Pembagian tugas dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tenaga dan waktu yang tersedia selama pelaksanaan KKN. Kelompok dibagi menjadi 3 tim: Tim 1 (5 orang) bertugas sebagai tim pengecatan dan kreatif yang bertanggung jawab membersihkan dan mengecat ember bekas; Tim 2 (6 orang) sebagai tim pembangunan bak sampah yang bertanggung jawab dalam proses pembangunan fisik; Tim 3 (4 orang) sebagai tim dokumentasi, perizinan, dan humas yang bertugas mendokumentasikan kegiatan, membuat perizinan, dan berkomunikasi dengan masyarakat.
Tahap ketiga adalah persiapan bahan dan pembuatan fasilitas tempat sampah. Salah satu bentuk kegiatan adalah pemanfaatan ember cat bekas menjadi tong sampah kreatif. Proses pembuatannya meliputi: 1) Pengumpulan ember bekas dari warga; 2) Pencucian ember menggunakan air sabun dan sikat kawat untuk menghilangkan sisa cat dan kotoran; 3) Pengamplasan permukaan luar ember agar cat baru dapat menempel dengan baik; 4) Pengecatan dasar menggunakan cat putih sebanyak 2 lapis; 5) Pengecatan motif kreatif seperti gambar bunga, pemandangan, karakter kartun, dan tulisan edukasi; 6) Finishing menggunakan pilox clear agar tahan terhadap hujan dan panas; 7) Pengeringan selama 1 hari di bawah sinar matahari. Proses ini dilakukan di halaman Posko KKN selama 5 hari. Selain itu, dilakukan pembuatan bak sampah permanen ukuran 100cm x 80cm x 80cm yang kemudian ditempatkan pada beberapa lokasi di Desa Latak. Proses pembuatan bak sampah meliputi penggalian pondasi sedalam 20 cm, pemasangan batu bata, plester, dan pengacian. Proses pembuatan dilakukan secara bertahap sesuai kondisi lapangan dan ketersediaan tenaga selama 10 hari.
Tahap keempat adalah penempatan fasilitas tempat sampah. Tempat sampah ditempatkan di Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, Dusun Jabung, SDN 2 Latak, dan SDN 3 Latak. Dalam jadwal kegiatan, pembuatan tempat sampah juga tercatat di beberapa titik Dusun Latak sebanyak empat titik, Dusun Jabung sebanyak dua titik, Dusun Banyu Sumurup sebanyak satu titik, dan Dusun Rapah sebanyak satu titik. Penempatan dilakukan secara gotong royong dengan warga pada tanggal 23 dan 24 Agustus 2026 dengan menggunakan gerobak dan pick-up milik warga.
Tahap kelima adalah peresmian fasilitas tempat sampah yang dilakukan pada 26 Agustus 2026. Peresmian dilakukan bersamaan dengan kegiatan berpamitan kepada kepala desa dan perangkat Desa Latak di Balai Desa Latak. Acara peresmian dihadiri oleh Kepala Desa, perangkat desa, Kepala Dusun, Kepala SDN 2 dan SDN 3 Latak, tokoh masyarakat, dan seluruh mahasiswa KKN Kelompok 60. Acara meliputi sambutan Kepala Desa, sambutan Ketua KKN, penyerahan simbolis tong sampah kepada perwakilan dusun dan sekolah, penandatanganan berita acara serah terima, dan doa bersama. Setelah peresmian, dilakukan pemasangan banner edukasi di dekat bak sampah.
Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melihat keterlaksanaan kegiatan, keterlibatan mahasiswa dan masyarakat, serta hasil berupa tersedianya tong dan bak sampah pada lokasi yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan dengan metode observasi setelah 3 hari penempatan dan wawancara singkat dengan warga sekitar lokasi. Dalam pelaksanaan ditemukan kendala berupa keterbatasan waktu, tenaga, dan kondisi tempat. Kendala tersebut diatasi melalui pembagian tugas antaranggota kelompok, kerja sama dengan masyarakat, serta pengaturan waktu pelaksanaan di sore hari setelah warga pulang dari sawah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Permasalahan Lingkungan
Hasil observasi awal dan wawancara dengan perangkat Desa Latak menjadi dasar dalam penyusunan program kerja KKN. Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 30 Juli – 2 Agustus 2026, ditemukan bahwa di Dusun Latak terdapat 3 titik tumpukan sampah liar, di Dusun Sumurup terdapat 2 titik, di Dusun Ngrapah 2 titik, dan di Dusun Jabung 3 titik. Sampah yang mendominasi adalah sampah plastik kemasan makanan, plastik kresek, dan botol plastik. Selain itu, kurangnya ketersediaan tempat sampah ditetapkan sebagai salah satu permasalahan yang perlu ditangani. Saat itu hanya terdapat 2 tempat sampah permanen yang kondisinya sudah rusak dan tidak layak pakai. Sasaran yang ditetapkan adalah warga Desa Latak dan pendatang dari luar desa yang beraktivitas di pasar pagi dan sekolah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian masalah lingkungan membutuhkan sarana pendukung yang dapat digunakan secara langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, program GERAK BERSERI dirancang dalam bentuk kegiatan yang menghasilkan fasilitas fisik sekaligus melibatkan masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan fisik, tetapi juga pada edukasi dan perubahan perilaku.
Pemanfaatan Ember Cat Bekas
Salah satu kegiatan utama GERAK BERSERI adalah pemanfaatan ember cat bekas menjadi tong sampah kreatif. Kegiatan ini merupakan bentuk pemanfaatan kembali barang yang masih dapat digunakan yang sejalan dengan prinsip reuse dalam konsep 3R. Dari 15 ember yang berhasil dikumpulkan, 10 ember dijadikan tong sampah untuk sekolah dan pos ronda, sedangkan 5 ember lainnya dijadikan pot bunga untuk mempercantik balai desa sebagai contoh lain pemanfaatan barang bekas.
Pemanfaatan barang bekas dalam kegiatan ini memberikan manfaat berupa pemberian fungsi baru pada barang yang sebelumnya tidak digunakan. Ember bekas yang sebelumnya bernilai Rp 0,- setelah dimodifikasi menjadi tong sampah kreatif memiliki nilai estetika dan nilai guna. Hasil pemanfaatan tersebut kemudian digunakan sebagai sarana pendukung pengelolaan sampah. Kegiatan ini juga memperkenalkan praktik sederhana pemanfaatan kembali barang yang masih memiliki nilai guna kepada masyarakat, terutama ibu-ibu PKK yang antusias melihat proses pengecatan.
Proses pengecatan tong sampah kreatif juga menjadi media edukasi yang menarik. Mahasiswa KKN melibatkan anak-anak SDN 2 Latak dalam proses pengecatan pada tanggal 15 Agustus 2026. Anak-anak diajak untuk menggambar dan menulis pesan tentang kebersihan. Hal ini bertujuan untuk menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. Salah satu guru SDN 2 Latak, Ibu Siti, menyampaikan bahwa anak-anak menjadi lebih semangat membuang sampah setelah melihat tong sampah yang mereka cat sendiri.
Pembuatan dan Penempatan Bak Sampah
Selain pemanfaatan ember cat bekas, kegiatan GERAK BERSERI juga mencakup pembuatan dan penempatan bak sampah permanen. Berdasarkan laporan kegiatan, pembuatan dilakukan pada 8–23 Agustus 2026. Lokasi yang menjadi sasaran meliputi beberapa dusun dan lingkungan sekolah di Desa Latak. Bak sampah permanen dibuat dengan ukuran yang lebih besar agar dapat menampung sampah dalam jumlah banyak dan tidak mudah dipindahkan.
Dalam jadwal kegiatan, pada 22 Agustus 2026 tercatat kegiatan pembuatan tempat sampah di Dusun Latak sebanyak empat titik, Dusun Jabung sebanyak dua titik, Dusun Banyu Sumurup sebanyak satu titik, dan Dusun Rapah sebanyak satu titik. Kegiatan pembuatan tempat sampah kemudian dilanjutkan pada 23 dan 24 Agustus 2026 dengan proses finishing dan pengecatan. Penempatan bak sampah di Dusun Latak sebanyak 4 titik didasarkan pada pertimbangan bahwa Dusun Latak merupakan pusat desa dan memiliki kepadatan penduduk paling tinggi serta menjadi lokasi pasar pagi. Titik yang dipilih antara lain depan Balai Desa, pertigaan jalan utama, dekat Masjid Jami’, dan dekat warung pasar pagi.
Di Dusun Sumurup, bak sampah ditempatkan dekat pos ronda dan dekat sungai kecil yang sering menjadi tempat pembuangan sampah liar, dengan harapan warga akan membuang sampah ke bak sampah bukan ke sungai. Di SDN 2 Latak dan SDN 3 Latak, penempatan tong sampah kreatif dari ember cat bekas bertujuan untuk memberikan edukasi sejak dini kepada anak-anak sekolah dasar. Tong sampah dicat dengan warna cerah dan tulisan menarik agar anak-anak tertarik untuk membuang sampah pada tempatnya.
Penempatan fasilitas di beberapa titik dilakukan untuk menjangkau lingkungan masyarakat dan fasilitas pendidikan. Berdasarkan tabel program kerja, lokasi kegiatan mencakup Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, Dusun Jabung, SDN 2 Latak, dan SDN 3 Latak. Jarak antar bak sampah diatur sekitar 300-500 meter agar terjangkau oleh warga.
Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan
Partisipasi menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan GERAK BERSERI. Program ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa KKN, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat. Kegiatan memperoleh partisipasi dari mahasiswa KKN dan masyarakat Desa Latak. Tingkat partisipasi masyarakat dapat dilihat dari kehadiran warga dalam kegiatan gotong royong pembangunan bak sampah yang mencapai 20-25 orang setiap harinya.
Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan gotong royong penting karena masyarakat merupakan pihak yang akan menggunakan dan merawat fasilitas yang telah dibuat. Melalui keterlibatan sejak proses pembuatan, masyarakat menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah lingkungan dan merasa memiliki fasilitas tersebut. Selama proses pembangunan, warga tidak hanya membantu tenaga, tetapi juga menyumbangkan material seperti pasir, batu, dan menyediakan konsumsi berupa teh dan makanan ringan.
Budaya gotong royong yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Desa Latak menjadi salah satu potensi yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Dengan memanfaatkan potensi tersebut, kegiatan dapat dilaksanakan melalui kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat. Salah satu tokoh masyarakat Dusun Ngrapah, Pak Slamet, mengatakan bahwa kegiatan seperti ini harus sering dilakukan agar desa menjadi lebih maju dan warganya semakin peduli.
Kendala dan Upaya Penyelesaian
Pelaksanaan GERAK BERSERI menghadapi beberapa kendala, yaitu keterbatasan waktu, tenaga, dan kondisi tempat dalam proses pembuatan serta penempatan bak sampah. Kendala waktu terjadi karena pelaksanaan KKN yang berbarengan dengan musim panen, sehingga banyak warga yang sibuk di sawah pada siang hari dan hanya bisa membantu pada sore hari. Keterbatasan tenaga juga dirasakan karena jumlah mahasiswa hanya 15 orang sedangkan lokasi yang harus dikerjakan cukup banyak dan tersebar. Kendala kondisi tempat seperti hujan deras pada tanggal 19 Agustus 2026 sempat menghambat proses pengeringan cat dan pembangunan bak sampah.
Untuk mengatasi kendala tersebut, mahasiswa melakukan pembagian tugas antaranggota kelompok yang lebih terstruktur dan membuat jadwal piket harian. Selain itu, kerja sama dengan masyarakat digunakan untuk mendukung proses pembuatan dan penempatan fasilitas. Mahasiswa juga melakukan penyesuaian jadwal dengan mengikuti waktu luang warga, yaitu bekerja mulai jam 15.30 WIB setelah warga pulang dari sawah hingga jam 17.30 WIB. Untuk kendala hujan, proses pengecatan dilakukan di dalam posko atau teras rumah warga yang memiliki atap. Pengaturan waktu juga dilakukan agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai dengan rencana.
Hasil Pelaksanaan Program
Program GERAK BERSERI telah dilaksanakan melalui dua bentuk utama, yaitu pemanfaatan ember cat bekas menjadi tong sampah kreatif dan pembuatan serta penempatan bak sampah di lingkungan Desa Latak. Laporan kegiatan menyatakan bahwa kegiatan telah terlaksana dengan baik dan memperoleh partisipasi dari mahasiswa KKN serta masyarakat setempat. Secara kuantitatif, program berhasil menghasilkan 15 tong sampah kreatif dan 8 bak sampah permanen yang telah ditempatkan di 8 titik strategis.
Hasil kegiatan berupa tersedianya fasilitas tempat sampah yang dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan sampah di lingkungan desa. Selain hasil berupa fasilitas fisik, proses pelaksanaan juga memberikan ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan. Terjadi peningkatan kesadaran warga yang terlihat dari berkurangnya sampah berserakan di sekitar lokasi yang telah dipasang bak sampah selama 3 hari pengamatan terakhir. Anak-anak SD juga terlihat lebih antusias membuang sampah pada tempatnya karena tong sampah yang berwarna-warni.
Kegiatan peresmian pada 26 Agustus 2026 menjadi tahap akhir dari rangkaian program. Peresmian dilakukan sebelum mahasiswa menyelesaikan masa KKN di Desa Latak. Peresmian dilakukan secara simbolis dengan pengguntingan pita dan penyerahan berita acara. Keberlanjutan program menjadi hal yang perlu diperhatikan setelah kegiatan KKN selesai karena fasilitas yang telah dibuat membutuhkan pemanfaatan dan pemeliharaan agar tetap dapat digunakan. Kepala Desa Latak dalam sambutannya berkomitmen untuk melanjutkan program ini dengan menganggarkan perawatan dan pengangkutan sampah melalui dana desa tahun 2027.


KESIMPULAN
Program GERAK BERSERI (Gerakan Bersih, Sehat, dan Asri) merupakan kegiatan lingkungan KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang Kelompok 60 yang dilaksanakan sebagai respons terhadap permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal dan keterbatasan ketersediaan tempat sampah di Desa Latak. Program dilaksanakan melalui pemanfaatan ember cat bekas menjadi tong sampah kreatif serta pembuatan dan penempatan bak sampah pada beberapa titik di lingkungan desa dan sekolah.
Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan mahasiswa KKN dan masyarakat Desa Latak. Pelaksanaan kegiatan berlangsung pada 8–23 Agustus 2026 untuk proses pembuatan dan 26 Agustus 2026 untuk peresmian. Lokasi kegiatan meliputi Dusun Latak, Dusun Sumurup, Dusun Ngrapah, Dusun Jabung, SDN 2 Latak, dan SDN 3 Latak.
Hasil kegiatan berupa tersedianya tong sampah kreatif dari pemanfaatan ember cat bekas sebanyak 15 buah serta bak sampah permanen sebanyak 8 buah yang dibuat dan ditempatkan pada beberapa lokasi. Kegiatan juga menjadi sarana kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat melalui gotong royong yang melibatkan 20-25 warga setiap harinya. Program ini terbukti dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam penyediaan sarana kebersihan sekaligus mendorong kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
Agar manfaat program dapat berkelanjutan, fasilitas yang telah dibuat perlu digunakan, dijaga, dan dirawat oleh masyarakat serta didukung oleh pemerintah desa. Diperlukan komitmen bersama antara pemerintah desa, masyarakat, dan pihak sekolah untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pengangkutan sampah secara rutin. Program GERAK BERSERI diharapkan dapat menjadi pemicu awal bagi terciptanya Desa Latak yang bersih, sehat, dan asri serta dapat direplikasi di desa-desa lain di Kecamatan Godong.
SARAN
- Pemerintah Desa Latak perlu membuat jadwal rutin pengangkutan sampah dari bak sampah menuju TPS atau TPA terdekat dan mengalokasikan anggaran untuk perawatan fasilitas.
- Perlu diadakan sosialisasi lanjutan tentang pemilahan sampah organik dan anorganik kepada warga melalui pertemuan PKK dan karang taruna.
- Pihak sekolah SDN 2 dan SDN 3 Latak dapat mengintegrasikan program kebersihan dalam kegiatan Jumat Bersih dan lomba kebersihan kelas.
- KKN periode selanjutnya dapat melanjutkan program dengan pembuatan komposter sederhana dari sampah organik dan bank sampah desa.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU PANDUAN PELAKSANAAN KKN KELAS REG AGUSTUS 2026 – Full Cover. (n.d.).
Bekas, P. B., Bahan, S., Tong, P., Ramah, S., Di, L., Indah, N., Siregar, R. S., & Rangkuti, D. A. (2021). The Pemanfaatan Barang Bekas Sebagai Bahan Pembuatan Tong Sampah Ramah lingkungan Di kelurahan Nelayan Indah: Pemanfaatan, Barang Bekas, Tong Sampah, Ramah Lingkungan. Jurnal Mitra Prima, 3(1), 34–37. https://doi.org/10.34012/MITRA_PRIMA.V3I1.1623
JDIH KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN 2022. (n.d.). Retrieved September 18, 2026, from https://jdih.kehutanan.go.id/new2/home/sop_display/1
Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D – 2023. (n.d.). Retrieved September 18, 2026, from https://elibrary.nusamandiri.ac.id/readbook/240077/metode-penelitian-kuantitatif-kualitatif-dan-r-d.html
Syaila, J. P., Al-Hafidz, A., Fajariyah, A. R., Syafitri, A., & Maghfiroh, M. (2025). Pemanfaatan Barang Bekas (Tong Cat) Menjadi Sarana Pemilahan Sampah Organik dan Nonorganik di Lingkungan Balai Desa Pamaroh. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 3(7), 3392–3399. https://doi.org/10.59837/JPMBA.V3I7.2937
World health statistics 2022: monitoring health for the SDGs, sustainable development goals. (2022).