• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Dompet Digital Bikin Praktis, Tapi Kenapa Gen Z Makin Boros? Ini Sudut Pandang Akuntansi

Editor Redaksi
29 April 2026
in Kolom Opini
Dompet Digital
(Sumber: https://www.freepik.com)

Penulis: Aryanto
Universitas Pamulang

JurnalPost.com – Bayar kopi tinggal scan. Belanja online cukup klik. Transfer uang bisa sambil rebahan. Hidup Gen Z hari ini memang serba praktis berkat dompet digital dan fintech. Tapi di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan sederhana: kenapa makin mudah bayar, justru makin susah menabung?

Dari sudut pandang akuntansi, fenomena ini bukan sekadar gaya hidup tapi soal literasi keuangan dan “mental accounting”. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fintech yang tinggi pada Gen Z sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik (Rakadevasya & Widiantari, 2026). Akibatnya, uang terasa “tidak nyata” karena tidak lagi berbentuk fisik.

Hal ini diperkuat oleh studi lain yang menemukan bahwa Gen Z cenderung lebih konsumtif ketika menggunakan pembayaran digital dibandingkan uang tunai (Tandirapang, 2025). Kenapa? Karena secara psikologis, kita tidak “merasakan kehilangan” saat uang keluar dari dompet digital.

Dalam akuntansi, ini dikenal sebagai mental accounting. Cara seseorang mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda. Masalahnya, di era digital, batas antar “pos keuangan” jadi kabur. Uang jajan, uang tabungan, bahkan uang darurat bisa tercampur dalam satu aplikasi.

Lebih jauh lagi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa literasi akuntansi dan keuangan punya pengaruh langsung terhadap kualitas pengelolaan uang Gen Z (Hutabarat & Sitompul, 2026). Artinya, bukan teknologinya yang salah tapi cara kita menggunakannya.

Menariknya, dompet digital sebenarnya juga bisa jadi alat akuntansi sederhana. Fitur seperti riwayat transaksi, kategori pengeluaran, hingga budgeting bisa membantu pengguna lebih sadar ke mana uang mereka pergi. Sayangnya, fitur ini sering diabaikan lebih sering dipakai untuk bayar, bukan mengontrol.

Jadi, masalah utamanya bukan “Gen Z boros”, tapi Gen Z hidup di sistem keuangan yang berubah lebih cepat daripada cara mereka memahami uang.

Solusinya? Sederhana, tapi tidak mudah:

  • Perlakukan e-wallet seperti dompet nyata (ada batasnya)
  • Pisahkan uang berdasarkan tujuan (tabungan, kebutuhan, hiburan)
  • Biasakan cek laporan pengeluaran (ini versi modern dari pembukuan)

Akuntansi hari ini tidak lagi soal laporan perusahaan besar. Ia hadir di genggaman tangan di setiap notifikasi “pembayaran berhasil”. Dan bagi Gen Z, memahami ini bisa jadi pembeda antara hidup praktis atau hidup konsumtif tanpa kontrol.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

thumb

MEMPERBARUI JANJI KEBANGSAAN

Editor Redaksi
20 Agustus 2026
0

Oleh: Raja Oloan Tumanggor Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta; Alumnus Westfaelische Wilhelms-Universitaet Muenster, Jerman JurnalPost.com - Setiap 17 Agustus...

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Mengapa Kita Suka Dengar Streamer ‘Yapping’?

Editor Redaksi
10 Agustus 2026
0

Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com - Di era layar lipat dan media sosial yang serba...

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu?

Editor Redaksi
8 Agustus 2026
0

Penulis : Ghazi Muhammad Syarief Afiliasi : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Mengapa Menjadi Diri Sendiri Masih Menjadi Hal Tabu? Timeline...

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Gen Z di Tengah Toxic Workplace: Psikologi Positif sebagai Kunci untuk Bertahan

Editor Redaksi
5 Agustus 2026
0

Oleh: Christine Margareta Ratupayung Surbakti, Emanuel De Lura, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana JurnalPost.com...

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre   

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Tekanan Sosial:  Makna Kebebasan dalam Film Pride and Prejudice dari Perspektif Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre  

Editor Redaksi
4 Agustus 2026
0

SUMBER FOTO;https://iep.utm.edu/sartre-ex/https://www.primevideo.com/-/id/detail/0J7Y9UVDPJYTG6TM5CJB3KQAA7 Penulis: Rahma Ramadhani Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Kontak: @realrahma1910 (instagram) Pernahkah kamu merasa...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.