Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Di Era QRIS, Mengapa Rupiah Tunai Tetap Penting?

Di Era QRIS, Mengapa Rupiah Tunai Tetap Penting?

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
22 Juli 2026, 00.19 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Di Era QRIS
Gambar Ilustrasi  Transaksi Pakai QRIS atau Rupiah Tunai sama-sama penting untuk menjaga inklusi, ketahanan, dan kedaulatan sistem pembayaran nasional  : Sumber: Foto: AI Generated

Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah

JurnalPost.com - Beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi narasi tentang percepatan digitalisasi. Berbagai transaksi yang dahulu dilakukan secara tunai kini beralih ke kanal digital. Membayar makanan, membeli tiket, berbelanja di pasar modern, hingga berdonasi dapat dilakukan hanya melalui telepon pintar. Kehadiran QRIS, BI-FAST, dan berbagai inovasi sistem pembayaran membuat transaksi menjadi semakin cepat, mudah, dan efisien. Bahkan, volume transaksi QRIS pada Mei 2026 tercatat tumbuh 95,10 persen secara tahunan, sementara transaksi pembayaran digital nasional mencapai 5,22 miliar transaksi.

IKLAN

Melihat perkembangan tersebut, muncul anggapan bahwa era uang tunai perlahan akan berakhir. Sebagian bahkan membayangkan masa depan ekonomi Indonesia sepenuhnya berbasis digital. Namun realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Di tengah laju digitalisasi yang semakin pesat, kebutuhan masyarakat terhadap uang Rupiah tunai justru tetap tinggi. Bank Indonesia mencatat Uang Kartal yang Diedarkan mencapai Rp1.324 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 15,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Wabup Barru
Baca Juga

Wabup Barru Instruksikan ASN Wajib Gunakan QRIS dan Mobile Banking

Data tersebut mengandung pesan penting bahwa tunai dan digital bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Keduanya justru saling melengkapi dalam membangun sistem pembayaran yang inklusif dan berkelanjutan.

Sering kali diskusi mengenai digitalisasi dibangun atas asumsi bahwa seluruh masyarakat memiliki akses yang sama terhadap teknologi. Faktanya, Indonesia adalah negara kepulauan dengan tingkat perkembangan wilayah yang sangat beragam. Di kota-kota besar, pembayaran digital mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun di daerah perbatasan, kepulauan terluar, atau wilayah dengan keterbatasan jaringan internet, uang tunai masih menjadi alat transaksi utama yang paling mudah diakses.

Di sinilah makna inklusi menjadi penting. Sistem pembayaran yang baik bukan hanya yang paling modern, tetapi juga yang mampu melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Ketika seorang petani di daerah terpencil dapat melakukan transaksi menggunakan uang Rupiah dengan mudah, negara sesungguhnya sedang menjalankan fungsi dasarnya dalam memastikan seluruh warga negara memiliki akses terhadap alat pembayaran yang sah.

Keberadaan uang tunai juga memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar alat transaksi. Rupiah adalah simbol kedaulatan negara. Setiap lembar uang yang beredar tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mengandung identitas nasional. Melalui program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, Bank Indonesia terus mengajak masyarakat untuk memahami bahwa Rupiah bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol persatuan dan kedaulatan bangsa. Program edukasi tersebut bahkan terus diperkuat dalam berbagai kegiatan literasi yang dilakukan di seluruh Indonesia.

QRIS bayar
Baca Juga

QRIS Bikin Mudah, Tapi Kenapa Semua Belum Pakai?

Perspektif ini sering terlupakan ketika pembahasan hanya berfokus pada aspek teknologi. Digitalisasi memang penting, tetapi nilai strategis Rupiah sebagai simbol negara tidak dapat digantikan oleh aplikasi atau platform pembayaran apa pun.

IKLAN

Selain aspek inklusi dan kedaulatan, uang tunai juga memiliki fungsi penting dalam menjaga ketahanan sistem pembayaran nasional. Teknologi yang semakin canggih tetap memiliki risiko. Gangguan jaringan, gangguan listrik, serangan siber, hingga masalah teknis pada sistem dapat terjadi sewaktu-waktu. Dalam situasi seperti itu, uang tunai menjadi instrumen cadangan yang memastikan aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan.

Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa ketergantungan sepenuhnya pada sistem digital dapat menimbulkan kerentanan baru. Karena itu, bank sentral di berbagai negara tetap mempertahankan ketersediaan uang kartal meskipun digitalisasi berkembang sangat pesat. Pendekatan yang sama juga diterapkan oleh Bank Indonesia melalui penguatan sistem pembayaran digital sekaligus menjaga kecukupan pasokan uang Rupiah di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terdepan, terluar, dan terpencil.

Peran Bank Indonesia dalam konteks ini sering kali kurang mendapat perhatian. Publik lebih banyak mengenal Bank Indonesia melalui kebijakan suku bunga atau inovasi pembayaran digital. Padahal, salah satu tugas penting Bank Indonesia adalah memastikan masyarakat memperoleh uang Rupiah dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang layak edar. Tugas tersebut tidak sederhana mengingat Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik geografis yang sangat beragam.

Sumber: Pexels (pexels.com)
Baca Juga

5 Alasan Kenapa Solo Traveling ke Luar Negeri Sekali Seumur Hidup Itu Wajib

Distribusi uang ke daerah kepulauan, kawasan perbatasan, hingga wilayah pegunungan membutuhkan koordinasi logistik yang kompleks. Upaya tersebut menjadi bagian penting dari kehadiran negara dalam menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika masyarakat memperoleh akses terhadap uang yang layak edar, kepercayaan terhadap sistem pembayaran nasional juga semakin terjaga.

Menariknya, perkembangan digitalisasi justru membuat fungsi uang tunai menjadi semakin spesifik. Jika dahulu tunai menjadi pilihan utama dalam hampir semua transaksi, saat ini masyarakat memiliki keleluasaan untuk memilih instrumen pembayaran yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Untuk transaksi digital yang cepat dan efisien, QRIS dan BI-FAST menawarkan berbagai kemudahan. Untuk kebutuhan tertentu yang memerlukan fleksibilitas atau berada di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur digital, uang tunai tetap menjadi pilihan yang relevan.

Cara pandang seperti ini jauh lebih produktif dibandingkan mempertentangkan tunai dan digital. Masa depan sistem pembayaran Indonesia bukan ditentukan oleh kemenangan salah satu instrumen atas instrumen lainnya, tetapi oleh kemampuan keduanya untuk saling melengkapi. Digitalisasi tanpa inklusi akan meninggalkan sebagian masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan sistem pembayaran konvensional tanpa inovasi akan menghambat efisiensi ekonomi.

Karena itu, keberhasilan transformasi sistem pembayaran nasional tidak boleh diukur hanya dari jumlah transaksi digital yang terus meningkat. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika masyarakat di kota besar dapat menikmati kemudahan QRIS dan BI-FAST, sementara masyarakat di daerah terpencil tetap memperoleh akses terhadap uang Rupiah yang berkualitas. Keberhasilan juga tercermin ketika inovasi digital berjalan beriringan dengan penguatan literasi, pelindungan konsumen, dan pemerataan akses layanan keuangan.

Di tengah euforia ekonomi digital, keberadaan uang tunai sering dianggap sebagai bagian dari masa lalu. Padahal, bagi Indonesia yang luas dan beragam, Rupiah tunai tetap memiliki peran strategis yang tidak tergantikan. Digitalisasi memang mengubah cara masyarakat bertransaksi, tetapi kehadiran Rupiah dalam bentuk fisik tetap menjadi fondasi penting yang menjaga inklusi, ketahanan, dan kedaulatan sistem pembayaran nasional.HARI

[1] Tulisan merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan pandangan institusi tempat penulis bekerja

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/di-era-qris-mengapa-rupiah-tunai-tetap-penting/95985/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 19.14 WITA

  • #Pembayaran QRIS
  • #QRIS bayar

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Bertahan 15 Tahun, Usaha Katering Jajanan Ariani di Bojonegoro Kini Beromzet Rp14 Juta

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Luka Tersembunyi di Balik Senyumnya

Pilihan Editor

  1. 1 Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka
  2. 2

    Inovasi Kemasan Aktif dan Cerdas Berbasis Biopolimer Umbi-Umbian untuk Memperpanjang Umur Simpan dan Mengurangi Kerugian Pangan Pascapanen

  3. 3

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  4. 4

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  5. 5

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.