Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Essay
  3. QRIS dan Hilangnya Sensasi Membayar

QRIS dan Hilangnya Sensasi Membayar

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
11 Agustus 2026, 10.26 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
QRIS

Penulis: Zahra Sarifah Ainun

JurnalPost.com - Setelah kelas selesai, saya mampir ke kantin kampus untuk jajan batagor. Seperti biasa saya memesan seporsi batagor, menunggu sebentar sambil melihat penjualnya menggoreng dan memotong-motong dengan gerakan yang sudah dihafal luar kepala. Ketika pesanan sudah siap, saya tidak lagi merogoh dompet, menghitung lembaran uang, atau menunggu kembalian. Cukup buka aplikasi di ponsel, arahkan kamera ke kertas kotak-kotak hitam putih yang ditempel di meja kasir, tunggu sepersekian detik, lalu muncul notifikasi pembayaran berhasil. Selesai. Saya bahkan sudah mulai menyantap batagor sebelum benar-benar sadar bahwa saldo di e-wallet baru saja berkurang.

IKLAN

Pengalaman semacam ini pasti akrab bagi hampir semua orang. Membeli gorengan di pinggir jalan, belanja di pasar, jajan di warung, bahkan membayar seporsi ayam geprek di tempat langganan dekat kampus, semuanya kini bisa selesai dengan cara yang sama. Pindai kode QRIS, tunggu notifikasi, selesai. Tidak ada uang kertas berpindah tangan, tidak ada koin berdenting, tidak ada proses menghitung kembalian yang kadang bikin antrian sedikit lebih lama. Semua begitu lancar sampai kita jarang benar-benar berpikir apa sebenarnya yang sedang terjadi setiap kali melakukannya. Kita hanya tahu bahwa urusan sudah beres, tanpa sempat merasakan prosesnya secara utuh.

PPM UMBY
Baca Juga

Mahasiswa KKN-PPM UMBY Dorong Digitalisasi UMKM di Jalur Pendakian Wekas lewat QRIS dan Spanduk Usaha

Dulu membayar selalu melibatkan sesuatu yang bisa disentuh. Uang sebagai benda fisik yang dikeluarkan dari dompet, dihitung dengan jari, lalu diserahkan ke orang lain. Ada jeda kecil untuk sadar bahwa kita baru saja melepas hal yang bernilai demi mendapat hal lain. Kembalian yang diterima pun nyata, bisa digenggam, bisa dihitung ulang. Bahkan sekadar melipat uang kertas dan memasukkannya ke saku adalah kebiasaan kecil yang diam-diam menegaskan, ada nilai yang baru saja berpindah tangan.

Saat ini sebagian besar proses itu berubah jadi rangkaian angka yang bertambah dan berkurang di layar ponsel. Uang tidak berpindah tangan, melainkan berpindah data. Kita tidak lagi merasakan bobotnya, tidak mendengar gesekan lembaran-lembaran kertasnya, sering kali tidak benar-benar sadar berapa yang baru saja kita keluarkan. Yang ada hanya notifikasi singkat dan saldo yang berkurang, jauh lebih kompleks dibanding pengalaman membayar seperti dulu.

IKLAN

Perubahan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Menurut Martin Heidegger, dalam esainya yang terkenal yaitu ‘The Question Concerning Technology”, pernah mengingatkan bahwa teknologi tidak bisa dipahami sekadar sebagai alat netral. Ia membentuk bagaimana manusia memandang dan menjalani dunianya. Setiap kali teknologi baru hadir, ia tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi turut mengubah bagaimana kita mengalami hidup itu sendiri. Misalnya delman yang tidak sekadar mempercepat perjalanan orang zaman dahulu, tetapi juga mengubah cara mereka membayangkan jarak dan waktu tempuh. Hal serupa terjadi pada setiap teknologi yang lahir sesudahnya, termasuk yang kini ada di saku celana kita.

Gagasan ini cukup sederhana jika dikaitkan dengan hal-hal kecil dalam keseharian kita. Ambil contoh QRIS yang hadir sebagai solusi praktis mempercepat transaksi. Namun di balik kepraktisan itu, bagaimana kita memaknai aktivitas membayar itu sendiri. QRIS tidak sekadar menggantikan uang tunai dengan cara lebih cepat. Ia turut membentuk pengalaman baru tentang apa artinya bertransaksi hari ini.

Universitas Negeri Padang
Baca Juga

Mahasiswa KKN UNP Dorong UMKM Wisata Lubuk Batang Beralih ke Pembayaran QRIS

Mengapa kita sekarang jarang benar-benar merasakan proses mengeluarkan uang seperti dulu? Apakah kemudahan bertransaksi membuat kita makin jarang peka terhadap nilai dari uang yang kita belanjakan setiap hari? Pertanyaan ini terasa sepele, tetapi cukup penting tentang bagaimana kita hidup berdampingan dengan uang hari demi hari.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan menggiring pada kesimpulan bahwa pembayaran digital membawa dampak buruk. QRIS jelas memberi banyak manfaat nyata. Pedagang kecil di pasar maupun pinggir jalan bisa menerima pembayaran nontunai tanpa perlu mesin kartu yang mahal. Konsumen tidak perlu repot menyiapkan uang pas atau khawatir kehabisan kembalian saat sedang terburu-buru. Transaksi jadi lebih cepat, lebih tercatat, dan dalam banyak hal lebih aman dibanding membawa uang tunai dalam jumlah besar ke mana-mana. Bagi banyak orang, kehadiran e-wallet maupun m-banking membuat akses ke transaksi nontunai jadi jauh lebih mudah, cukup mengisi saldo dari minimarket atau warung terdekat. Hal ini menjadi lompatan besar dalam cara berdagang dan berbelanja yang sebelumnya sulit dibayangkan. Semua kemudahan ini nyata dan patut diapresiasi.

Meski begitu ada baiknya sesekali kita berhenti sejenak dan sadar bahwa teknologi tidak pernah benar-benar netral. Setiap alat yang kita pakai sehari-hari, sekecil apa pun, ikut membentuk cara kita berpikir dan merasakan dunia. Heidegger sendiri pernah mengingatkan, teknologi selalu membawa satu cara pandang tertentu, sekaligus menyembunyikan cara pandang yang lain. QRIS mengajarkan bahwa transaksi bisa selesai dalam hitungan detik, tapi ia juga menukar sedikit dari makna yang dulu kita rasakan dalam sebuah pertukaran nilai. Peristiwa kecil yang dulu melibatkan tangan, indra, dan kesadaran, kini bisa berlalu begitu saja hanya dengan satu kali pindai dan satu bunyi notifikasi. Konsekuensi ini tidak selalu buruk, hanya berbeda dari yang pernah kita kenal.

Perkembangan teknologi seperti QRIS adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern yang terus bergerak ke arah efisiensi. Yang mungkin perlu kita lakukan hanya sesekali sadar bahwa di balik kemudahan memindai kode dan mendengar bunyi notifikasi, ada perubahan kecil dalam cara kita memaknai uang dan pertukaran sehari-hari. Saat muncul notifikasi pembayaran berhasil lagi sehabis jajan batagor, mungkin ada baiknya kita berhenti sepersekian detik lebih lama, hanya untuk menyadari bahwa ada yang baru saja berpindah, meski wujudnya tak lagi terlihat oleh mata.

Di Era QRIS
Baca Juga

Di Era QRIS, Mengapa Rupiah Tunai Tetap Penting?

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/qris-dan-hilangnya-sensasi-membayar/96836/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 20.16 WITA

  • #Pembayaran QRIS

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Dari Fermentasi dan Inovasi ke Modernisasi: Mengangkat Nilai Jual Tempe melalui Teknologi Modern

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Pilihan Editor

  1. 1 Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro
  2. 2

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

  3. 3

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  4. 4

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

  5. 5

    Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.