• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Kenaikan Beras Terjadi Lagi

Editor Redaksi
15 Maret 2024
in Kolom Opini

JurnalPost.com – Curhatan dari salah seorang petani Bandung karena susah dapat pupuk saat harga beras tinggi. Apep wahyudi (40), pihaknya mengatakan harga beras saat ini memang tengah melambung tinggi dengan harga per kg nya 17 ribu. Kenaikan tersebut dibarengi dengan harga gabah yang tengah naik senilai 900 ribu per satu kuintal. Dia menduga kenaikan beras tersebut disebabkan lahan sawah yang sudah berkurang. Kata dia, lahan tersebut saat ini banyak digunakan untuk dijadikan permukiman.

“Jadi mungkin stok beras atau padinya jadi berkurang,” jelasnya. Apep mengungkapkan saat ini pun kesulitan dalam membeli pupuk. Menurutnya yang memiliki pupuk harus yang memiliki kartu tani. “Sedangkan yang punya kartu itu yang punya sawah-sawah besar, belum lagi dengan pembelian pupuk seharga 130 ribu per kg harus dibatas” ucapnya.

Lahan sawah punyanya digarap oleh orangtuanya sejak kecil, lalu dari hasil sawah tersebut dirinya kerap mendapatkan jatah, kadang bagiannya sama bos nya juga suka dijual lagi. ada juga yang disimpan sebagian. Jadi Alhamdulillah stok beras dirumah suka ada, tapi kalau pas masa gagal panen terpaksa saya harus beli,” Tuturnya (detikjabar 04/03/2024)

Dalam sistem kapitalis ini pemerintah sering mendatangkan keluhan dari para petani. Seperti contoh di bandung ini, sudah padat dengan pemukiman penduduk dibandingkan dengan banyaknya lahan sawah. Belum lagi dengan adanya beras import, harga beras lokal ikut turun. Tapi saat ini, beras import dan lokal juga sama sama naik harga. Dan pihak yang diuntungkan dalam hal import beras tentu saja bukan petani atau masyarakat, melainkan perusahaan import.
Pemiliknya yaitu para kapitalis.

Ini semua terjadi karna negara tidak menjalankan sebagaimana fungsinya, yang seharusnya negara mengeluarkan kebijakan yang mengayomi masyarakat.
Pada fakta nya negara hanya berperan sebagai regulator, oleh karena itu negara tidak bisa berbuat apa apa. Ini semua karena negara harus mengikuti sistem pasar ala kapitalis.

Hal ini berbeda dengan sistem islam, jika negara ini menerapkan sistem lslam secara kaffah. Negara akan memenuhi kebutuhan pangan rakyat, dan tidak mencari keuntungan baik dalam sistem perdagangan, pertanian, atau pun ekonomi. Negara akan menjaga dan mengatur pertanian untuk bisa mewujudkan ketahanan pangan.

Inilah sistem lslam yang satu satunya dapat menyelamatkan negeri dari cengkraman kapitalisme. Wallahualam bisaawab.

Penulis: Heny ganjar

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.