• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM MENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA

Editor Redaksi
6 Juli 2024
in Artikel, Makalah

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi UTS Semester Genap TA 2023/2024
Mata Kuliah : MSDM Strategik
Dosen Penguji : Dr. Yohny Anwar, MM, MH

Disusun oleh :
Hairul Amin Ritonga S.Sos
(2315300026)

FAKULTAS PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI
TAHUN 2023/2024

KATA PENGANTAR
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah dan kemudahan sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah berjudul “Kepemimpinan Transformasional” dalam mata kuliah Kepemimpinan Strategis Pendidikan.

Penulis menyadari bahwa ada kekurangan dalam proses penyusunan makalah ini, dan dengan demikian penulis mengharapkan masukan atau kritik dari pembaca agar makalah ini dapat menjadi lebih baik.

Stabat, 05 Juli 2024
Hairul Amin Ritonga, S.Sos

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………….1
A. DAFTAR ISI……………………………2
B. LATAR BELAKANG…………………..3
C. PEMBAHASAN……………………………5
D. KESIMPULAN DAN SARAN………..13
E. DAFTAR PUSTAKA……………………..15

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan Indonesia masih menempati posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan banyak negara lain. Di tingkat ASEAN, Indonesia berada di peringkat kelima setelah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Secara global, Indonesia menempati peringkat 108 dengan skor 0,6031. Menurut data dari PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018, Indonesia menempati peringkat ke-74 dalam literasi, ke-73 dalam matematika, dan ke-71 dalam sains dari total 79 negara yang berpartisipasi dalam evaluasi kemampuan siswa dalam bidang-bidang tersebut.

Penilaian yang dilakukan oleh PISA dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. PISA menekankan keterampilan yang esensial untuk abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreatif, berbasis riset, inisiatif, informatif, berpikir sistematis, komunikatif, dan reflektif. Menurut PISA, sejumlah negara (21 negara) belum sepenuhnya mengintegrasikan kurikulum yang mempersiapkan siswa untuk tuntutan masa depan industri global, terutama dalam konteks pembelajaran matematika. Pemerintah Indonesia telah merespons hasil penilaian PISA dengan melakukan beberapa perubahan dalam komponen pendidikan.

Kurikulum, peningkatan kompetensi guru, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah telah menjadi fokus perbaikan pemerintah. Namun, upaya-upaya ini belum sepenuhnya berhasil meningkatkan hasil penilaian PISA secara signifikan. Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya peringkat pendidikan Indonesia adalah kualitas guru. Guru tidak hanya diharapkan menguasai keempat kompetensi tersebut, tetapi juga diharapkan mampu menjalankan tanggung jawabnya sebagai pendidik dengan baik. Mengimbangi arus perkembangan Iptek untuk dapat melakukan pembelajaran berbasis media teknologi dan dapat melakukan inovasi dan kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa tugas guru meliputi mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik di semua tingkat pendidikan formal, mulai dari anak usia dini hingga pendidikan menengah. Namun, guru tidak hanya harus menjalankan berbagai tugas tersebut tanpa memperhatikan kesejahteraan baik dalam hal materi maupun non-materi. Kepuasan dalam menjalankan tugas menjadi faktor kunci dalam kinerja dan produktivitas seorang guru, mengingat sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja dalam mendidik peserta didik di sekolah. Oleh karena itu, untuk memenuhi tugas-tugas mereka dengan baik, penting bagi guru untuk merasakan kepuasan kerja yang tinggi. Tanpa itu, mereka mungkin tidak dapat melaksanakan tujuh tugas guru tersebut dengan maksimal.

Kepuasan kerja dan ketidakpuasan guru bekerja dapat berdampak pada diri individu guru yang bersangkutan, maupun kepada organisasi dimana guru melakukan aktivitas dan tugasnya.11 Untuk mencapai kepuasan tersebut ada beberapa hal yang dapat mempengaruhinya. Menurut Robbins dan Judge beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kepuasan kerja, yaitu meliputi pekerjaan itu sendiri (work itself), pengawasan (supervision), rekan kerja (co-worker), gaji (pay), dan promosi (promotions).12 Faktor penting yang mempengaruhi kepuasan kerja guru adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah.13 Pada penjelasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku-perilaku kepala sekolah dalam memberikan pengaruh dapat menimbulkan persepsi yang pada akhirnya berdampak pada perilaku guru. Apabila perilaku-perilaku yang ditunjukan dipersepsi positif oleh guru, maka juga akan menimbulkan sikap positif pula pada organisasi. Demikian pula sebaliknya, jika perilaku yang ditunjukan dinilai negatif atau tidak sesuai dengan harapan-harapannya, maka akan menyebabkan munculnya sikap negatif dari guru.

Secara umum, gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi dua, yaitu orientasi pada tugas dan orientasi pada anggota. Namun, dengan perkembangan sosial yang terus berubah, gaya kepemimpinan mengalami pengembangan lebih lanjut ke arah kepemimpinan transaksional, kepemimpinan transformasional, dan kepemimpinan visiner. Di antara ketiganya, kepemimpinan transformasional menjadi fokus utama dalam tulisan ini. Tulisan ini akan menjelaskan secara komprehensif konsep kepemimpinan transformasional, termasuk pengertian, dimensi-dimensi, karakteristik, serta prinsip-prinsip yang mendasarinya. Prinsip kepemimpinan transformasional dan cara mendidik dan membina seorang pempin untuk menumbuhkan sifat kepemimpinan transformasional.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Kepemimpinan Transformasional
a. Kepemimpinan
Kepemimpinan, atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai “leadership”, umumnya diartikan sebagai hubungan yang erat antara seorang individu dan kelompok manusia yang memiliki kepentingan yang sama. Kepemimpinan sangat penting dalam menentukan keberhasilan sebuah organisasi karena melibatkan perilaku seorang pemimpin dalam mempengaruhi para pegawainya agar bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kepemimpinan berkaitan dengan peran seorang pemimpin atau cara seseorang memimpin. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan melibatkan individu yang dianggap memiliki kemampuan atau keahlian yang lebih baik daripada rata-rata pegawai lainnya dalam organisasi, dan sangat mempengaruhi keberhasilan organisasi yang dipimpinnya.

1) Boedjo Sujanto
Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.

2) Abdul Azis Wahab
Kepemimpinan merupakan inti manajemen yakni sebagai motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat dalam organisasi. Sukses tidaknya suatu organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan tergantung cara-cara mempimpin yang dipraktikan orang-orang atasan

3) P. Siagan Hasibuan
Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian situasi tertentu

4) Ekosiswoyo
Kepemimpinan adalah pengaruh sedikit demi sedikit, pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan- pengarahan rutin organisasi.

5) Deasy Racmawati
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai Bersama (Shared Goal).
Berdasarkan berbagai pandangan mengenai kepemimpinan, dapat disimpulkan bahwa meskipun definisinya bervariasi sesuai sudut pandang penulisnya, ada kesamaan dalam intinya. Secara umum, kepemimpinan mengacu pada kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bertindak dan berperilaku sesuai dengan yang diinginkan oleh pemimpin tersebut. Dengan kata lain, kepemimpinan adalah upaya untuk memengaruhi individu atau kelompok agar mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

b. Kepemimpinan Transformasional
Pada tahun 1985, Bass mengenalkan konsep kepemimpinan transformasional, yang menunjukkan perbedaan dengan kepemimpinan transaksional. Kepemimpinan transformasional melibatkan kemampuan pemimpin untuk menginspirasi anggota timnya untuk mengutamakan kepentingan organisasi daripada kepentingan pribadi mereka sendiri. Pemimpin transformasional juga memiliki dampak yang mendalam pada anggota tim mereka.

Pergantian anggota dan peningkatan produktivitas dengan tingkat kepuasan anggota yang lebih tinggi. Pada penjelasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan transformasional memandang pemimpin sebagai katalis untuk pendekatan visioner sambil mempertahankan pandangan strategis tentang apa yang perlu harus dilakukan. Berikut beberapa pendapat mengenai pengertian kepemimpinan transformasional yang tertera pada buku Kepemimpinan Transformasional yang dikarang oleh Suriagri, yaitu :

1) Danim
Kepemimpinan transformasional berasal dari kata “to transform” yang berarti mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk yang berbeda, misalnya mentransformasi visi menjadi realita, potensi aktual, laten menjadi manifes dan sebagainya.

2) Kartono
Kepemimpinan transformasional adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.

3) Komariah dan Triatna
Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru. Kepemimpinan transformasional pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik dari apa yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau keyakinan diri bawahan yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.

4) Swandari
Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seseorang manajer bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru. Kepemimpinan transformasional pada prinsipnya memotivasi bawahan untuk berbuat lebih baik dari apa yang bisa dilakukan, dengan kata lain dapat meningkatkan kepercayaan atau keyakinan diri bawahan yang akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja.

Pada beberapa penjelasan sebelumnya dari menurut para ahli mengenai kepemimpinan transformasional dapat disimpulkan bahwasanya kepemimpinan transformasional dapat meningkatkan secara signifikan suatu kegiatan lembaga karena bentuk kepemimpinan yang memupuk tingkat tinggi pada motivasi intrinsik, kepercayaan, komitmen, dan juga loyalitas dari anggotanya, sehingga atribut yang ada tertanam dalam kepemimpinan manajemen diri. Akan tetapi, kepemimpinan transformasional dapat ditingkatkan ketika ditambahkan ke kepemimpinan manajemen diri. Pemimpin transformasional harus mampu untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target yang telah ditentukan. Sumber daya dimaksud tersebut berupa sumber daya manusia, fasilitas, dana, dan faktor eksternal organisasi.

2. Dimensi-Dimensi Kepemimpinan Tranformasional
Menurut Bass ada beberapa dimensi dalam gaya kepemimpinan transformasional, yaitu sebagai berikut

a. Idealized influence (charisma)
Dimana para pemimpin dikagumi, dihormati, dan juga dipercaya. Pengikut meniru pemimpin meraka dan mengidentifikasikan bersama mereka. Pemimpin berbagi risiko dengan pengikut dan berperilaku dalam acara yang sejalan dengan etika, prinsip, dan nilai yang mendasarinya.

b. Inspirational motivation
Dimana para pemimpin berperilaku dengan cara yang memotivasi orang-orang di sekitar mereka, memberikan makna untuk semua aktivitas yang mereka lakukan. Mereka mengatur pribadi yang menantang tujuan. Semangat individu dan tim dibangkitkan. Kelompok menunjukkan antuasiasme dan optimisme. Pemimpin mendorong anggotanya untuk membayangkan keadaan masa depan yang menarik.

c. Intellectual stimulation
Dimana para pemimpin merangsang upaya anggotanya untuk menjadi inovatif dan kreatif, dengan mempertanyakan asumsi, membingkai ulang masalah, dan juga mendekati situasi lama dengan cara baru. Tidak ada kritik publik terhadap individu tersebut atas kesalahan anggota. Ide baru dan solusi kreatif untuk masalah adalah didorong.

d. Individualized consideration
Dimana para pemimpin memperhatikan kebutuhan individu anggotanya, bertindak sebagai pelatih atau mentor dengan membina anggota. Anggotanya diberdayakan dengan memberikan peluang pembelajaran baru diciptakan dalam iklim organisasi yang mendukung. Perbedaan individu, dalam hal kebutuhan dan keinginan, ditangani dan diakui.

3. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Transformasional
Menurut Ress, E terdapat prinsip-prinsip pada seorang pemimpin transformasional yaitu :

a. Simplifikasi
Keberhasilan kepemimpinan dimulai dengan memiliki visi yang menjadi panduan dan tujuan bersama bagi organisasi. Kemampuan untuk mengkomunikasikan visi secara jelas, praktis, dan secara transformasional penting untuk menentukan arah dan implementasi organisasi ke depan.

b. Motivasi
Seorang pemimpin transformasional memiliki kemampuan untuk menciptakan sinergi di dalam organisasi, yang berarti dia mampu mengoptimalkan, memotivasi, dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Secara praktis, ini dapat berarti memberikan tugas atau pekerjaan yang sangat menantang, memberikan peluang kepada pengikut untuk terlibat dalam proses kreatif seperti memberikan masukan atau mengambil bagian dalam pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah. Dengan demikian, hal ini juga akan memberikan nilai tambah bagi pengikutnya sendiri.

c. Fasilitasi
Pemimpin transformasional harus memfasilitasi pembelajaran yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok, atau pun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual dari setiap orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut.

d. Mobilitasi
Pemimpin transformasional dapat mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya dalam mencapai visi dan tujuan. Pemimpin transformasional akan selalu mengupayakan pengikut yang penuh dengan tanggung jawab.

4. Karekter Kepemimpinan Transformasional
Adapun karakteristik kepemimpinan transformasional menurut safaria terdapat 4 karakter, yaitu sebagai berikut :

a. Idealized influance
Idealized influence mempunyai makna bahwa seorang pemimpin transformasional harus kharisma yang mampu “menyihir” bawahan untuk bereaksi mengikuti pimppinan. Dalam bentuk konkrit, kharisma ini ditunjukan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah diambil, dan menghargai bawahan. Dengan kata lain, pemimpin

b. Insprational motivation
Inspirational motivation berarti karakter seorang pemimpin mampu menerapkan standar tersebut. Karakter seperti ini mampu membangkitkan optimisme dan atuasime yang tinggi dari para bawahan. Dengan kata lain, pempimpin transformasional senatiasa memberikan inspirasi dan memotivasi bawahannya.

c. Intelctual Stimulation
Intellectual stimulation karakter seorang pemimpin Transformasional yang mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional. Selain itu, karakter ini mendorong para bawahan untuk menemukan cara baru yang lbih efektif dalam menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk selalu kreatif dan inovatif.

d. Individualized consideration
Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin mampu memahami perbedaan individual para bawahannya. Dalam hal ini, pemimpin transformasional mau dan mampu untuk mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan. Selain itu, seorang pemimpin transformasional mampu melihat potensi prestasi dan kebutuhan berkembang para bawahan serta memfasilitasinya.

C. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Kepemimpinan transformasional adalah salah satu gaya kepemimpinan. Pemimpin transformasional proaktif, karena mereka meningkatkan kesadaran anggota dan membantu mereka untuk mencapai tujuan yang luar biasa. Seorang kepala sekolah mungkin memiliki lebih dari satu gaya kepemimpinan dan lebih suka menggunakan gaya kepemimpinan yang berbeda untuk situasi yang berbeda.

Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menciptakan perubahan yang mendasar dan dilandasi oleh nilai-nilai agama, sistem dan budaya untuk menciptakan inovasi dan kreativitas pengikutnya dalam rangka mencapai visi yang telah ditetapkan. Kepemimpinan yang mentransformasi dapat dipandang sebagai proses mempengaruhi, pada tingkat mikro mempengaruhi antara para individu dan di tingkat makro merupakan usaha memobilisasi kekuasaan untuk mengubah sistem sosial dan memperbaiki lembaga-lembaga. Pada kepemimpinan transformasional memiliki beberapa dimensi, yaitu pertama idealized influence, pengikut meniru pemimpin mereka dan mengidentifikasi bersama mereka. Kedua inspirational motivation, pemimpin berperilaku dengan cara yang memotivasi orang-orang di sekitar mereka, memberikan makna untuk semua aktivitas yang mereka lakukan. Ketiga intellectual stimulation, pemimpin merangsang upaya anggotanya untuk menjadi inovatif dan kreatif, dengan mempertanyakan asumsi, membingkai ulang masalah, dan mendekati situasi lama dengan cara baru. Keempat individualized consideration, pemimpin memperhatikan kebutuhan setiap individu anggotanya, bertindak sebagai pelatih atau mentor.
Ada empat karakteristik utama dalam kepemimpinan transformasional yang meliputi: pengaruh ideal (idealized influence), motivasi inspirasional (inspirational motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan pertimbangan individual (individualized consideration). Kepemimpinan transformasional mencakup empat karakteristik utama, yaitu pengaruh ideal, motivasi yang menginspirasi, stimulasi intelektual, dan perhatian individual terhadap anggota tim.

2. Saran
Dalam melaksanakan kepemimpinan, penting untuk memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil baik atau buruk dalam menghadapi masalah. Oleh karena itu, penulis menyarankan untuk tidak hanya mengadopsi satu jenis kepemimpinan saja, tetapi memanfaatkan berbagai jenis kepemimpinan dengan syarat bahwa setiap jenis kepemimpinan harus menerapkan sikap-sikap yang positif dari masing-masing. Terutama, penulis mengusulkan agar kepemimpinan transformasional dijadikan kebijakan utama dalam menerapkan strategi kepemimpinan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Azis, Wahab, Anatomi Organisasi Kepemimpinan Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2008).
Danim, S., Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok, (Jakarta, Rineka Cipta Utama, 2005).
Deasy Rachmawati, Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Guru dengan Kepuasan Kerja, Industrial Engineering Journal 7, no. 2 (2018): 18–24
Ekosiswoyo, Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Efektif Kunci Pencapaian Kualitas Pendidikan, Jurnal Ilmu Pendidikan 14, no. 2 (2007): 76–82.
Rees, E., Seven Principles of Transformational Leadership: Creating A Synergy of Energy, 2007. Yang diterjemahkan oleh Safaria, T. pada buku nya yang berjudul Kepemimpinan Transformasional, 2019.
Robbins, Stephen P., Timothy A. Judge. Organizational Behavior. 15 ed. New York: Pearson Education nc,. Yang diterjemahkan oleh Suriagri pada buku nya, Kepemimpinan Transformasional, 2020.
Undang-undang No. 14 Tahun 2005, Guru dan Dosen, Pasal 14 ayat 2 dan Pasa l 15 ayat 1
Undang-undang No. 14 Tahun 2005, Guru dan Dosen, Pasal 24 ayat 5

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO

Editor Redaksi
27 September 2026
0

Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa...

thumb

Analisis Yuridis Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 tentang Batas Usia Calon Presiden dan Wakil Presiden RI

Editor Nadia
23 September 2026
0

Fine Putry, 231010200393 [email protected] ABSTRACT This study examines the Constitutional Court Decision Number 90/PUU-XXI/2023 regarding the minimum age requirement for...

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

GERAK BERSERI :  Pemanfaatan Ember Cat Bekas dan  Aksi Gotong Royong Pembuatan Bak Sampah Permanen dari Herbel Bersama Masyarakat Desa Latak

Editor Redaksi
21 September 2026
0

GERAK BERSERI: Transforming Used Paint Buckets and Collaborative Construction of Permanent Waste Bins from Hebel Blocks with the Community of...

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Pemberdayaan Masyarakat Desa Glapan melalui Peningkatan Kesadaran Kesehatan dan Pendampingan Pendidikan bagi Anak Sekolah

Editor Redaksi
17 September 2026
0

Community Empowerment in Glapan Village through Increased Health Awareness and Educational Assistance for School-Aged Children Andhika Setyo P.1, Iqbal Maulana...

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Analisis Yuridis Mekanisme Perampasan Aset dalam Sistem Hukum Indonesia

Editor Redaksi
9 September 2026
0

JURNAL HUKUM Volume 1, September 2026 Agra Maulana Fakultas Hukum Universitas Terbuka Bandung 24.1 [email protected] Abstrak Perampasan aset ialah alat...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.