Penulis: Zahra Sarifah Ainun
JurnalPost.com - Setelah kelas selesai, saya mampir ke kantin kampus untuk jajan batagor. Seperti biasa saya memesan seporsi batagor, menunggu sebentar sambil melihat penjualnya menggoreng dan memotong-motong dengan gerakan yang sudah dihafal luar kepala. Ketika pesanan sudah siap, saya tidak lagi merogoh dompet, menghitung lembaran uang, atau menunggu kembalian. Cukup buka aplikasi di ponsel, arahkan kamera ke kertas kotak-kotak hitam putih yang ditempel di meja kasir, tunggu sepersekian detik, lalu muncul notifikasi pembayaran berhasil. Selesai. Saya bahkan sudah mulai menyantap batagor sebelum benar-benar sadar bahwa saldo di e-wallet baru saja berkurang.
Pengalaman semacam ini pasti akrab bagi hampir semua orang. Membeli gorengan di pinggir jalan, belanja di pasar, jajan di warung, bahkan membayar seporsi ayam geprek di tempat langganan dekat kampus, semuanya kini bisa selesai dengan cara yang sama. Pindai kode QRIS, tunggu notifikasi, selesai. Tidak ada uang kertas berpindah tangan, tidak ada koin berdenting, tidak ada proses menghitung kembalian yang kadang bikin antrian sedikit lebih lama. Semua begitu lancar sampai kita jarang benar-benar berpikir apa sebenarnya yang sedang terjadi setiap kali melakukannya. Kita hanya tahu bahwa urusan sudah beres, tanpa sempat merasakan prosesnya secara utuh.
Dulu membayar selalu melibatkan sesuatu yang bisa disentuh. Uang sebagai benda fisik yang dikeluarkan dari dompet, dihitung dengan jari, lalu diserahkan ke orang lain. Ada jeda kecil untuk sadar bahwa kita baru saja melepas hal yang bernilai demi mendapat hal lain. Kembalian yang diterima pun nyata, bisa digenggam, bisa dihitung ulang. Bahkan sekadar melipat uang kertas dan memasukkannya ke saku adalah kebiasaan kecil yang diam-diam menegaskan, ada nilai yang baru saja berpindah tangan.
Saat ini sebagian besar proses itu berubah jadi rangkaian angka yang bertambah dan berkurang di layar ponsel. Uang tidak berpindah tangan, melainkan berpindah data. Kita tidak lagi merasakan bobotnya, tidak mendengar gesekan lembaran-lembaran kertasnya, sering kali tidak benar-benar sadar berapa yang baru saja kita keluarkan. Yang ada hanya notifikasi singkat dan saldo yang berkurang, jauh lebih kompleks dibanding pengalaman membayar seperti dulu.
Perubahan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Menurut Martin Heidegger, dalam esainya yang terkenal yaitu ‘The Question Concerning Technology”, pernah mengingatkan bahwa teknologi tidak bisa dipahami sekadar sebagai alat netral. Ia membentuk bagaimana manusia memandang dan menjalani dunianya. Setiap kali teknologi baru hadir, ia tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi turut mengubah bagaimana kita mengalami hidup itu sendiri. Misalnya delman yang tidak sekadar mempercepat perjalanan orang zaman dahulu, tetapi juga mengubah cara mereka membayangkan jarak dan waktu tempuh. Hal serupa terjadi pada setiap teknologi yang lahir sesudahnya, termasuk yang kini ada di saku celana kita.
Gagasan ini cukup sederhana jika dikaitkan dengan hal-hal kecil dalam keseharian kita. Ambil contoh QRIS yang hadir sebagai solusi praktis mempercepat transaksi. Namun di balik kepraktisan itu, bagaimana kita memaknai aktivitas membayar itu sendiri. QRIS tidak sekadar menggantikan uang tunai dengan cara lebih cepat. Ia turut membentuk pengalaman baru tentang apa artinya bertransaksi hari ini.
Mengapa kita sekarang jarang benar-benar merasakan proses mengeluarkan uang seperti dulu? Apakah kemudahan bertransaksi membuat kita makin jarang peka terhadap nilai dari uang yang kita belanjakan setiap hari? Pertanyaan ini terasa sepele, tetapi cukup penting tentang bagaimana kita hidup berdampingan dengan uang hari demi hari.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan menggiring pada kesimpulan bahwa pembayaran digital membawa dampak buruk. QRIS jelas memberi banyak manfaat nyata. Pedagang kecil di pasar maupun pinggir jalan bisa menerima pembayaran nontunai tanpa perlu mesin kartu yang mahal. Konsumen tidak perlu repot menyiapkan uang pas atau khawatir kehabisan kembalian saat sedang terburu-buru. Transaksi jadi lebih cepat, lebih tercatat, dan dalam banyak hal lebih aman dibanding membawa uang tunai dalam jumlah besar ke mana-mana. Bagi banyak orang, kehadiran e-wallet maupun m-banking membuat akses ke transaksi nontunai jadi jauh lebih mudah, cukup mengisi saldo dari minimarket atau warung terdekat. Hal ini menjadi lompatan besar dalam cara berdagang dan berbelanja yang sebelumnya sulit dibayangkan. Semua kemudahan ini nyata dan patut diapresiasi.
Meski begitu ada baiknya sesekali kita berhenti sejenak dan sadar bahwa teknologi tidak pernah benar-benar netral. Setiap alat yang kita pakai sehari-hari, sekecil apa pun, ikut membentuk cara kita berpikir dan merasakan dunia. Heidegger sendiri pernah mengingatkan, teknologi selalu membawa satu cara pandang tertentu, sekaligus menyembunyikan cara pandang yang lain. QRIS mengajarkan bahwa transaksi bisa selesai dalam hitungan detik, tapi ia juga menukar sedikit dari makna yang dulu kita rasakan dalam sebuah pertukaran nilai. Peristiwa kecil yang dulu melibatkan tangan, indra, dan kesadaran, kini bisa berlalu begitu saja hanya dengan satu kali pindai dan satu bunyi notifikasi. Konsekuensi ini tidak selalu buruk, hanya berbeda dari yang pernah kita kenal.
Perkembangan teknologi seperti QRIS adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern yang terus bergerak ke arah efisiensi. Yang mungkin perlu kita lakukan hanya sesekali sadar bahwa di balik kemudahan memindai kode dan mendengar bunyi notifikasi, ada perubahan kecil dalam cara kita memaknai uang dan pertukaran sehari-hari. Saat muncul notifikasi pembayaran berhasil lagi sehabis jajan batagor, mungkin ada baiknya kita berhenti sepersekian detik lebih lama, hanya untuk menyadari bahwa ada yang baru saja berpindah, meski wujudnya tak lagi terlihat oleh mata.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda